Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 27 Juli 2014

diposkan pada tanggal 31 Jul 2014 22.54 oleh Admin Situs
Ikatan Perjanjian Allah Dengan Manusia

Kejadian 29:15-28, Mazmur 105:1-11, 45, Roma 8:26-39, Matius 13:31-33, 44-52

Komitmen adalah kesetiaan untuk memegang janji yang sudah diucapkan. Komitmen diuji oleh waktu dan keadaan. Biasanya komitmen dapat hilang jika seseorang mengalami apa yang buruk dalam kehidupannya, sehingga ia menjadi putus asa. Komitmen juga dapat hilang jika seseorang mengalami apa yang menyenangkan dan baik dalam hidup, tetapi apa yang menyenangkan dalam hidup itu justru terjadi bila ia melanggar komitmen. Pada saat itu terjadi, ia tidak lagi memiliki integritas, kesesuaian antara apa yang diucapkan dan dihidupi. Komitmen ia anggap sepi.

Hidup tanpa komitmen dan kesetiaan adalah hidup yang ujungnya kesusahan. Bayangkan jika seorang pekerja tidak melakukan pekerjaannya sesuai dengan apa yang disepakati. Bayangkan jika suami dan istri memandang remeh komitmen kesetiaan untuk saling mencintai seumur hidup. Bayangkan jika seorang anak muda hidup semaunya tanpa memiliki kesetiaan kepada nasihat orang tuanya. Bayangkan jika seorang pejabat publik yang berjanji melayani orang banyak, tetapi melanggar janji karena ingin menikmati kesenangan sendiri dan kelompoknya saja. Kita semua harus menghidupi komitmen dan kesetiaan. Hidup tanpa integritas adalah hidup yang rapuh.

Minggu lalu kita mencermati kehidupan Yakub dalam “pelarian”. Dalam “pelarian” itu Yakub mengalami perjumpaan dengan Allah melalui pengalaman spiritual yang akhirnya mengubahkan kehidupannya. Kini dalam bacaan Minggu ini, kita kembali melihat kehidupan Yakub selanjutnya. Dalam pimpinan Allah, ia membangun keluarga bersama Rahel yang dicintainya, sekalipun untuk itu ia harus bekerja 14 tahun bersama dengan Laban. Berkat Allah menolong Yakub bekerja dengan tekun dan menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Berkat Allah juga yang menjadikan Yakub memiliki banyak ternak, dan bahkan ia berhasil melepaskan diri dari jeratan Laban setelah bekerja total selama 21 tahun bersamanya.

Demikianlah Allah setia dengan janji-Nya yang diikat bersama dengan anak-anak-Nya. Paulus menjelaskan bahwa ikatan perjanjian dengan Allah ialah ikatan cinta kasih, yang akan mendatangkan kedamaian dan kebaikan. Allah selalu dapat diandalkan dalam perjanjian karena Allah selalu memegang teguh perjanjian-Nya. Penderitaan bahkan maut sekalipun tidak akan melepaskan ikatan tersebut. Tidak akan sia-sia setiap orang yang meyakini rancangan Allah yang baik dan mau taat kepada Firman Allah.

Perjanjian dengan Allah itu enak. Sebab Allah tidak pernah sekalipun bermaksud buruk terhadap anak-anak yang dikasihi-Nya. Memang perjanjian itu tidak mudah. Tetapi justru di sinilah letak kekuatannya. Apa-apa yang mudah biasanya tidak berkualitas. Kualitas selalu lahir dari kerja keras dan ketekunan untuk mengerjakan sebaik-baiknya apa yang seharusnya dan bukan sekadar apa yang diinginkan. Selain itu perjanjian dengan Allah itu indah. Mengapa indah? Sebab Allah mendasarkan perjanjian-Nya dengan cinta kasih dan bukan dengan amarah dan kekerasan. Ada ketegasan tentunya, tetapi ketegasan Allah selalu untuk kebaikan manusia. Ketegasan yang berangkat dari cinta kasih selalu berujung pada kesembuhan. Seperti obat yang pahit, tetapi memberikan kesehatan.

Minggu ini bangsa kita mendapatkan Presiden dan Wakil Presiden yang baru. Ini menjadi momen bagi kita juga untuk bersama-sama dengan mereka beserta para wakil kita di parlemen yang telah kita pilih untuk membangun bangsa yang kita cintai ini. Minggu ini juga tidak terasa kita sudah melewati paruh kedua tahun 2014. Masih ingatkah kita akan janji perubahan hidup di awal tahun lalu? Atau bagi yang sudah berkeluarga, masih ingatkah saudara akan janji-janji saudara di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya saat menikah dahulu?

Karena kasih-Nya, Allah tidak pernah akan memutuskan ikatan perjanjian yang sudah dibuat-Nya dengan kita yang percaya. Jangan pernah melarikan diri dari kasih sayang Allah dan menyerahkan diri kita kepada kejahatan dan kebodohan dosa. Perbaruilah terus komitmen, janji, kesetiaan kita kepada Allah yang dapat kita lakukan setiap hari dalam waktu teduh kita. Saat Firman-Nya kita baca, hidupilah kebenaran-kebenaran yang ada di dalamnya dalam setiap karya hidup kita. Dalam ikatan perjanjian dengan Allah yang terus kita hidupi dan ingat itu, kita akan dimampukan-Nya juga untuk menghidupi komitmen yang kita bangun dengan sesama kita. Nantikanlah karya indah yang Allah sediakan pada waktu-Nya, sebab Allah setia!

(Pdt. Essy Eisen)
Comments