Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 21 Agustus 2011

diposting pada tanggal 17 Agt 2011 13.12 oleh Essy Eisen
“Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”

Matius 16 : 13 – 20

Kaisarea Filipi berlokasi beberapa kilometer bagian utara Danau Galilea, wilayah yang dipimpin oleh Filipus. Daerah ini sangat dipengaruhi oleh budaya Yunani dan Romawi di mana kuil dewa dewi melimpah. Saat Filipus menjadi penguasa, dia membangun ulang dan mengganti nama kota itu diawali dengan penghargaan bagi Kaisar dan dirinya sendiri. Di kota di mana identitas diri prinadi begitu terasa kental, kita menjumpai Yesus yang mempertanyakan pengenalan murid-murid kepada-Nya.

Murid-murid Yesus menjawab pertanyaan yang diungkapkan Yesus dengan menggunakan pandangan umum yang dipahami orang-orang pada waktu itu, bahwa Yesus dianggap sebagai seorang nabi besar yang kembali hidup. Kepercayaan ini berakar dari Ulangan 18:18, saat Allah berjanji akan menghadirkan seorang nabi besar bagi umat. Petrus, salah seorang murid Yesus, berbeda dari orang kebanyakan, mengakui keilahian Yesus dan menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang selama ini dinanti-nantikan. Keakraban dan kedekatan dengan Yesus pada gilirannya memampukan Petrus untuk mengenali siapa Yesus sebenarnya. Bagaimana kedekatan kita dengan Yesus sudah memampukan kita untuk menyadari siapa Yesus sebenarnya? Ini menjadi pertanyaan penting juga bagi kita saat ini. Pengenalan kita akan Yesus akan mempengaruhi juga cara kita bersikap terhadap-Nya dan segenap pengajaran-Nya.

“Batu” di mana Yesus akan membangun gereja-Nya dapat berarti (1) Yesus sendiri (karya penyelamatan-Nya di kayu salib); (2) Petrus (pemimpin besar gereja di Yerusalem); (3) iman yang Petrus tegaskan yang berlanjut juga dengan iman gereja akan segenap karya Kristus. Kelihatannya pada bagian ini “batu karang” merujuk kepada Petrus sebagai pemimpin gereja (seturut fungsinya dan bukan semata-mata karakternya). Sebagaimana Petrus mengungkapkan identitas sejati dari Kristus, demikian juga Yesus mengungkapkan identitas dan peran dari Petrus.

Di kemudian hari, Petrus mengingatkan para pengikut Kristus bahwa mereka ada gereja yang dibangun di atas dasar para rasul dan nabi dengan Kristus sebagai batu penjuru (1 Ptr 2:4-6). Semua orang percaya terhisab dalam gereja karena iman kepada Yesus sebagai Juruselamat, sebagaimana iman yang Petrus sudah nyatakan saat Yesus bertanya kepadanya (Lihat juga Ef 2:20-21). Yesus memuji Petrus karena pengakuan imannya. Kita sebagai bagian dari gereja Tuhan Yesus Kristus, melanjutkan ketegasan iman Petrus untuk mengakui peran Kristus dan turut serta berperan melanjutkan karya Kristus di bumi.

”Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Mat 16:19). Arti ayat ini acap kali menjadi perdebatan. Beberapa orang memahami “kunci” sebagai otoritas untuk melakukan disiplin dan pemerintahan gerejawi (Mat 18:15-18); sementara yang lainnya memahami “kunci” sebagai otoritas untuk memberitakan pengampunan atas dosa-dosa (Yoh 20:23). Beberapa yang lain memahami “kunci” sebagai kesempatan untuk menghadirkan Kerajaan Sorga secara nyata di dunia ini berangkat dari pengajaran Allah yang ada di dalam kitab suci, Firman-Nya (Kis 15:7-9). Allah memakai gereja-Nya untuk menolong orang lain menemukan kerajaan-Nya. Kepada yang percaya kepada Kristus dan mematuhi ajaran-Nya, pintu kerajaan-Nya, terbuka lebar.

Yesus mengingatkan kepada murid-murid untuk tidak mempublikasikan pengakuan Petrus (Mat 16:20), sebab mereka belum sepenuhnya memahami peran kemesiasan yang dijalankan Yesus, yang bukanlah berbentuk kepemimpinan militer, tetapi menjadi pelayan yang menghamba dan menderita. Murid-murid perlu memahami dengan jelas siapa Yesus dan apa misi-Nya, supaya pemberitaan mereka tidak menjadi batu sandungan bagi yang lain. Setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus, mereka baru memahami peran kemesiasan Yesus dengan lengkap dan pada saat itu mereka baru dapat memberitakan-Nya dengan tegas dan jelas sesuai dengan maksud-Nya.

Di ulang tahun GKI yang ke 23 ini, bersama dengan pengakuan Petrus dan murid-murid Yesus yang lain, kita sebagai gereja-Nya tetap menjadikan Kristus sebagai dasar keberadaan persekutuan, kesaksian dan pelayanan kita. Dalam terang hikmat-Nya kita diperlengkapi dengan upaya-upaya pembangunan jemaat supaya banyak orang dapat menikmati suasana Kerajaan Allah nyata di tempat di mana kita sebagai gereja-Nya di utus menjadi saksi. Biarlah kira tetap mengingat janji Yesus yang mengatakan: “Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18). Dirgahayu GKI, segala kemuliaan hanya bagi Allah.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments