Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 26 Agustus 2012

diposkan pada tanggal 22 Agt 2012 22.24 oleh Essy Eisen
Setia ikut Kristus untuk melayani bersama Gereja-Nya

Yohanes 6:56-69

Janji yang sudah diucapkan dan terus menerus diingat serta dilakukan dengan segenap daya dan upaya dinamakan komitmen. Tanpa komitmen, janji hanya sekedar di bibir saja. Komitmen yang setengah hati, biasanya hanya akan mengingat janji dalam situasi yang menyenangkan saja dan akan melupakannya saat situasi sulit. Tanpa komitmen, tidak ada yang namanya kasih sejati. Tanpa komitmen, relasi yang terjalin sifatnya semu, penuh dengan kepura-puraan dan pamrih.

Komitmen itu penting. Dalam melakukan pekerjaan, dalam mengelola pernikahan dan keluarga yang harmonis, dalam menjaga kesehatan, dalam melakukan peran sebagai warga negara, dll. Tentu yang tidak boleh dilupakan juga ialah terkait komitmen kepada Allah, yang di dalam Tuhan Yesus Kristus telah menyapa kita dengan karya-Nya yang utuh dan menyelamatkan. Komitmen kepada Kristus memberikan kepada kita kehidupan yang sejati dengan makna yang berkualitas.

Setelah Kristus mengadakan banyak mujizat di Kapernaum (menyembuhkan hamba perwira, menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan, memulihkan anak perempuan Yairus, menjamu ribuan orang lapar dengan roti dan ikan), tiba bagi Kristus untuk mengajak murid-murid-Nya, berproses untuk menyelami karya-Nya dengan utuh. Yesus seolah-olah menguji mereka dengan sebuah diskusi teologi yang dalam untuk mempermurni motivasi mereka.

Yesus bicara soal “daging-Nya” dan “darah-Nya”. Kita sudah paham sebagaimana disinggung pada minggu lalu, bahwa dengan membicarakan hal itu, Yesus mengharapkan mereka semua menerima-Nya dengan serius, untuk menjadi satu dengan-Nya, sehingga segenap pikiran, jiwa, hati, tingkah laku mencerminkan kasih-Nya. Yesus menantang komitmen mereka untuk setia dan tekun mengikuti-Nya. Mereka harus melangkah maju dalam belajar menjadi murid-murid-Nya. Ada yang berharga yang disediakan-Nya, yang adalah karunia Allah, untuk melengkapi hidup manusia yang fana di dunia ini. Dalam kebersatuan dengan Kristus, murid-murid dimampukan untuk menghadirkan Kristus dengan kuasa karya kasih-Nya melalui kehidupan mereka masing-masing di mana saja.

Tetapi rupanya banyak dari murid-murid tidak tertarik. Rasanya mereka ingin beroleh untung tanpa usaha. Bagian yang mudah sudah lewat dan mereka enggan melangkah maju. Komitmen pada nilai-nilai Kerajaan Allah yang dihadirkan Kristus dirasakan sulit untuk ditekuni. Apa yang diucapkan Yesus tidak begitu menyenangkan bagi telinga dan nyaman untuk diikuti. Kalau meminjam kata-kata Paulus, banyak yang memilih nafsu “kedagingan” belaka. Penginjil Yohanes mencatat: “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” (Yoh. 6:66).

"Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yoh. 6:67). Demikian tanya Yesus kepada 12 murid-murid-Nya. Tetapi lalu Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." (Yoh. 6:68-69). Sesuai namanya. Petrus, batu karang, pendiriannya tegas. Memang pada beberapa kesempatan ia pun bisa goyah, tetapi terkait dengan ajakan Kristus, Petrus terbilang “keras kepala” dalam arti yang positif. Mewakili 12 Murid-murid, ia menyatakan komitmen mereka, untuk setia ikut Kristus. Untuk melanjutkan karya kasih-Nya bagi dunia.

Setiap kita merayakan Perjamuan Kudus, kita mengingat kehadiran kuasa Kristus dalam hidup kita. Bukan itu saja, Gereja, kata Paulus, adalah kenyataan tubuh Kristus di dunia ini (1 Kor. 12:27). Di dalam dan bersama Gereja-Nya, kita mempersatukan diri dengan Kristus yang hadir melalui Roh dan Firman-Nya. Kita “memakan daging Kristus” dengan mempersilahkan Kristus membarui kemanusiaan kita. Kita “meminum darah Kristus” dengan mempersilahkan Kristus membarui jiwa kita. Terpujilah Kristus! Di HUT GKI ini, bersama dengan Simon Petrus dan Murid-murid Kristus, kita kembali mempermurni dan menegaskan komitmen kita untuk setia mengikut Kristus dengan melaksanakan tugas dan panggilan kita sebagai Gereja-Nya dengan serius karena anugerah-Nya.

Ingatlah bahwa:
  • Orang yang berkomitmen adalah orang yang setia dan tekun. 
  • Orang yang berkomitmen adalah orang yang mau belajar dan berproses. 
  • Orang yang berkomitmen adalah orang yang akan mendapat kepercayaan. 
  • Orang yang berkomitmen akan mendapatkan buah dari apa yang dipercayakan kepadanya.
(Pdt. Essy Eisen)
Comments