Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 24 Februari 2013

diposting pada tanggal 20 Feb 2013 01.20 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.50 oleh Admin Situs ]
Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! 

Kejadian 15:1-12, 17-21, Mazmur 27, Filipi 3:17-4:1, Lukas 13:31-35

Saat mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, kita menjadi kuatir. Kita takut hal-hal yang buruk akan terjadi. Seolah-olah pikiran menjadi gelap. Kadangkala memang kita memikirkan jalan keluar. Tetapi jalan keluar itu bertolakbelakang dengan hati nurani dan iman kita. Apakah lebih baik menyerah saja?

Allah memiliki rencana yang dipandang-Nya indah bagi setiap anak-anak-Nya yang terikat dalam perjanjian dengan-Nya. Abram (yang namanya kemudian diganti menjadi Abraham), mengalami ketakutan dan kekuatiran. Ia kuatir akan masa depan yang akan dijelangnya. Namun ketakutan dan kekuatirannya tidak dihadapinya seorang diri. Firman Allah menuntun langkahnya. Dalam janji Firman-Nya, Abram memiliki pengharapan yang baru. Masa depannya tidak mengkuatirkan jika dijalani bersama dengan iman akan Firman-Nya. (Kej. 15:1-12, 17-21).

Iman kepada Allah memang tidak akan melenyapkan keadaan yang menyulitkan, tetapi akan memampukan kita untuk menghadapi keadaan yang menyulitkan itu dengan hikmat Allah. Demikianlah Daud dalam Mazmur 27 menyatakan keyakinannya. Ungkapan “Sekalipun” yang ditegaskan Daud dalam Mazmurnya ini adalah bukti dari iman yang tegas untuk tidak cepat menyerah dan putus asa dalam menghadapi masa depannya. Ia mau menantikan karya Tuhan dan dalam penantiannya itu, hatinya tetap kuat dan teguh.

Yesus harus mati di Yerusalem. Yesus setia pada komitmen-Nya dalam menjalankan karya agung pembaruan hidup bagi dunia ini. Oleh sebab itu pada saat beberapa orang Farisi datang dan berkata kepada-Nya: "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.", Yesus tidak takut dan kuatir. Bagi-Nya, kasih dan kebaikan Allah harus selalu menjadi prioritas utama. Kasih tidak boleh dihentikan oleh kejahatan. Kejahatanlah yang harus dihentikan oleh kasih!

Yerusalem memang dikenal dengan kota yang memusuhi para nabi. Di sana ada lembaga keagamaan dengan penafsiran Taurat yang ketat tanpa peduli untuk memanusiakan manusia. Ada juga para Farisi yang berkutat dengan Firman tetapi miskin tindakan. Sedangkan para nabi acapkali dikenal kritis, progresif dan liberal. Mereka adalah orang-orang yang enggan tinggal di “ruang nyaman” yang malah hanya akan memperburuk keadaan yang semestinya bisa diubah. Itu sebabnya karya para nabi acapkali dimusuhi oleh lembaga keagamaan yang resmi.

Yesus mengeluhkan Yerusalem. Sebenarnya bukan dalam pengertian kotanya yang dikeluhkan Yesus, tetapi sikap-sikap yang enggan belajar dari orang-orang yang menyebut-nyebut nama Tuhan dengan serangkaian ritus yang kering tanpa makna dan dampak dalam hidup yang ada di kota itu. Yesus tentu lebih dari sekedar nabi. Ia juga adalah Imam dan Raja, Anak Allah yang setia dan maju terus dalam upaya menghadirkan perjanjian yang baru bagi umat Allah. Hati-Nya kuat dan teguh. Kasih Bapa harus tetap dihadirkan, walaupun kebencian merajalela. (Luk. 13:31-35)

Di kemudian hari Rasul Paulus mengajak gereja Tuhan Yesus untuk tetap mengingat dan melanjutkan karya kritis yang sudah Kristus lakukan. (Flp. 3:17-4:1). Paulus mensinyalir masih ada saja orang yang hidupnya justru menjadi seteru salib Kristus. Paulus menilai “Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. (Flp. 3:19). Mereka ini adalah orang-orang yang enggan beranjak dari ikatan “keakuan” dalam memberlakukan kasih Kristus. Hati mereka tidak kuat dan teguh. Bisa jadi saat menghadapi rupa-rupa kesusahan hidup, mereka malah menjual iman ketimbang menghidupinya.

Di minggu prapaska 2 ini kita diajak untuk melihat kesetiaan Yesus dalam menghadapi tantangan yang ada dalam memberlakukan kasih Allah dan mau belajar kepada-Nya, mau dikumpulkan dan berada dalam naungan sayap-Nya.

Pertanyaan Aplikasi:
  1. Apa yang menjadi ketakutan dan kekuatiran Anda saat ini? Apa janji Firman-Nya berdampak bagi Anda dalam menghadapi ketakutan dan kekuatiran yang ada? 
  2. Menantikan Tuhan dengan kekuatan dan keteguhan hati. Bagaimana caranya? 
  3. Apakah Anda percaya bahwa Kasih dan Kebenaran dapat mengalahkan kejahatan? Apa buktinya? Bagaimana caranya?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments