Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 26 Februari 2012

diposkan pada tanggal 24 Feb 2012 07.40 oleh Essy Eisen
Karya Kristus adalah bukti bahwa janji ilahi digenapi

Kejadian 9:8-17, Mazmur 25:1-10, 1 Petrus 3:18-22, Markus 1:9-15

Dahulu kala Allah sudah berjanji. Tidak akan lagi pembinasaan manusia menjadi pilihan satu-satunya. Allah ternyata lebih menghendaki pendamaian bagi manusia. Pelangi membusur di langit menandakan janji itu. (Kej 9:8-17)

Adalah baik bagi orang beriman untuk tetap memegang janji Allah. Sebab hanya Dialah yang berkuasa mengatasi segalanya. Kepada Allah kita boleh datang memohon penyertaan. Penyertaan-Nya jelas dalam Firman-Nya, yang antara lain tertulis dalam kitab suci. Mazmur 119 menegaskan hal itu. Dengan membaca, mengerti, mendapatkan hikmat-Nya, kita mendapatkan arah yang jelas dari Allah. Ada banyak godaan zaman yang dapat membelokan arah hidup kita. Iklan di TV, nilai-nilai hidup yang instan, bahkan nilai-nilai hidup yang mengejar kesenangan belaka. Belum lagi saat kita harus mengambil keputusan bisnis. Ingatlah, bahwa Allah sudah mengajar kita untuk tetap rendah hati. Setialah pada jalan-Nya yang memberikan makna kehidupan sejati (Mzm 25:1-10)

Dalam iman kita mengaku dengan tegas, bahwa kabar baik yang Allah hadirkan dalam Kristus memberikan keselamatan. Kemenangan iman bukan saja milik para pendahulu iman kita, tetapi juga dapat kita miliki sekarang ini. Kristus berkuasa atas segala yang hidup. Kristus sudah melampaui maut. Ini memberikan kelegaan baik di kala kita hidup, maupun saat kita menghadapi kematian kita. Selagi kita hidup, kita harus manfaatkan kesempatan ini. Menyambut dan menerima Kristus berkuasa di dalam hati, pikiran dan perilaku hidup kita.

Petrus menjelaskan bahwa keselamatan Nuh dari banjir besar menyimbolkan pembaptisan. Sebuah ritual suci yang melibatkan air. Dalam pembaptisan kita menyatukan, mengidentifikasikan diri dengan Yesus Kristus. Hidup lama lenyap, hidup baru diberikan. Baptisan adalah tanda perjanjian saja. Tetapi di dalamnya ada iman kita yang mengingat kematian dan kebangkitan Kristus. Kita ingat kemenangan iman yang dikaruniakan Allah. Kemenangan iman itu menyelamatkan. Dalam baptisan ada transformasi diri (Rm 6:3-5; Gal 3:27; Kol 2:12). Saat kita mengidentifikasikan diri bersama Kristus melalui pembaptisan, kita dikuatkan untuk tidak kembali kepada kehidupan lama. Kita dimampukan setia walau menghadapi tantangan. Kita kini memiliki jati diri yang baru, yang diketahui publik, melalui pembaptisan itu (1 Petrus 3:18-22).

Yohanes pembaptis memberikan baptisan sebagai tanda orang bertobat dari dosa-dosanya. Mengapa Yesus memberi diri dibaptis oleh Yohanes? Para nabi besar seperti Yesaya, Yeremia, Yehezkiel mengaku keberdosaan mereka. Tetapi Yesus tidak berdosa. Dia tidak perlu pengampunan dosa. Tetapi ia mau dibaptis di awal pelayanan-Nya. Ia mendukung dan menghargai pelayanan Yohanes. Dan yang jauh lebih tegas, Yesus mau mengidentifikasikan diri, mau menjadi sama dengan keberdosaan manusia. Sungguh sebuah kerendahan hati yang perlu kita teladani sebagai pengikut Kristus. Solidaritas kepada yang kesusahan. Perlu diingat bahwa baptisan Yohanes berbeda dengan baptisan Kristen dalam kehidupan gereja sebab, dalam kitab suci kita melihat ada murid-murid Yohanes yang mengikut Paulus, dibaptiskan lagi (Kis 19:2-5).

Saat dibaptis, Roh seperti burung merpati turun kepada Yesus. Ada suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Ini adalah sebuah penegasan yang jelas dari Allah Tritungal bagi dunia. Selanjutnya Yesus meninggalkan orang banyak, pergi ke padang gurun. Dia dicobai Iblis. Pencobaan itu tidak menguasai Yesus (Mat 4:1-11). Pencobaan itu bukan hal yang buruk. Pencobaan menjadi buruk kalau kita lemah, menyerah dan kalah. Orang yang imannya dewasa berani menghadapi ujian iman. Orang itu mencari tahu apa yang ingin Allah ajarkan melalui kehidupan yang berat itu. Dalam penyertaan-Nya, orang itu dimampukan untuk menang. Kepada yang percaya, Kristus akan menyertai dalam menghadapi godaan. Dia menang atas pencobaan, dan menolong orang untuk dapat juga menang atas pencobaan (Ibr 4:15).

Jelas bagi kita, pada Minggu Prapaska 1 ini, bahwa janji ilahi sudah digenapi melalui kehadiran Kristus. Melalui karya-Nya, Ia menunjukkan kuasa Allah yang memerintah sebagai Raja. Yesus datang untuk yang tertindas, tertekan, tanpa harapan, untuk menawarkan pembebasan, keadilan dan pengharapan baru. Kita pengikut-Nya sudah menerima janji itu dan dimampukan melanjutkan karya Kristus bagi dunia ini melalui karya kehidupan yang baru karena kita sudah didamaikan-Nya. (Pdt. Essy Eisen)
Comments