Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 28 April 2013

diposkan pada tanggal 26 Apr 2013 19.23 oleh Essy Eisen
Perintah Baru : Saling Mengasihi!

Kisah Para Rasul 11:1-18, Mazmur 148, Wahyu 21:1-6, Yohanes 13:31-35

Ada orang yang suka membeda-bedakan sesamanya dan menanggap dirinya paling benar, paling baik dan paling istimewa dibandingkan yang lain. Sikap seperti itu bukan saja tidak baik, tetapi hanya akan membuat dunia dipenuhi sekat-sekat egosentrisme diri yang berujung pada kebencian dan permusuhan.

Pernah terjadi, pada masa gereja perdana, pengikut Kristus dari golongan bersunat (yang masih memegang teguh adat istiadat agamawi Yahudi) memprotes Petrus. Mereka berpendapat bahwa tidak boleh seorang Yahudi masuk ke dalam seorang bukan Yahudi (golongan tak bersunat). Mereka menyalahkan Petrus karena telah masuk ke rumah perwira pasukan Italia (seorang yang bukan Yahudi) bernama Kornelius dan makan bersama-sama dengan dia. Di sini kita mendapati pengikut Kristus yang telah menunjukkan perilaku yang menutup diri.

Namun ternyata kita mendapati bahwa apa yang dialami Petrus di sekitar peristiwa itu sungguh mengubahkan pendapat yang keliru itu. Petrus menemukan kenyataan bahwa kepada bangsa-bangsa lain, Allah juga mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup! (Kis 11:1-18) Petrus tentu ingat bahwa sebelum “berpisah” dengan murid-murid-Nya, Yesus memberikan perintah baru yaitu untuk mengasihi sesama seperti Yesus telah mengasihi mereka. (Yoh 13:31-35) Salah satu bentuk nyata dari mengasihi sesama ialah dengan menunjukkan sikap hidup yang tidak menutup diri kepada orang lain.

Visi yang didapat oleh Yohanes di pulau Patmos, yang dicatat di dalam kitab Wahyu 21:1-6 juga mengarahkan perhatian kita akan hadirnya langit dan bumi yang baru di mana persekutuan kasih yang akrab dan erat terjadi antara Allah dan umat, serta antara pribadi yang satu dengan yang lainnya. Di sana kasih menjadi begitu kentara dan nyata. Di sana ungkapan pujian kepada Tuhan sungguh-sungguh menjadi pujian yang benar, yang tidak kosong, sebab kasih menjadi dasar dalam ungkapan syukur mereka.

Sebagai gereja Tuhan Yesus Kristus, saat ini kita dipanggil untuk menghidupi kasih yang telah diteladankan Tuhan Yesus. Kasih yang berkorban. Kasih yang selalu memberi. Kasih yang memberikan kehidupan dan kesempatan baru bagi yang lain. Kasih yang suci. Kasih yang tanpa pamrih. Kasih yang tiada henti. Kala ini kita hidupi dalam proses yang terus menerus baru setiap hari, kita menjadi murid Yesus yang dikenal karena kasih-Nya. Gereja saat ini tidak boleh jatuh ke dalam kekeliruan seperti saat gereja perdana dahulu salah dalam menilai tindakan Petrus. Kita terus belajar untuk disempurnakan oleh kuasa kasih Kristus. Belajar untuk mengasihi seperti Kristus berarti mau menjalankan kasih dan bukan sekedar membicarakan tentang kasih. Kasih bukan sekadar perasaan, kasih harus berbuahkan dalam tindakan.

Paulus mengungkapkan nasihat yang patut disimak tentang kasih dalam 1 Korintus 13:1-7 (BIS-LAI) demikian: “Meskipun saya dapat berbicara dengan berbagai bahasa manusia, bahkan dengan bahasa malaikat sekalipun, tetapi saya tidak mengasihi orang lain, maka ucapan-ucapan saya itu hanya bunyi yang nyaring tanpa arti. Meskipun saya pandai menyampaikan berita dari Allah, dan mengerti semua hal yang dalam-dalam, dan tahu segala sesuatu serta sangat percaya kepada Allah sehingga dapat membuat gunung berpindah, tetapi saya tidak mengasihi orang-orang lain, maka saya tidak berarti apa-apa!

Meskipun semua yang saya miliki, saya sedekahkan kepada orang miskin, dan saya menyerahkan diri saya untuk dibakar, tetapi saya tidak mengasihi orang-orang lain, maka semuanya itu tidak ada gunanya sama sekali.

Orang yang mengasihi orang-orang lain, sabar dan baik hati. Ia tidak meluap dengan kecemburuan, tidak membual, tidak sombong. Ia tidak angkuh, tidak kasar, ia tidak memaksa orang lain untuk mengikuti kemauannya sendiri, tidak juga cepat tersinggung, dan tidak dendam. Orang yang mengasihi orang-orang lain, tidak senang dengan kejahatan, ia hanya senang dengan kebaikan. Ia tahan menghadapi segala sesuatu dan mau percaya akan yang terbaik pada setiap orang; dalam keadaan yang bagaimanapun juga orang yang mengasihi itu tidak pernah hilang harapannya dan sabar menunggu segala sesuatu.”

(Pdt. Essy Eisen)
Comments