Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 27 Pebruari 2011

diposkan pada tanggal 22 Feb 2011 11.59 oleh Essy Eisen
Keintiman dan pemeliharaan Ilahi


Yesaya 49:8-16a, Mazmur 131, 1 Korintus 4:1-5, Matius 6:24-34


Keintiman dan pemeliharaan ilahi adalah jiwa dari pembacaan leksionari minggu ini. Allah dekat: sedekat hembusan nafas kita dan hadir bersama kita dalam setiap situasi kehidupan. Allah turut merasakan sukacita dan dukacita kita, dan dengan kasih-Nya terlibat dalam tantangan kehidupan kita. Allah tidak akan meninggalkan kita. Kesadaran akan penyertaan Allah itu akan memampukan kita untuk setia di dalam panggilan kita untuk membagikan kabar baik-Nya yang menyembuhkan kita dan orang lain. Iman yang seperti itu menjadi dasar keberanian kita untuk tetap bertumbuh dan mengalami pemulihan pribadi, seraya terus memperbarui komitmen kita untuk menjadi rekan kerja Allah dalam menegakkan keadilan dan melakukan penyembuhan yang utuh dalam lingkup yang semakin luas.

Yesaya 49 akan mengingatkan kita pada puisi “Jejak Kaki”, yang mengungkapkan keluhan seseorang akan ketidakhadiran Allah saat hidupnya susah untuk kemudian pada akhirnya menemukan bahwa pada jejak kaki yang kelihatan seolah-olah dia sendirian itu, Allah sedang menggendongnya menyusuri pantai. Komunitas Yesaya merasa ditinggal Allah dalam situasi yang sulit. Tetapi Allah memberikan janji-Nya kepada mereka akan perjanjian-Nya yang kekal adanya. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yes. 49:15-16)

Allah berkenan intim dengan kita. Allah bukanlah Allah jika tanpa kehadiran kita. Pemazmur (Mzm 131), mengungkapkan Allah yang turut bekerja bersama kita. Semua ciptaan menemukan tempat tinggal yang abadi di dalam Allah. Allah berkarya dalam situasi kehidupan kita yang berat sebagai sahabat yang menyembuhkan, menghargai kreatifitas dan kebebasan kita. Bahkan jika kita melupakan Allah, Allah tidak akan melupakan kita. Bersama dengan pemazmur kita dapat meneduhkan jiwa kita, karena Allah, seperti Ibu yang baik, bersedia untuk menyapih kita berbaring di dekat-Nya. Allah menjawab tangisan-tangisan kita dan menyediakan perlindungan, pencerahan dan kedamaian dalam perjalanan hidup kita.

Kata-kata Paulus kepada Gereja Korintus mengungkapkan bahwa Allah mengenal secara intim dan penuh kasih setiap pribadi umat-Nya. Paulus tidak sekonyong-konyong membayangkan bahwa Allah mengetahui masa depan atau menetapkan kejadian-kejadian dalam kehidupan kita secara serampangan, tetapi Allah sungguh mengenali pribadi kita sebagaimana adanya dengan kecenderungan bias kita memahami kasih. Karena keintiman Allah itu, kita tidak perlu menghakimi diri sendiri atau hidup dengan perasaan bersalah atau malu saat kita menilik ulang kesalahan dan kekeliruan kita. Mengetahui bahwa kita dikenal Allah dengan baik maka kita dimampukan untuk menerima diri kita sendiri dan terbuka kepada kemungkinan-kemungkinan baru menuju transformasi pribadi dan lingkungan kita.

Pembacaan Injil, yang merupakan bagian Kotbah di Bukit, memberikan tanggapan yang jelas terhadap suasana hati kita yang kadangkala dilanda kekuatiran mengenai hidup masa kini dan yang akan datang. Menjadi nyata, bahwa ternyata Allah memelihara segala sesuatu mulai dari yang besar sampai yang kecil, termasuk burung-burung dan bunga. Apakah Allah tidak akan memelihara kita juga? Tujuan akhir kita ada dalam pemeliharaan Allah: pelabuhan abadi kita ialah keintiman dalam kasih Allah. Allah mengetahui kebutuhan terdalam kita dan Ia akan berkarya dalam setiap pengambilan keputusan dan peristiwa kehidupan kita untuk menyediakan jalan menuju kepada kepenuhan hidup.

Saat kita terpenjara di dalam pergumulan hidup kita pada masa kini, kita tidak dapat melihat lebih jauh selain tekanan dan kekuatiran belaka. Tetapi, saat kita melihat kehidupan kita melalui cara pandang Allah, segala sesuatu yang menakutkan kita akan kehilangan pengaruhnya dalam mengendalikan kehidupan kita. Memang, perkara ekonomi, pekerjaan dan masalah hubungan dengan sesama penting, tetapi masih ada yang jauh lebih penting. Sebagaimana Paulus mengungkapkan dalam Roma 8:39, Hal-hal itu.. tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Kotbah di Bukit mengundang kita untuk hidup pada masa kini yang kita amini kudus adanya. Saat kita masih dapat merencanakan hal-hal bagi masa depan kita, rencana kita itu bergantung pada kepercayaan kita kepada pemeliharaan Allah yang tidak terbatas. Kita dapat menempatkan kekuatiran dan rencana kita dalam pemeliharaan Allah, karena kasih Allah untuk kita kekal adanya. Saat kita menuju masa penghayatan Pra Paska, penting untuk diketahui bahwa ternyata sangat mungkin menghadapi godaan-godaan dan tantangan-tantangan yang menerpa kehidupan kita karena sejatinya, kita dikasihi, diterima dan dipelihara oleh Allah.

Bruce Epperly
Comments