Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 19 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 18 Okt 2014 09.09 oleh Admin Situs
Aku Berubah

Amsal 11:19-29 ; Mazmur 139 ; Matius 3:1-8 ; Roma 12:2 

"Kalau mau perubahan kecil dalam hidup, ubahlah perilaku. Tapi kalau menghendaki perubahan besar, ubahlah paradigma". Itulah salah satu kutipan menarik dari Stephen Covey. Si penulis buku best seller “The 7 Habits of Highly Effective People”. Perubahan paradigma menggerakkan kita dari satu cara melihat dunia ke cara yang lain. perubahan paradigma menghasil perubahan yang kuat. Paradigma kita, benar atau salah, adalah sumber dari sikap dan perilaku kita, dan akhirnya sumber dari hubungan kita dengan orang lain. Perubahan paradigma membuat orang melihat dengan cara berbeda, berpikir dengan cara berbeda, serta berperilaku dengan cara berbeda.

Bagi Covey, perubahan paradigma itu menentukan manusia untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Paradigma negatif diubah menjadi paradigma positif. Jika paradigma diubah maka secara otomatis sikap seseorang dalam menjalani kehidupan juga berubah. Bicara tentang perubahan hidup, ulat adalah salah satu binatang yang paling mengagumkan dalam menjalani proses perubahan kehidupan.

Perubahan dari seekor ulat menjadi kupu-kupu, atau yang dikenal dengan metamorfosa ini adalah sebuah proses alam yang sungguh menakjubkan. Awalnya dimulai dari telur yang menetas dan melahirkan larva (ulat) yang bagi banyak orang dianggap geli bahkan menjijikkan. Geliat ulat ini akan dengan mudah membuat banyak orang bergidik geli melihatnya. Lalu ulat akan berubah wujud menjadi kepompong, dan kemudian dari kepompong itu akan keluar kupu-kupu yang indah, gemulai menari menunggang angin, anggun, puitis baik dari segi keindahan fisiknya hingga gerakannya. Selain masalah bentuk, ada pula perbedaan-perbedaan kasat mata lainnya. Ulat merangkak, kupu-kupu terbang. Ulat lambat, kupu-kupu aktif dan atraktif geraknya. Benar-benar sebuah perubahan total.

Metamorfosa yang terjadi pada kupu-kupu bisa kita pakai sebagai analogi/model sederhana dari sebuah perubahan kita dari manusia lama menjadi manusia baru. Sesungguhnya perubahan yang terjadi kita pun tidak kalah menakjubkan. Ketika kita menerima Yesus, kita mengalami proses perdamaian dengan Tuhan. Kita yang tadinya berlumur dosa dan tidak layak untuk selamat, kini dilayakkan untuk memperoleh keselamatan yang besar itu semata- mata lewat kemurahan dan kasih karunia Allah, lewat karya penebusan agung Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, ketika kita bersatu dengan Kristus, kita pun mengalami metamorfosa, menjadi manusia baru sama sekali, karena siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan ini semua, sekali lagi, berasal dari Allah melalui Kristus. Kita yang tadinya seperti ulat atau larva yang menjijikkan, kini mendapat kesempatan untuk diubahkan menjadi seindah kupu-kupu. Menerima Kristus memungkinkan kita untuk memiliki hidup yang lebih baik lagi.

Sebagai manusia baru yang telah mengalami transformasi, atau dalam analogi di atas digambarkan sebagai metamorfosa, kita seharusnya mampu menghargai anugerah menakjubkan yang telah diberikan Tuhan itu kepada kita dengan menjalani hidup sebagai ciptaan baru. Firman Tuhan “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Artinya, sebagai orang yang sudah diselamatkan kita harus memiliki perilaku yang lebih baik, memiliki tutur kata yang lebih santun, memiliki kepedulian terhadap sekitar kita. Sikap kita harus jauh lebih baik dibanding waktu kita belum mengenal kasih Kristus. Bulan keluarga adalah momentum bagi kita untuk berefleksi, apakah selama mengikut Kristus, ada perubahan sikap hidup ke arah yang baik dari hari ke hari?

Dalam hidup ini, semua (akal budi, hati nurani) telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Sekarang tinggal keputusan kita sendiri, apakah kita mau berproses hingga menjadi kupu-kupu atau berhenti hanya sebagai larva atau kepompong saja.

“Perubahan tidak mengenal berhenti. Saat kau menghentikan perubahanmu sendiri, 
itu sama artinya dengan hidupmu sudah berakhir” 

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments