Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 21 Nopember 2010

diposting pada tanggal 18 Nov 2010 21.03 oleh Essy Eisen

Mengakui Yesus Kristus sebagai Raja Kehidupan

 

Yeremia 23:1-6

“..Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.” (Yer 23:5) demikianlah Firman TUHAN saat didapati bahwa para pemimpin politik dan keagamaan di Israel tidak memedulikan keadilan dan kesejahteraan umat Allah yang adalah “domba-domba” Allah.

 

Kita yang dipercayakan oleh Allah memimpin dan memelihara keluarga, organisasi perusahaan, Gereja Tuhan, serta tatanan sosial kemasyarakatan lainnya terpanggil untuk mengingat pentingnya regenerasi kepemimpinan yang membawa dampak baik bagi banyak pihak pada masa mendatang.

 

Mazmur 46

Dalam nyanyian imannya Pemazmur menegaskan karya Allah bagi bumi antara lain seperti ini: “..yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!” (Mzm 46:10). Jelas, karya Allah dari dahulu sampai sekarang tetap sama. Allah membenci konflik. Allah membenci apa-apa yang dibangun dan diciptakan manusia untuk merusak sesama ciptaan-Nya.

 

Jika kita membangun dan menciptakan “senjata-senjata” untuk membenci dan menyakiti yang lain, sebenarnya kita sedang berhadapan langsung dengan Allah sendiri. Ini adalah upaya sia-sia, sebab tidak akan ada yang menang melawan kasih dan keadilan Allah.

 

Lukas 23:33-43

“Inilah raja orang Yahudi” (Luk 23:38). Itulah kata-kata yang diletakkan di atas kepala Yesus yang tersalib. Merupakan hal umum bagi orang yang disalibkan pada waktu itu dijelaskan alasan ia disalib pada papan di atas kepalanya. Tulisan “Inilah raja orang Yahudi” kaya makna. Kata itu bisa menjadi ejekan bagi orang Yahudi oleh pemerintah kolonial Roma. Kata itu juga bisa menjadi pengingat bagi orang untuk jera agar tidak mengikuti apa yang dilakukan Yesus. Makna yang benar dan indah akan diucapkan oleh orang yang sungguh-sungguh melihat rahmat pengampunan Allah melalui Yesus Kristus. Lukas menuliskan, justru seorang yang tidak dianggap oleh masyarakat pada umumnya, malah memiliki kepekaan spiritual yang dalam. Orang itu ialah penjahat di sebelah Yesus yang berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Luk 23:42). Orang itu mengaku Yesus sebagai Rajanya. Tentu bukan karena sama-sama disalib, tetapi karena salib ditempuh Yesus agar banyak orang beroleh kebaikan Allah! Bukankah itu tindakan seorang Raja sejati? Nubuatan Yeremia (Yer 23:5), sungguh sudah terbukti melalui Yesus Kristus, Tunas Daud, Raja Damai.

 

Pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Raja kehidupan memerlukan kepekaan spiritual yang dalam dan kerendahan hati dari orang-orang yang bergantung hanya pada rahmat Allah saja.

 

Kolose 1:11-20

“Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; “ (Kol 1:13). Inilah mujizat terbesar bagi orang Kristen. Dalam kerajaan Yesus Kristus ada terang dan kejelasan dalam melihat kehidupan. Hidup tenyata bukanlah semata-mata untuk diri sendiri, tetapi hidup adalah pemberian Allah yang kini menjadi Raja bagi yang percaya untuk membimbing kehidupannya.

 

Saat ini kuasa apa yang menguasai hidup kita? Kuasa kegelapan atau kuasa Kerajaan Allah?

 

Perenungan

·         Apa yang akan Anda lakukan untuk mempersiapkan kepemimpinan yang diemban generasi berikut?

·         “Senjata-senjata” apa yang masih anda simpan untuk menyakiti dan membenci yang lain? Apa yang akan anda lakukan dengan “senjata-senjata” itu?

·         Apakah spiritualitas Anda cukup peka untuk mengakui Yesus Kristus sebagai Raja kehidupan Anda?

 

Comments