Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 1 April 2012

diposkan pada tanggal 2 Apr 2012 02.42 oleh Essy Eisen   [ diperbarui2 Apr 2012 02.44 ]
“Kami mohon, TUHAN, selamatkanlah kami!”

Yesaya 50:4-9a, Mazmur 118:1-2, 19-29, Filipi 2:5-11, Markus 11:1-11

Minggu ini acapkali disebut juga sebagai Minggu Palmarum. Pada minggu ini Umat Kristiani mengenangkan dan memaknakan kembali peristiwa Tuhan Yesus yang menuju Yerusalem. Ia menunggang keledai muda sambil diiringi sorak-sorai orang-orang yang berjalan di depan dan di belakang-Nya: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!" (Mrk. 11:9-10). Kala itu banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang (Mat. 21:8, Luk. 19:36). Penginjil Yohanes mengungkapkan mereka juga mengambil daun-daun Palem (Yoh. 12:13).

Apa yang sedang Yesus Kristus lakukan dalam peristiwa ini?

1. Kristus setia menjalankan misi-Nya bagi dunia ini.

Walapun perjalanan menuju ke Yerusalem diramaikan dengan tepik sorak sorai, perjalanan itu bukanlah perjalanan tamasya rohani. Di Yerusalem ada banyak orang yang mengaku mengenal dan menyembah Allah, tetapi bebal untuk menerima karya pembaruan Allah. Di kota itu kelak Kristus akan ditolak dan dituduhkan segala yang jahat oleh pemuka-pemuka agama Yahudi dan orang-orang yang keras kepala. Tetapi Kristus tetap pada komitmen-Nya. Kristus mengambil rupa seorang hamba dan taat kepada Bapa sampai mati (Flp. 2:6, 8). Kristus tidak berpaling ke belakang. Dalam kekuatan Allah, Ia melangkah maju menegakkan Kerajaan-Nya (Yes. 50:5, 7-8).

2. Kristus mempersiapkan pelayanan-Nya yang memperjuangkan kedamaian.

Ia memerintahkan murid-Nya untuk “meminjam” seekor keledai muda yang belum pernah ditunggangi orang (Mrk. 11:2-3). Keledai muda itu belum memiliki pelana, sehingga pelananya menggunakan pakaian murid-murid-Nya (Mrk. 11:7). Kelihatannya melalui tindakan ini, Kristus ingin menegaskan bahwa perjalanan dan karya yang akan dilakukan-Nya adalah sebuah perjalanan suci/khusus. Waktu itu orang memaklumi bahwa untuk pelaksanaan ibadah bagi Allah, perlengkapan atau persembahan yang diberikan harus dipilih atau disiapkan yang paling bagus dan baik, jika memungkinkan yang baru. Kristus sungguh sangat mempersiapkan perjalanan-Nya itu. Pelayanan-Nya tidak asal-asalan. Binatang keledai biasanya ditunggangi seorang raja pada saat keadaan damai. Dengan menunggang keledai, Kristus membawa diri-Nya sebagai Raja yang bukan hanya cinta damai, tetapi menghadirkan damai kepada khalayak. Dialah pemimpin yang mengubahkan kehidupan dengan cinta kasih dan pengorbanan, bukan dengan kekerasan.

Apa yang dilakukan orang-orang yang menyaksikan peristiwa ini?

1. Murid-murid-Nya taat akan perintah Yesus.
Mereka mempersiapkan apa yang diperintahkan Yesus dengan “meminjam” keledai. Bukan hanya itu, sang pemilik keledai pun dengan rela hati menyerahkan keledainya untuk digunakan Yesus dalam pelayanan-Nya. Mereka mendukung perjalanan dan pelayanan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.

2. Orang-orang yang berjalan bersama Yesus mengenali dan menyetujui karya Yesus.
Orang-orang yang menuju ke Yerusalem dalam rangka merayakan Paska Perjanjian Lama bersama Yesus menyadari betul bahwa karya Yesus selama ini adalah karya kemesiasan. Kristus banyak kali melakukan karya pemulihan hidup dan pengajaran yang membukakan hati nurani mereka akan karya Allah. Oleh sebab itu, mereka menyorakan "Hosana!” atau “hôšı̂˓ā(h)-nnā” (נא ,הושׁיעהMzm. 118:25a), yang artinya: “Kami mohon, TUHAN, selamatkanlah kami.” Sorakan ini menunjukkan pengharapan mereka kepada Allah dan percaya bahwa di dalam Kristus, nyata pertolongan yang sedang Allah kerjakan bagi dunia ini. Keselamatan sudah tiba dan sedang berlangsung melalui karya kasih Kristus.

Pertanyaan Aplikasi
  • Apa yang akan dijelang dan dialami Yesus di Yerusalem? (Mrk. 8:31, 9:31) Mengapa Yesus menunggang keledai menuju ke Yerusalem? Dari mana keledai itu berasal?
  • Seandainya Kristus “meminjam” sesuatu dari Saudara untuk pelayanan-Nya, bagaimana tanggapan Saudara? 
  • Apakah masalah dalam hidup dapat diselesaikan dengan cinta kasih yang berkorban dan tindakan yang memperjuangkan kedamaian? Apa resikonya? Apa Saudara setuju?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments