Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 1 Mei 2011

diposting pada tanggal 28 Apr 2011 11.27 oleh Essy Eisen
Pengakuan Tomas, Pengakuan Kita Semua

Yohanes 20: 19-31

Selama menempuh studi pasca sarjana, saya belajar pentingnya mempertanyakan segala sesuatu. Semua asumsi, hipotesis, dan teori tidak boleh diterima begitu saja. Bahkan, laporan faktual pun sebetulnya bias dikritisi. Mungkin saja ada bias tertentu dalam penyusunannya. Mungkin juga pengumpulan datanya dilakukan tanpa mengikuti metodologi yang baik. Barangkali, ada keteledoran tertentu yang menyebabkannya tidak bisa dipercaya. Saya dapat memahami mengapa Tomas, Sang Rasul, tidak mudah percaya pada laporan murid-murid yang lain tentang kebangkitan Tuhan Yesus.

Dalam Yohanes 20, dikisahkan Tuhan Yesus menjumpai murid-muridNya, tanpa kehadiran Tomas. Ayat 20 mencatat bahwa “Ia menunjukkan tanganNya dan lambungNya kepada mereka.” Murid-murid itu baru benar-benar percaya akan kebangkitan Tuhan Yesus setelah Ia sendiri menunjukkan bukti nyata. Tentu ini dapat kita pahami bersama. Bagaimana mungkin orang mati bangkit lagi? Bagaimana mungkin mereka yang melihat Yesus disalibkan dan dikuburkan bisa dengan mudah percaya orang yang ada di hadapan mereka adalah sungguh Yesus, guru mereka? Oleh karena itu Yesus menunjukkan dengan jelas bekas paku di tangan dan lambungNya. Dengan demikian tidak ada keraguan lagi bahwa sungguh Dialah yang muncul di hadapan mereka.

Tomas, sayangnya, tidak ada di tengah kumpulan itu. Ketika mendengar dari rekan-rekannya tentang kebangkitan Tuhan, ia tidak mudah percaya, dan ini juga sekaligus berarti ia tidak mudah ditipu. Ini modal yang baik untuk menjadi mahasiswa pasca sarjana atau ilmuwan. Oleh karena itu, sayang sekali kalau Tomas lebih dikenal sebagai peragu atau kurang iman. Sebaliknya, Tomas mewakili umat manusia yang butuh kejelasan dan bukti nyata sebelum mempercayai sesuatu. Kita semua sesungguhnya perlu memiliki keingintahuan dan sikap kritis terhadap apapun yang kita dengar, jika tidak, kita mungkin akan mudah tertipu.

Tuhan Yesus agaknya sangat mengerti keraguan Tomas. Ia sendiri kemudian menampakkan diri di depan murid-murid, kali ini dengan kehadiran Tomas. Dalam Injil Yohanes dicatat bahwa Yesuslah yang berinisiatif berbicara kepada Tomas dan memintanya mencucukkan jari ke tangan dan lambung. Tuhan sendirilah yang menolong Tomas mengenali siapa diriNya. Bertatapan muka langsung dengan gurunya, Tomas mengucapkan pengakuan imannya, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Pengakuan iman ini adalah pengakuan iman perdana gereja, bahwa Yesus adalah Tuhan. Pengakuan iman ini lahir bukan dari sekedar mendengar kata orang, bukan dari percaya buta yang tidak berdasar. Pengakuan iman ini lahir dari seorang murid yang kritis dan tidak mudah percaya kata orang lain. Atas pengakuan iman Tomas inilah gereja perdana mendasarkan pengakuan imannya, bahkan sampai hari inipun kita mencontoh iman Tomas ketika mengucapkan, “Aku percaya… kepada Yesus Kristus, AnakNya yang tunggal, Tuhan kita.”

Kita sekarang memang mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Allah kita tanpa pernah melihat dengan mata kepala kita sendiri. Bagi kita yang beriman tanpa pernah menyaksikan, Yesus berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Apakah ini berarti kita tidak kritis dan tidak cukup berpikir ilmiah? Sama sekali tidak. Pemikiran logis dan ilmiah tidak menyangkali iman dan iman tidak pula menutup logika. Menurut Agustinus dari Hippo, iman menuntut kita untuk mencari pemahaman dan pengertian. Justru karena kita beriman pada Kristus tanpa pernah melihatNya, kita menggunakan akal pikiran dan logika kita untuk melihat kesaksian Injil tentang kebangkitan secara kritis, bukan untuk menjatuhkannya, melainkan untuk memahami dan menghayatinya dengan tepat. Dari pemahaman dan penghayatan yang tepat akan lahir tindakan-tindakan nyata yang menggemakan berita sukacita bahwa dosa dan kematian ditaklukan oleh Putra Tunggal Allah. Ini tentunya bukan tugas mudah. Dapat dimengerti mengapa para calon pendeta kita belajar lama di Sekolah Teologi untuk menggumuli makna kebangkitan yang menjadi dasar iman kita. Kita yang awam juga dipanggil untuk beriman tanpa menanggalkan nalar. Di kelas-kelas Pemahaman Alkitab dan Katekisasi, kita belajar bukan sekedar untuk percaya, tetapi juga bernalar dalam memahami misteri peristiwa kebangkitan. Dengan terang iman dan nalar, kita dengan penuh kebahagiaan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah. Dengan terang iman dan nalar, kita menghayati peristiwa kebangkitan melalui karya-karya nyata yang memuliakan Dia yang bangkit dari kematian.

(Agustian N. Sutrisno)

Sumber gambar: thecolor.com

Comments