Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 27 Nopember 2011

diposting pada tanggal 2 Des 2011 07.15 oleh Essy Eisen   [ diperbarui28 Des 2011 07.49 ]
Sibuk Apa Sekarang?

Yesaya 64:1-9; Mazmur 80:1-7, 17-19; I Korintus 1:3-9; Markus 13:24-37

Minggu ini adalah awal tahun dari siklus kalender gerejawi. Minggu-minggu Adven selalu menggemakan ajakan untuk serius dan waspada menghitung hari-hari dengan bijaksana sebagai karunia Allah yang harus diisi dengan karya-karya yang bertanggungjawab. Pertobatan adalah kata kuncinya. Umat Allah ditantang untuk memeriksa kehidupannya, meninggalkan perilaku buruk dan menggantinya dengan kebaruan hidup dengan pertolongan Roh Kudus.

Pada Adven yang pertama ini kita semua menghadapi pertanyaan ini: “Sibuk apa sekarang?” Pertanyaan ini dapat kita jawab dengan mudah. Kita sibuk mempersiapkan Natal. Kita sibuk dengan rutinitas akhir tahun. Kita sibuk dengan pekerjaan keseharian kita. Kesibukan-kesibukan itu patut disyukuri, sebab kalau kita sibuk, itu berarti kita berdinamika, berproses, berinteraksi dengan sesama dan lingkungan lintas komunitas. Namun di balik syukur itu, kita semestinya juga sadar untuk tetap bijaksana memaknakan kesibuan kita dengan kearifan. Sebab rutinitas dan kesibukan tanpa makna menandakan pertumbuhan spiritual yang tidak kemana-mana.

Dalam cara pandang iman, waktu yang kita isi dengan kesibukan adalah juga waktu yang kita jalani sebagai penantian kegenapan Kerajaan Allah melalui kedatangan Kristus kembali. Tuhan Yesus mengajak kita untuk peka melihat tanda-tanda zaman (Mrk 13:24-37). Para pengikut-Nya diajak untuk terus menanti kedatangan-Nya dengan aktif melakukan karya kasih di mana ada kejahatan dan keburukan. Dengan meningat nasihat Rasul Paulus bagi jemaat Korintus, setiap umat Allah diingatkan untuk tidak menjadi lengah (1 Kor 1:3-9). Acapkali potensi-potensi baik yang dikaruniakan Allah tidak digunakan pada waktu yang tepat dan di tempat yang benar. Umat Allah dapat menjadi lengah saat kesusahan dan tekanan hidup melemahkan iman dan menghilangkan semangat untuk menanti kedatangan-Nya dengan aktif.

Oleh sebab itu, dalam sukacita Adven pertama ini, biarlah kita semua tetap memaknakan kesibukan kita dengan makna yang benar sesuai dengan semangat penghayatan Adven. Kita harus mengimani kedatangan-Nya kembali, dengan sikap aktif dan arif. Biarlah tindakan-tindakan pembaruan kehidupan (pertobatan) sungguh-sungguh kita lakukan untuk semakin peduli melakukan kasih kepada orang lain. Biarlah segala kebaikan Allah yang telah dikaruniakan-Nya untuk kita, tetap tersalurkan melalui kehadiran kita bagi setiap orang yang membutuhkan. Tentu di samping itu, dalam segala tantangan dan kesusahan hidup, kita percaya, Allah terus berkarya menunjukan dan menyatakan kebaikan-Nya sesuai dengan waktu-Nya kepada orang yang setia beriman, berharap dan setia mengasihi-Nya. Maranatha.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments