Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 22 Juni 2014

diposkan pada tanggal 19 Jun 2014 09.58 oleh Admin Situs
Memilih Dan Memperjuangkan Kebenaran

Matius 10 : 24-39

Tuhan Yesus Kristus menyatakan apa yang benar bagi dunia ini melalui segenap pengajaran, karya serta teladan hidup-Nya (Yoh. 14:6). Kebenaran yang dihadirkan Tuhan Yesus itu menjadi penting untuk dihidupi dengan serius, sebab hidup yang tidak mau mengikuti kebenaran yang dihadirkan Kristus akan berujung kepada kebinasaan.

Semakin hari usia kita bertambah. Begitu banyak peristiwa kehidupan kita alami. Dalam pertolongan Roh Kudus kita semua dimampukan untuk berproses menjadi pribadi yang semakin mengikuti bagaimana cara Kristus hidup untuk memuliakan nama Bapa. Apa yang menjadi kerinduan Tuhan Yesus demi terwujudnya dunia yang lebih baik, dunia yang diselamatkan dari kebodohan dosa, haruslah menjadi kerinduan kita juga sampai menutup mata.

Kebenaran yang Kristus ajarkan kepada kita untuk kita lakukan, tidak dapat dan tidak boleh ditutupi. Mengapa? Sebab walaupun kadang menyakitkan dan sering kali enggan kita tempuh dan hidupi, kebenaran itu akan memerdekakan kita dari kepedihan dan kematian jiwa. Setiap kali dalam waktu teduh kita, dalam pembacaan Alkitab, kita harus mau mendengar suara Kristus dan menuruti ajaran-Nya. Apapun konsekuensinya.

Penghalang terbesar untuk menjadi pelaku kebenaran ialah ketakutan. Tetapi kalau kita renungkan lebih dalam, ketakutan itu biasanya berangkat dari keegoisan kita semata-mata. Seharusnya, ketakutan yang sehat itu ialah ketakutan kepada Allah. Bukan takut gara-gara diri kita jadi susah.

Manakala kita tidak memberlakukan kasih atau kita enggan untuk berkorban, atau kita mengabaikan apa yang seharusnya dikerjakan dengan baik sebagai bukti cinta kasih kita kepada Allah, harusnya itulah yang membuat kita takut. Sebab dengan mengabaikan apa-apa yang penting itu, yang harusnya kita kerjakan sebagai pengikut Kristus, kita hanya akan menambah masalah bagi jiwa kita dan membiarkan kebinasaan kita dan sesama kita lambat laun datang menghampiri.

Dengan iman, kita yakin dan merasa aman bahwa yang paling berkuasa dalam hidup ini ialah Allah. Jika kita diberikan kesempatan untuk hadir di dunia ini, kita juga harus yakin bahwa Allah memiliki rencana yang baik bagi kita semua. Tetapi memang terkadang rencana itu tidak dapat atau belum dapat kita lihat dengan utuh. Akhirnya, kita menjadi begitu cepat mengeluh, marah dan menyerah pada saat kita harus melewati jalan yang sulit dalam hidup beriman.

Saat menghadapi peristiwa hidup yang menurut ukuran dan penilaian kita tidak enak, kita dapat jatuh ke dalam dosa dengan menyangkali apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Kata-kata kita menjadi kata-kata yang kasar dan menyerang. Atau sebaliknya, kita malah diam seribu bahasa saat menyaksikan kejahatan dan ketidakadilan yang dialami oleh orang lain. Atau, -ini yang parah-, kita malah merasa tenang dan senang saat melakukan tindakan keji, kasar dan keras kepada orang-orang yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita.

Mengikut Kristus memang dipenuhi konfrontasi. Bukan konfrontasi dalam arti yang buruk, tetapi dalam pengertian sebagai kesempatan memilih. Pilihannya sebenarnya sederhana, yaitu apakah kasih kita tetap nyata kepada-Nya dan kepada sesama kita, walaupun kita mengalami apa yang mungkin akan membuat kita tidak aman dan nyaman lagi, atau kasih kita berganti menjadi benci dan pengabaian untuk memberlakukan kasih dengan mencari cara menyakiti-Nya dan menjahati sesama kita.

Saat kita diperhadapkan dengan pilihan untuk melakukan, menguak dan memperjuangkan kebenaran, ingatlah kata-kata Tuhan kita Yesus Kristus: “Dan orang yang tidak mau memikul salibnya dan mengikuti Aku tidak patut menjadi pengikut-Ku. Orang yang mempertahankan hidupnya, akan kehilangan hidupnya, tetapi orang yang kehilangan hidupnya karena setia kepada-Ku, akan mendapat hidupnya." (Mat. 10:38-39, menurut terjemahan Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari)

(Pdt. Essy Eisen)
Comments