Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 24 Juli 2011

diposting pada tanggal 21 Jul 2011 00.52 oleh Essy Eisen   [ diperbarui21 Jul 2011 00.58 ]
Hati yang faham menimbang perkara
1 Raj 3:5-12, Mzm 119:129-136, Rm 8:26-39, Mat 13:31-33, 44-52

Salomo masih muda. Tetapi kepadanya dipercayakan tanggungjawab yang besar. Salomo sang pemimpin muda rendah hati. Ia mencari Allah, dan Allah menyatakan hikmat-Nya dalam mimpi. Sebuah visi kerinduan pemimpin muda yang dijalani bersama dengan visi Allah. Apa yang diminta Salomo? “hati yang faham menimbang perkara..” (1 Raj 3:9). Salomo tahu benar, bahwa yang paling penting dalam karya kehidupan bukan semata-mata “kulit” atau apa yang berasal dari “luar”, tetapi apa yang ada di dalam hatinya, hati yang faham menimbang perkara dengan pertolongan hikmat Allah! Pemazmur menegaskan bahwa bila tersingkap, firman-firman Allah akan memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh (Mzm 119:130). Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Rm 8:31), demikian Paulus bersaksi. Orang yang memilih hikmat Allah tidak akan pernah sia-sia.

Memiliki hikmat, memiliki hati yang faham menimbang perkara, tidak semata-mata memiliki kecakapan menimbang-nimbang dengan logika saja, tetapi juga sadar betul apa yang menjadi “kebenaran” yang memberikan kehidupan dan berani memperjuangkannya. Hikmat Allah, nyata jelas dalam kehidupan dan karya Tuhan Yesus Kristus. Melalui-Nya kita dapat menemukan kebenaran yang membawa kepada kehidupan, penuh damai sejahtera saat ini, kini dan di sini, serta kekal abadi.

Tuhan Yesus, mengajarkan tentang “Kerajaan Allah”. Acapkali Ia mengajarkan maknanya melalui perumpamaan-perumpamaan terkait dengan keseharian hidup orang-orang pada zaman itu (Mat 13:31-33, 44-52). Tuhan Yesus menginginkan, orang-orang yang mendengarkan-Nya memiliki kepekaan spiritual, hati yang terarah kepada Allah di dalam dan melampaui peristiwa-peristiwa kehidupan yang dialami sehari-hari. Menanam biji sesawi kecil yang kemudian bertumbuh menjadi pohon besar, memberikan ragi bagi tepung sehingga menjadi khamir, menemukan harta yang terpendam di ladang, mencari dan menemukan mutiara yang indah dan berharga, memisahkan ikan baik dari dalam pukat, serta mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari rumah perbendaharaan, adalah perkara yang tidak asing bagi kebanyakan orang. Namun mereka acapkali tidak mampu melihat kekayaan spiritual yang terkandung melalui makna tindakan-tindakan itu.

Biji dan ragi itu secara kuanitas kecil, tetapi perkara kerajaan Allah tidak boleh terperangkap hanya melalui penalaran kuantitas. Sebab ditangan-Nya, kualitas sejatinya adalah karunia pemberian-Nya yang berangkat dari ketaatan iman. Harta terpendam di ladang dan mutiara yang dicari, mengungkapkan betapa kerajaan Allah bukan sekedar perkara yang diterima secara pasif dan pasrah, tetapi diupayakan perwujudannya dengan semangat yang berkobar. Pemisahan ikan dalam pukat dan pemisahan harta yang baru dan lama, mengungkapkan pentingnya kecermatan untuk memilah dan memilih “kebenaran” bagi orang-orang yang hidup dalam Kerajaan Allah!

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28). Bagaimana kita selama ini menggunakan hikmat Allah dalam keseharian hidup kita? Apakah pengajaran Kristus menjadi dasar tindakan etis kita? Apakah kita sanggup mencerna dan menemukan makna hidup dalam Kerajaan Allah melalui peristiwa-peristiwa kehidupan kita, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments