Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 28 Juli 2013

diposting pada tanggal 17 Sep 2013 22.44 oleh Essy Eisen
Didengar oleh Allah

Kejadian 18:20-32, Mazmur 138, Kolose 2:6-19, Lukas 11:1-13

Rangkaian doa “Bapa Kami” yang diajarkan Yesus ditempatkan dalam kerangka perumpamaan tentang seorang yang tengah malam kedatangan tamu dan tidak memiliki roti yang dapat dihidangkan kepada tamunya, sehingga ia mendatangi tetangganya yang sedang tidur. Sebenarnya tetangga tersebut malas bangun dan memberi bantuan. Tetapi karena orang tersebut tidak merasa malu untuk memperoleh kemurahan, maka tetangga tersebut akhirnya bangun dan memberi bantuan. Tetangga dalam perumpamaan tersebut merupakan gambaran diri Allah yang berbelas-kasih, yang mana belas-kasihan Allah tersebut dapat disentuh oleh sikap manusia yang selalu datang untuk memohon kepadaNya. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya” (Luk. 11:8). Tuhan Yesus mengajarkan agar kita selaku umat percaya mau bersikap rendah-hati dalam memohon sesuatu kepada Allah. Hakikat doa bukanlah untuk meminta kepada Allah berbagai hal yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi, ilmu pengetahuan dan kepandaian manusia. Tetapi kita meminta kepada Allah untuk lebih dimampukan menyadari keterbasan manusiawi. Sikap doa yang demikian, membuat doa menjadi jangkar dalam kehidupan karena kita bersedia mengikatkan diri secara kokoh kepada Allah yang sedang memproses hidup ini. Semakin kita tiada jemu berdoa kepada Allah dengan kesungguhan hati, maka sesungguhnya kita sedang mengolah hati dan roh ini seperti seorang petani yang berulang-ulang mengolah tanah di sawahnya sehingga tanah tersebut siap untuk ditanami.

Semakin kita mengenal Allah di dalam Kristus, semakin disadarkan akan kemurahan Allah. Sehingga dimampukan untuk mengenal Dia sebagai seorang Bapa yang memperlakukan diri kita sebagai anak-anakNya. Dengan demikian kita mencari Dia bukan karena kita tidak memperoleh apa yang belum dipikirkan oleh manusia dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Tetapi kita mencari dan memohon kepada Allah, karena Dia adalah Bapa kita. Kita juga dipanggil meminta dalam doa kepada Allah, karena Allah adalah satu-satunya sumber hikmat, pengetahuan, keselamatan, damai-sejahtera dan kebenaran sehingga seluruh hasil ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan wujud dari kasih-karuniaNya.

Karena itu sifat permohonan doa kita haruslah suatu permohonan yang transformatif, yaitu kerinduan yang terus-menerus untuk mengubah dan membarui hidup kita. Permohonan kita kepada Allah bukanlah seberapa banyak berkat yang kita butuhkan, tetapi seberapa besar komitmen kita untuk mempermuliakan namaNya.
Dengan demikian tujuan utama dari doa adalah menempatkannya sebagai jangkar yang kokoh untuk melabuhkan hidup kita dalam kendali tangan Allah.

Bagaimanakah sikap kita dalam relasi dengan Allah selama ini?
  • Apakah kita memperlakukan Allah sebagai obyek untuk memuaskan berbagai keinginan dan kebutuhan kita?
  • Ataukah kita memperlakukan Allah sebagai Bapa yang mengasihi kita dengan kemurahanNya yang melampaui seluruh akal dan pengetahuan kita?

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))

Comments