Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

"Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." - 22 Agustus 2010

diposting pada tanggal 19 Agt 2010 12.20 oleh Essy Eisen   [ diperbarui22 Sep 2010 15.17 ]
Lukas 13 : 10 – 17

Henri Nouwen seorang pastur Belanda memberikan nasihat yang indah sekali. Ia berkata: “ingatlah untuk berdoa agar kamu dimampukan untuk mengasihi Yesus dan mengasihi sebagaimana cara Yesus mengasihi” ("To love Jesus, and to love the way Jesus loved."). Jelas, bagi kita pengikut Kristus inilah yang menjadi panggilan rohani seumur hidup dalam menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah sehingga segenap ciptaan Allah yang “sakit” beroleh pemulihan.

Penginjil Lukas mengisahkan tentang seorang perempuan yang sudah 18 tahun sakit sampai bungkuk dan tidak lagi dapat berdiri tegak. Tetapi dalam segala keterbatasan dan kesulitannya itu ia masih beribadah kepada Allah, mau datang ke rumah ibadat, dan mungkin saja ia beribadat dalam suasana hati yang sama dari minggu ke minggu, “kesendirian dan kesunyian”. Yesus sedang mengajar di rumah ibadat itu. Yesus melihatnya, memanggilnya dan berkata “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Yesus menyentuhnya dan dalam kesembuhannya ia memuliakan Allah. Sungguh sebuah kelegaan dan kedamaian tak bertara.

Yesus ternyata bukan hanya mengajar, tetapi juga berkarya. Tetapi kepala rumah ibadat gusar dan mempermasalahkan “waktu” penyembuhan. Bagi Yesus kebaikan Allah tidak boleh dibatasi oleh ego manusia. Momen Sabat sejatinya adalah peringatan pembaruan yang diberikan Allah dan oleh sebab itu bagi Yesus yang terpenting dalam merayakan Sabat ialah “bukan kapan tapi bagaimana”. Yesus menyindir dengan tegas orang-orang yang pada hari Sabat melepaskan tali ikatan ternak agar ternak dapat minum, tetapi justru malah menghalangi manusia yang membutuhkan pertolongan. Bahkan, Yesus memberi penegasan untuk mereka yang munafik itu dengan mengingatkan bahwa ibu itu adalah “keturunan Abraham”.

Gereja terpanggil untuk mengasihi Yesus dan mengasihi sebagaimana cara Yesus mengasihi. Itulah makna yang dalam dari ber-gereja. Kisah ini memberikan dorongan kepada kita bahwa ternyata “ber-gereja” itu bukan hanya hari minggu. Yesus memberikan teladan tentang hidup yang melayani dan memberikan kebaikan bagi yang lain, kapan saja dan di mana saja. Baik ibu yang sakit maupun pemimpin tempat ibadat yang salah kaprah itu kini telah disembuhkan Yesus. Si Ibu dari kesusahan karena penyakitnya dan pemimpin tempat ibadat dari cara pandangnya yang “sakit”.

Momen ulang tahun Sinode GKI kiranya menjadi momen bagi kita juga untuk mengingat bahwa kita telah disembuhkan Allah di dalam Yesus Kristus. Tentu kini kita dipanggil juga untuk melanjutkan karya penyembuhan Allah kepada orang lain di dalam dan di luar komunitas kita. Aspek pembaruan ritual tidak boleh terpisah dari aspek pembaruan sosial. Jika ini terjadi, kita tengah membangun relasi spiritual yang tak tergoncangkan dengan Sang Penyembuh untuk semakin disembuhkan dari kecenderungan dosa, sekaligus menyembuhkan yang lain. Dirgahayu GKI.
Comments