Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 28 Oktober 2012

diposkan pada tanggal 26 Okt 2012 20.40 oleh Essy Eisen
"Rabuni, supaya aku dapat melihat!"

Yeremia 31:7-9, Mazmur 126, Ibrani 7:23-28, Markus 10:46-52

Itulah yang dikatakan Bartimeus kepada Yesus, seorang pengemis buta kepada Yesus, saat ia ditanya oleh Yesus "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?". Jawaban Bartimeus itu adalah tindakan iman yang berkenan kepada Yesus. Di tengah-tengah perjalanan Yesus menuju Kalvari, saat murid-murid-Nya belum mampu melihat karya-Nya sebagai Mesias dengan utuh, karena acapkali mereka tidak percaya dan salah sangka tentang karya Yesus, Bartimeus yang walaupun buta secara fisik, memiliki mata rohani yang terang dan pengharapan yang sungguh kepada Kristus.

Bartimeus sepertinya sudah mendengar tentang Yesus sebagai Mesias, Sang “Anak Daud”, yang akan memberikan pemulihan bagi dunia. Oleh karena itu, saat Yesus lewat di depannya, ia tidak sungkan-sungkan berseru-seru, walaupun banyak orang menegornya. Bartimeus berani menyatakan imannya! Tidak heran orang menegor Bartimeus, daerah Yerikho adalah daerah domisili para imam-imam bait-bait Yerusalem. Menyebut Yesus sebagai “Anak Daud” dapat mengarah kepada penyepelean wibawa imam-imam yang saat itu dihargai dan dikenal sebagai pemimpin-pemimpin yang dituakan dan harus didengarkan.

Yesus memanggilnya. Segera saja ia berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Bagi seorang pengemis buta, jubah seperti sebuah perahu bagi nelayan. Bartimeus beresiko kehilangan “penopang” mata pencaharian. Tetapi itu tidak lagi berharga baginya jika dibandingkan dengan keselamatan hidup bersama Kristus. Sungguh sebuah tanda kemuridan yang serius. Saat ditanya apa yang hendak diperbuat baginya, Bartimeus meminta apa yang paling dibutuhkannya. Ia jujur mengakui segala kelemahannya di hadapan Kristus dan memohon Kristus memulihkannya. Imannya kepada Kristus telah menyelamatkannya. Apa selanjutnya? Markus mencatat demikian: “Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.” Bartimeus mengikuti jalan Kristus. Sudah diselamatkan, kini Bartimeus melayani Kristus, Sang Mesias penyelamat-Nya.

Bartimeus menjadi teladan bagi kita apa arti menjadi murid Kristus. Pada bagian sebelumnya dalam injil Markus ini kita melihat ambisi dua bersaudara Yakobus dan Yohanes yang saling berambisi untuk meniti karir dalam pemahaman yang keliru mengenai kerajaan yang akan dihadirkan Kristus. Mereka “buta” tentang makna “Kerajaan Allah” yang sedang dan akan Yesus hadirkan. Padahal Kerajaan Allah lebih dari sekadar kerajaan politis belaka. Melalui penyembuhan Bartimeus, murid-murid dan kita diajarkan bahwa Kerajaan Allah ialah sebuah suasana di mana nilai-nilai kasih Allah memulihkan kehidupan yang lemah, yang tersisih, supaya pada akhirnya setiap orang dapat hidup mengikuti jalan kasih Kristus.

Karena mata rohani yang celik, mata fisik Bartimeus dicelikan. Setelah sembuh, ia mengikuti jalan Kristus. Bagaimana dengan mata rohani kita? Bagaimana dengan segenap kelemahan kita? Kita yang sudah mendengar tentang Kristus, kita yang sudah dipanggil oleh Kristus, apakah tanggapan kita? Apakah kita memiliki kerendahanhati dan penyerahan diri seperti Bartimeus? Apakah Kristus sudah menjadi pemimpin setiap langkah kehidupan kita?

Fanny Crosby dapat melihat. Bukan dengan mata fisiknya. Sebab saat usianya 6 minggu, ia mengalami infeksi mata. Dokter keluarganya sedang ada di luar kota, dan seorang yang memposisikan sebagai dokter memberikan pengobatan yang tidak tepat kepadanya. Beberapa hari kemudian ia menjadi buta. Saat ia berusia 8 tahun, ia menuliskan puisi ini:

Oh, sungguh bahagianya diriku, meski aku tidak dapat melihat.
Aku selalu puas akan keadaanku.
Betapa banyak berkat yang aku nikmati yang tidak dinikmati orang lain.
Aku tidak bisa, dan tidak mau menangis serta mendesah.


Ketimbang merasa pahit dan mengasihani diri atau menyalahkan orang yang membuatnya buta, atau terus-terusan berada dalam kegelapan emosi dan spiritual, Fanny Crosby menggunakan talenta yang Allah berikan kepadanya dan menuliskan lebih dari 8,000 nyanyian gerejawi dan puisi yang memuji dan memuliakan Allah. Fanny Crosby melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Ia melihat kasih Allah kepadanya. Ia melihat dirinya berharga dan dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat. Fanny Crosby dapat melihat lebih banyak dari kita. Kristus telah mencelikan mata rohaninya. Bagimana dengan kita dan segala kelemahan kita? Apa yang menjadi jawab kita saat Kristus bertanya "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?"

(Pdt. Essy Eisen)
Comments