Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 24 Agustus 2014

diposting pada tanggal 22 Agt 2014 01.57 oleh Admin Situs   [ diperbarui22 Agt 2014 09.18 ]
Pengabdian dengan Cinta, Sukacita dan dalam Kenyataan

Keluaran 1:8-2:10, Mazmur 124, Roma 12:1-8, Matius 16:13-20

Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi (Mzm 124:8). Ini menjadi rumusan “votum” (artinya “pengakuan keberserahan”) yang mengawali kebaktian kita. Acapkali juga digunakan “Kebaktian ini berlangsung di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Begitulah pengakuan kita. Kita datang dalam kebaktian untuk berbakti, mengabdi. Kita ini hamba, abdi Tuhan. Atas segala kebaikan dan cinta kasih Allah, kita bersyukur dan mengakui tuntunannya. Inilah alasan yang sehat saat kita berbakti, beribadah kepada Allah.

Minggu ini kita menyimak kisah awal hidup Musa. Di Mesir, keturunan Yakub, ditindas dengan perbudakan. Kehadiran mereka dibatasi dengan seleksi keji berupa pembantaian bayi-bayi entah langsung dibunuh atau dilemparkan ke sungai Nil. Allah baik. Ia peduli. Allah memihak kehidupan orang yang teraniaya. Orang-orang yang berkenan mengabdi kepada-Nya menjadi rekan kerja-Nya dalam menghadirkan Musa. Mulai dari bidan-bidan yang takut kepada Tuhan, putri Firaun yang berbelas kasih, juga kakak perempuan Musa yang telaten memelihara adiknya, hingga ibu Musa yang tekun mengasuh bayi itu dalam kehangatan dekapan pelukannya sendiri. Keliru jika kita menganggap hamba-hamba Tuhan yang setia itu terbatas pada laki-laki saja! Lihatlah peran besar para perempuan di sini.

Berbakti, mengabdi kepada Allah selalu harus lahir dari cinta, sukacita dan di dalam kenyataan hidup. Musa lahir dari keturunan Lewi. Kelak keturunan Lewi diberikan tanggung jawab untuk mengelola peribadatan umat Allah dalam diri imam-imam. Jika kita melihat kisah awal kehidupan Musa ini, dan peran-peran hamba-hamba Allah di dalam bakti mereka, kita menyimak bahwa tindakan ibadah, bakti, ternyata tidak sesempit urusan ritus dan kultus belaka, tetapi juga dalam tindakan nyata yang berujung pada perubahan sosial komunitas! Bakti dan ibadah kita adalah tanda sukacita kita ikut serta dalam menjalankan misi penyelamatan Allah bagi dunia.

Kota Kaisarea Filipi dapat dikatakan sebuah kota yang narsistik. Mengapa demikian? Sebab kota ini dibangun oleh Herodes-Filipus, diabadikan untuk kejayaan Kaisar Roma dan dirinya. Ia adalah suami Herodias, yang masih terbilang keponakannya sendiri. Herodias adalah keponakan perempuan Herodes-Antipas, saudara laki-laki Herodes-Filipus. Akibat skandal syahwat yang dibuatnya, Yohanes pembaptis meregang nyawa.

Saat Tuhan Yesus masuk kota ini, ia mengajukan pertanyaan penting kepada murid-murid-Nya tentang bagaimana orang-orang mengenali “Anak Manusia”, sosok yang diurapi Allah untuk membebaskan umat-Nya. Murid-murid menanggapi dengan apa-apa yang memang menjadi dugaan banyak orang tentang sosok itu. Tuhan Yesus kembali menegaskan pertanyaan-Nya. “Tetapi apa katamu, siapa Aku ini?” Pertanyaan ini penting dan bermakna. Seolah-olah di tengah kota yang diwarnai dengan egosentrisme dan penyanjungan nafsu berkuasa manusia itu, murid-murid ditantang untuk menyatakan iman mereka! Petrus menjawab. “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Ini adalah sebuah penyataan iman yang lahir dari pertolongan kasih Bapa. Petrus dengan tegas menyatakan apa arti kehadiran Yesus bagi dirinya. Bukankah di tengah dunia kita sekarang ini, saat begitu banyak orang yang masih dikungkung oleh pementingan diri sendiri dan kejahatan kepada Allah dan sesama manusia, pertanyaan Tuhan Yesus ini juga untuk kita? Siapakah Yesus bagi kita? Dalam bakti dan ibadah kita, apakah yang menjadi fokus utama kita?

Larangan Yesus kepada murid-murid untuk tidak memberitahukan kepada orang-orang tentang status Mesias itu penting. Mengapa? Sebab bagi Yesus Mesias itu bukan sekadar jabatan. Mesias itu adalah karya hidup yang utuh. Karya kemesiasan Yesus satu paket dengan salib dan kebangkitan, yang saat itu belum utuh dijalani-Nya. Selain itu, rasanya Yesus tidak ingin orang mengakui kemesiasan-Nya hanya dari kata orang saja. Yesus ingin agar setiap orang menyatakan pengakuan itu berangkat dari cinta dan pengenalan yang tulus dalam pertolongan Bapa. Ini menjadi teladan yang baik buat kita! Tidak cukup kita menggembar-gemborkan identitas kekristenan kita kepada khalayak. Sebab bukankah kekaryaan kasih kita sebagai pengikut Kristus, jauh lebih berbicara banyak kepada dunia ketimbang kata-kata belaka? Setiap orang pada akhirnya mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, saat menyaksikan salib dan kebangkitan. Bagaimanakah kita sebagai gereja-Nya dalam setiap bakti dan ibadah kita telah meneladankan Kristus untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti karya kasih-Nya bagi Indonesia?

Paulus mengingatkan kita. Ibadah sejati ialah saat tubuh kita seutuhnya menjadi persembahan yang: hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Mengaku Yesus sebagai Mesias/Kristus berarti mau dituntun Bapa di Sorga supaya kita berani menyatakan bahwa Yesus Kristus saja yang akan menuntun dan mempengaruhi bagaimana cara kita hidup di dunia ini. Dalam pertolongan Roh Kudus, pola pikir dan sikap hati kita terus menerus diperbarui sehingga kita mampu memilih dengan bijaksana pilihan-pilihan hidup yang dilandaskan oleh kasih. Tidak hanya itu, dengan mengakui Yesus sebagai Mesias/Kristus, Raja Penyelamat kita, maka dalam hidup bersama kita dimampukan-Nya untuk menguasai diri, mampu bekerja sama dengan baik di tengah perbedaan yang ada, dengan menggunakan segenap kemampuan yang kita miliki berangkat dari kasih dan dalam sukacita. Perilaku yang demikianlah, yang menjadi ibadah/pengabdian yang pantas kepada Allah, penuntun hidup kita.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments