Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 22 Mei 2011

diposkan pada tanggal 24 Mei 2011 08.47 oleh Essy Eisen   [ diperbarui24 Mei 2011 09.33 ]
Bukan sekedar penunjuk jalan

Yoh 14:1-14

Salah satu hal yang paling pertama saya lakukan ketika tinggal di sebuah kota baru adalah menjelajah jalanan untuk mengenal kota itu. Dahulu, sebelum ada telepon genggam cerdas yang bisa menunjukkan peta di genggaman tangan, saya sering tersesat. Tak terhitung rasanya berapa kali saya bertanya kepada orang lewat di Sydney karena tidak tahu jalan. Itu dahulu, 6 tahun yang lalu. Sekarang, dengan teknologi yang makin maju, saya hampir tak pernah bertanya arah dan jalan lagi. Google Map di I-Phone saya membuat perjalanan mengelilingi kota Brisbane sangat mudah. Begitu canggihnya sehingga saya tak pernah lagi melihat peta konvensional untuk mencari jalan. Memiliki peta amat penting untuk mengetahui arah, tetapi kalau tidak ada jalannya, maka kita tidak bisa menuju tempat tujuan kita.

Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Tomas kemudian bertanya kepada gurunya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Terhadap pertanyaan ini, Tuhan Yesus menjawab, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Tuhan Yesus bukanlah sekedar penunjuk jalan atau peta. Dia mengaku bahwa Dialah jalan itu sendiri untuk sampai kepada Bapa. Pengakuan ini adalah pengakuan yang sangat mengejutkan. Tidak ada orang dalam sejarah Agama Yahudi yang berani membuat pengakuan yang begitu berani. Semua Nabi yang datang sebelum Yesus menerima peran mereka sebagai penunjuk jalan kepada Allah. Namun, Yesus mengaku diriNya lebih dari semua nabi itu. Dia bukan sekedar penunjuk jalan. Dia tidak datang membawa peta supaya manusia boleh mencari dan menemukan Allah. Dia sendiri mengatakan, “Barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”

C.S. Lewis mengatakan hanya orang yang kurang waras mengaku dirinya adalah jalan kepada Allah dan mengatakan dirinya adalah cerminan sempurna dari Allah. Ini sama anehnya dengan seorang pasien di rumah sakit jiwa yang mengaku dirinya adalah telur dadar. Jika Yesus sungguh mau kita anggap serius, kita tak bisa menutup telinga dan mata kita atas pengakuanNya ini. Kita yang mendengarnya patut mengambil sikap: apakah kita menerima pengakuan Yesus ini, ataukah kita menolak Dia secara keseluruhan. Kita tidak bisa hanya sekedar mengagumi ajaran Yesus dan menghormatiNya sebagai seorang guru moral dan etika, tetapi menolak pengakuanNya sebagai jalan dan kebenaran dan hidup. Jika kita melakukannya, kita hanya setengah-setengah menerima Dia. Kita menjadi tukang pilih yang memilah-milah bagian mana dari ajaran Yesus yang menarik hati kita dan berupaya melupakan dan mengabaikan bagian lain yang tak sesuai dengan logika dan cara pandang kita.

Mempunyai peta interaktif di telepon genggam memang sangat berguna untuk menunjukkan jalan, namun peta itu bukanlah jalan itu sendiri. Kita tidak bisa sampai ke mana-mana tanpa berjalan di jalan yang benar. Tuhan Yesus adalah jalan itu sendiri. Dia bukan peta yang sekedar bisa menunjukkan arah tanpa betul-betul sampai ke tempat tujuan. Dia sungguh adalah jalan dan kebenaran dan hidup, lewat Dia kita beroleh jalan kepada Allah Bapa. Sama seperti peta tidak berguna kalau kita memilih berjalan sendiri dengan mengikuti naluri kita, demikian juga jalan tidak akan berguna kalau kita memilih diam di tempat. Jalan sudah tersedia. Maukah kita berjalan di dalamNya?

(Agustian N. Sutrisno)

Comments