Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 23 Februari 2014

diposting pada tanggal 28 Feb 2014 00.27 oleh Essy Eisen

"Hidup Kudus dengan mengikuti cara Kristus mengasihi"

Imamat 19:1-2, 9-18, Mazmur 119:33-40, 1 Korintus 3:10-11, 16-23, Matius 5:38-48

Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus (Im. 19:2b). Demikian nasihat Tuhan bagi umat-Nya. Menjadi kudus berarti menjadi khusus, terarah, fokus pada sebuah prinsip yang diyakini. Dalam perjanjian lama, “Taurat” atau sebagaimana juga kadang ditafsirkan sebagai “jalan” adalah hukum-hukum kehidupan berdasarkan kasih yang diajarkan Allah kepada umat-Nya. “Taurat” menolong umat Allah untuk memiliki pegangan nilai-nilai hidup, “jalan yang khusus” supaya umat tidak condong kepada perilaku hidup yang hampa dan jahat.

Dalam bacaan hari ini kita menjumpai hal itu. Umat diajarkan untuk menunjukkan belas kasihan dalam karya hidupnya (Im. 19:9-10, 13-15). Umat diajarkan untuk mengupayakan apa yang baik dalam relasi dengan sesamanya (Im. 19:11-12, 16). Pada saat mengalami apa yang buruk karena perilaku orang lain, umat harus mengutamakan kasih, ketimbang pembalasan dan dendam (Im. 19:17-18).

Pada bacaan Injil Minggu lalu, kita menjumpai Tuhan Yesus yang menafsirkan Taurat, hukum Allah, secara kritis. Kristus mengajak kita memeriksa kedalaman pikiran dan hati dalam memberlakukan hukum Allah. Jadi bukan sekadar memberlakukan aturan jadi saja, tetapi mencermati motivasi terdalam sewaktu memberlakukan Taurat. Tindakan Kristus ini sesuai dengan apa yang dikatakan-Nya, bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (Mat. 5:17). Kristus mengajarkan kita untuk memiliki pola pikir dan sikap hati yang sehat, lebih dari sekadar menjadi baik belaka.

Dengan memahami cara Kristus mengasihi dan menafsirkan Taurat, maka kita tidak akan kesulitan untuk memahami bacaan Injil pada hari ini. Bagi Kristus, menjadi kudus, khusus, terarah, fokus pada Allah berarti mau mengikuti cara Allah dalam mengasihi. Kasih Allah itu, kasih yang “walaupun”. Kasih yang berkorban. Kasih yang memperjuangkan apa yang baik. Kasih yang dilakukan. Kasih yang besar dan mulia sekali.

Hidup kudus dengan mengikuti cara Kristus mengasih itu antara lain ditunjukkan dengan tindakan-tindakan:

1.    Tidak melawan tindakan yang jahat dengan kejahatan serupa. Sewaktu mengalami penghinaan, tidak balas menghina, tetapi menunjukkan kerendahan hati (Mat. 5:39).

2.    Memaksa memberikan apa yang baik jika dipaksa untuk marah atau membenci (Mat. 5:40-41).

3.    Tulus berbagi dalam rangka ikut serta memenuhi kebutuhan sesama yang membutuhkan pertolongan hidup (Mat. 5:42).

4.    Tidak menjadi musuh bagi yang lain dan tetap mengasihi dengan tulis serta mendoakan apa yang baik seandainya dimusuhi tanpa sebab (Mat. 5:44-48). 

Dengan mengikuti cara Kristus mengasihi, kita tetap ada di dalam “jalan” yang benar yang berujung pada damai sejahtera yang Allah janjikan (Mat.7:13-14). Kristus harus senantiasa menjadi dasar dalam perumusan nilai-nilai hidup dan perilaku moral kita (1 Kor. 3:11). Tidak boleh kita memegahkan diri dan merasa pintar sendiri dalam membangun kebijakan pribadi (1 Kor. 3:21). Kita tidak perlu ragu. Taurat, “Jalan” yang diajarkan Kristus adalah jalan yang akan membuat kita kudus di hadapan Allah (1 Kor. 3:23).

Pertanyaan perenungan dan aplikasi:

  • Apa yang menjadi dasar saat kita mengambil sebuah tindakan dalam hidup kita selama ini? Mengapa kita memilih itu sebagai dasar dalam pengambilan keputusan?
  • Tindakan apakah yang menurut kita pantas untuk disebut sebagai tindakan “kasih”? Mengapa?
  • Apakah tindakan kasih itu menguntungkan atau merugikan? Menghidupkan atau mematikan? Mengapa demikian?
  • Dalam pembacaan Alkitab pada Minggu ini, bagaimanakah kita memahami “kekudusan hidup” secara utuh? Apakah orang yang kudus itu sesempit dekat dengan Allah saja? Apakah orang yang kudus itu membenci sesamanya? Mengapa?

 (Essy Eisen)

Comments