Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 25 Maret 2012

diposting pada tanggal 23 Mar 2012 05.33 oleh Essy Eisen
Emas Murni Tidak Takut Api

Yeremia 31:31-34, Mazmur 51:1-12, Ibrani 5:5-10, Yohanes 12:20-33

Ada peribahasa Tiongkok yang berbunyi 纯金不怕火(Chún jīn bùpà huǒ) yang berarti: “Emas murni tidak takut kepada api”. Emas biarpun ada di tempat sampah sekalipun, tetaplah emas. Ia tidak terpengaruh lingkungan. Bahkan emas tidak akan menghindari api, sebab api akan memurnikan emas. Hikmat dari peribahasa itu jelas. Kekuatan karakter seseorang teruji dalam karya hidup dalam dunia nyata yang acapkali penuh tantangan dan tidak selalu mudah, bak dibakar dengan api. Namun karena ia memiliki pegangan yang kokoh dalam kehidupannya, segala tantangan itu dihadapinya dengan tekun dan sabar, tahan derita, demi pembaruan karakter yang kian kokoh laksana emas yang murni berangkat dari hati yang bijaksana.

Dalam hidup orang beriman, pegangan yang kokoh dan hati yang bijaksana itu berasal dari Allah saja. Allah telah menggagas perjanjian yang baru. Ada saat di mana kuasa-Nya akan membarui hati manusia (Yer. 31:31-34). Bukan berarti perjanjian yang lama itu usang dan ditingalkan. Allah menghendaki pembaruan kehidupan yang sejati berangkat dari dalam menuju ke luar diri. Sebab dengan cara itulah seseorang tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang akan membuat ia lupa diri. Setiap orang beriman patut terus memohon kepada Allah pembaruan hati itu, sebagaimana Daud pernah memintanya saat ia jatuh terpuruk dalam dosa (Mzm. 51:12).

Yesus Kristus dipilih Allah untuk menjalankan tugas Imam Besar yang mendamaikan manusia dengan Allah. Sebagai Imam Besar Kristus taat. Ketaatan Kristus berujung kepada pemuliaan-Nya oleh Allah. Kristus menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang mau taat kepada-Nya dan yang mau mengikuti bagaimana ketaatan-Nya yang sempurna kepada Bapa, walau harus menderita sekalipun (Ibr. 5:5-10).

Dalam sebuah peristiwa yang dikisahkan oleh Yohanes dalam Injil, disebutkan tentang orang-orang Yunani datang kepada Yesus. Besar kemungkinan mereka adalah orang-orang Yunani yang hadir pada saat bait Yerusalem disucikan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang berkenan membarui hidup mereka dengan datang kepada Allah. Mereka mengenali karya Allah dalam Yesus Kristus dan rindu untuk mengenal Yesus lebih dalam lagi. Menyikapi kerinduan mereka, Tuhan Yesus menjelaskan kebenaran-kebenaran penting bagi para pengikut-Nya. Kristus dengan tegas menantang setiap orang beriman untuk:

  1. Menyerahkan hidup kepada-Nya. Perhatikan kontras perbandingan dalam kata-kata Yesus. Antara “pementingan diri sendiri” dan menghasilkan”buah”, antara “menyerahkan diri” dengan “mempertahankan diri”, antara “melayani diri sendiri” atau “melayani Kristus”, antara “menyenangkan diri sendiri” atau “menerima kemuliaan dari Allah”.

  2. Memperhatikan gambaran benih yang mati, berkecambah untuk kemudian menjadi pohon dan menghasilkan buah. Melaluinya orang diajak untuk melihat keagungan karya Kristus dalam pemberian hidup-Nya bagi manusia yang berdosa. Ini adalah makna dari pelayanan.

  3. Hidup bagi Allah dengan menjalankan hidup yang bermakna dengan menerima dan memberlakukan kasih-Nya dalam segala keadaan baik suka dan duka. Menjalankan hidup yang berkualitas berangkat dari kekuatan yang dikaruniakan Allah.

  4. Melayani sesama. Kemuliaan dalam pandangan Allah, hadir saat seseorang berkenan menjadi pelayan bagi orang lain dan bukan sekedar mementingkan diri sendiri saja.
Jelas bagi kita, bahwa kemuliaan dalam pandangan Kristus bukanlah kemuliaan yang tertuju kepada kepentingan diri sendiri, melainkan kemuliaan yang diberikan oleh Allah, saat seseorang mau menghidupi kasih Allah. Karena pembaruan hati akibat disapa oleh kasih Allah yang menyelamatkan di dalam Yesus Kristus, seseorang dimampukan untuk menjalani tantangan kehidupan bahkan rela mengalami kesusahan dan penderitaan, sejauh orang lain akan mendapatkan apa yang baik dan membangun. Jadi, “Allah ditinggikan bukan hanya dengan sorak-sorai saja”, tetapi juga dengan kesetiaan dan ketaatan anak-anak-Nya. Kesetiaan yang cemerlang bagai emas murni, yang rela menempuh kesusahan dan derita sekalipun.

Pertanyaan Aplikasi:


  • Apa peranan hati seseorang dalam kaitan dengan pembaruan hidup? (Yer. 31:31-34, Mzm. 51:12)
  • Bagaimana orang beriman dapat belajar tentang arti “setia” dari Kristus? (Ibr. 5:5-10) 
  • Apa perbedaan kemuliaan cara dunia dengan kemuliaan cara Kristus? (Yoh. 12:23-28) 
  • Penderitaan seperti apakah dalam kehidupan saudara yang akan membuat Allah dimuliakan?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments