Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 22 Januari 2012

diposting pada tanggal 20 Jan 2012 15.30 oleh Essy Eisen
Menerima Kesempatan dari Tuhan
Yunus 3:1-5, 10; Mazmur 62:5-12; 1 Korintus 7:29-31; Markus 1:14-20

“Bertobatlah dari dosa-dosamu, dan percayalah akan Kabar Baik yang dari Allah!” (Mrk 1:15, BI-LAI). Demikianlah seruan Tuhan Yesus di sekitar daerah Galilea ribuan tahun lalu. Seruan ini mengajak orang untuk menyadari kecenderungan diri sendiri yang dipenuhi dengan kejahatan. Setelah sadar, mereka diundang untuk merelakan diri menerima cara pandang yang baru yang disediakan Allah lewat karya Yesus Kristus. Cara pandang hidup yang hanya mengandalkan kelebihan dan kemampuan diri saja tidak cukup. Orang selalu membutuhkan Tuhan. Kemelekatan orang pada hal-hal yang diluar kasih Tuhan hanya akan mengakibatan dukacita dan penderitaan (Mzm 62:11). Jadi seruan pertobatan sebenarnya adalah kesempatan yang baik dan menjanjikan dari Allah. Supaya manusia beroleh sukacita dan kemenangan.

Tuhan Yesus menjumpai Simon dan Andreas lalu Yakobus dan Yohanes. Mereka adalah nelayan-nelayan yang memiliki ikatan persaudaraan (Mrk 1:14-20). Ajakan Juruselamat tengah berlangsung di tengah pekerjaan sesehari seseorang. Kristus menjumpai keluarga-keluarga. Kristus menerbos masuk dunia kerja. Ajakan Kristus ditanggapi para nelayan bersaudara itu dengan segera. Bukan karena mereka terhipnotis. Atau sekedar ikut-ikutan. Tetapi karena mereka mau menerima kesempatan yang baik dari Tuhan. Kesempatan untuk memiliki hati dan pikiran yang baru. Ternyata ada perkara yang juga lebih penting di samping sekadar menjala ikan. Kristus mengundang mereka untuk menjadi agen pemberita tersedianya pembaruan relasi manusia dengan Allah. Menjala manusia adalah kiasan. Kini lingkup kepedulian mereka meluas. Bukan hanya membaca cuaca, menebar jala, berperahu mengambil ikan dan membereskan jala. Mereka diundang untuk peka membaca lingkungan sosial, menebar inspirasi pembaruan hidup karena Firman Allah, menguatkan jiwa-jiwa yang rapuh, mengikuti jejak pelayanan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat. Mereka menyambut kesempatan yang diberikan oleh Tuhan.

Adalah tindakan yang tidak patut jika seseorang menyepelekan kemungkinan perubahan yang dapat terjadi dalam diri orang lain. Setiap orang tidak menginginkan hidupnya berakhir dalam malapetaka dan bencana. Setiap orang mampu untuk berubah ke arah yang lebih baik. Sejahat-jahatnya penduduk Niniwe, saat mereka mendengarkan alternatif cara hidup yang menyelamatkan yang diberitakan oleh Yunus, mereka mau bertobat. Allah sabar membuka pintu kasih sayang-Nya baik bagi Yunus yang awalnya keras hati dalam menjalankan pelayanan bagi sesama maupun bagi penduduk Niniwe yang dipenuhi dosa kejahatan (Yun 3:1-5, 10). Yunus dan penduduk Niniwe, menerima kesempatan dari Tuhan untuk melayani dan dibarui-Nya.

Tentu pertobatan tidak sesempit menyepi dan menjauhkan diri dari dunia. Kepada Jemaat Korintus Paulus menegaskan bahwa hidup mengikut Kristus dan menanti kegenapan janji Allah terkait erat dengan pembaruan cara pandang kehidupan. Ungkapan “berlaku seolah-olah” menyiratkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan sepatutnya melebihi apa yang dianggap penting dalam keseharian hidup. (1 Kor 7:29-31). Dalam kesadaran baru berangkat dari kasih Tuhan, orang melakukan rutinitasnya dengan makna yang baru dan lebih hidup. Cara pandangnya tidak sekadar berangkat dari akal budi dan kekuatannya sendiri saja, tetapi juga dengan menggunakan hikmat Tuhan yang menyediakan alternatif-alternatif tindakan yang mengupayakan damai sejahtera bagi lingkungannya. Lingkup “dunia”nya menjadi “dunia” yang semakin lama semakin menunjukkan nilai-nilai dari Allah mengalahkan nilai-nilai pementingan diri yang dipenuhi oleh hawa nafsu jahat.

  • Maukah kita mempersilahkan Kabar Baik yang dari Allah mengikis kecenderungan diri kita yang jahat?
  • Apakah kita peka mengenali kebutuhan orang-orang di sekitar kita dan mau menebar inspirasi pembaruan hidup dari Firman Allah untuk menguatkan jiwa-jiwa yang rapuh?
  • Sudahkah hikmat dari Tuhan mencerahi akal budi dan kekuatan kita, sehingga perilaku dan kata-kata kita mencerahi orang-orang yang membutuhkan solusi bagi permasalahan hidup mereka?

(Pdt, Essy Eisen)

Comments