Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 19 Mei 2013

diposkan pada tanggal 17 Mei 2013 08.41 oleh Essy Eisen
Berkata-kata Dalam Roh

Kisah para Rasul 2:1-21, Mazmur 104:24-35, Roma 8:14-17, Yohanes 14:8-17, (25-27)

“silaba laba laba sabedadada silama lama lama”

Terkejut, itulah yang saya alami ketika pertama kali saya datang ke sebuah gereja aliran tertentu. Tentu saja saya yang seumur hidup bergereja di gereja protestan merasa aneh dan kaget melihat fenomena yang tidak biasa tersebut. Ketika saya tanyakan kepada teman saya yang memang terbiasa ditempat itu barulah saya tahu bahwa itulah yang dinamakan bahasa Roh. Itulah pertama dan terakhir kalinya saya datang ke gereja tersebut bukan karena tidak suka tapi tidak terbiasa. Baru sekitar 3 tahun kemudian ketika berkuliah di Sekolah Teologi saya memahami apa itu bahasa Roh. Glosolalia/bahasa lidah mungkin terdengar akrab ditelinga kita. Ini sempat menjadi topik yang hangat diperbincangkan dikalangan umat Kristen karena perbedaan pemahaman mengenai glosolalia ini. Ada yang sangat mengutamakannya dan menganggap bahwa orang Kristen haruslah bisa menggunakan bahasa Roh sehingga muncullah les-les bahasa Roh agar banyak yang dapat menggunakannya dan menjadikan bahasa Roh sebagai parameter keimanan seseorang. Namun ada pula yang bersikap bahwa tidak semua orang harus bisa bahasa Roh karena bahasa Roh adalah karunia yang datang dari Tuhan, tidak bisa dipelajari ataupun dipaksakan.

Dalam pemahaman yang dianut oleh Kristen Protestan, bahasa Roh dianggap sebagai suatu karunia yang tidak dapat dipelajari ataupun dipaksakan karena datang begitu saja tanpa kita ketahui waktunya. Bahasa Roh juga berbentuk bahasa asing yang tidak kita tahu sebelumnya dan bisa diterjemahkan artinya, karena dalam Kisah Para Rasul dikatakan bahwa ketika para Murid mendapatkan Roh Kudus mereka dapat berbicara dalam berbagai bahasa seperti Partia, Media, Elam, Yudea, Kapadokia, Pontus, dan lain sebagainya. Jadi bahasa Roh bukanlah suatu keharusan untuk dimiliki, bukan juga sebagai parameter keimanan seseorang.

Pada masa kehidupan para rasul dan umat Kristen perdana, karunia bahasa Roh dipahami sebagai kemampuan untuk menerjemahkan pekerjaan Allah dalam bahasa yang dapat dimengerti, dipahami dan diterima oleh pendengarnya. Dan pada situasi dan keadaan masyarakat saat ini karunia berkata-kata dalam Roh memang sangat diperlukan, yaitu berbahasa, berbicara dan berkomunikasi tentang kebenaran yang dapat dipahami dengan bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat kita.

Memang ketika kita mendengar kata Pentakosta mungkin yang terlintas di benak kita adalah mengenai pencurahan Roh Kudus yang sangat dekat dengan fenomena bahasa Roh yang dialami murid-murid Yesus pada saat itu, sehingga Roh Kudus selalu dikaitkan dengan bahasa Roh. Padahal hadirnya Roh Kudus tidak hanya dalam bentuk bahasa Roh tetapi juga dalam bentuk aplikasi buah Roh dan hidup seseorang. Walaupun kita tidak bisa berbahasa Roh, kita bisa berkata-kata dalam Roh yaitu menjadi penghibur bagi yang sedih lewat kata-kata yang menguatkan, menjadi pemberita firman Tuhan dalam kehidupan kita, menjadi berkat lewat tutur kata, ataupun lewat tindakan kita yang penuh kasih.

Refleksi:

“Sekalipun diriku dapat berkata-kata dengan semua bahasa, bahasa manusia dan bahasa malaikat, ataupun yang lainnya tapi jika aku tidak mempunyai kasih aku serupa gong yang menggema dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku memiliki karunia-karunia bernubuat sekalipun diriku punya iman sempurna untuk pindahkan gunung tapi jika aku tak punya kasih tiada berguna lagi diriku. Sekalipun diriku membagikan semua harta yang kumiliki, bahkan aku serahkan tubuh jiwa ragaku, dibakarpun ‘ku sudi, tapi jika aku tak mempunyai kasih, tiada berguna lagi diriku, tiada berguna diriku.” (PKJ 227 "Sekalipun diriku dapat berkata-kata")

Roh Kudus adalah penolong kita dalam melanjutkan karya Tuhan Yesus di bumi. Apakah pekerjaan Tuhan Yesus? Yaitu menyebarkan kasih. Menjadi sahabat bagi yang tersisih, menjadi penolong bagi yang terzolimi, seluruh karya Yesus adalah mengenai kasih bagi sesama. Sudahkah kita mengasihi sesama? Sudahkah kita menjadi penolong bagi yang terzolimi? Ataukah menjadi pihak yang menzolimi? Sudahkah kita menjadi sahabat yang tersisih? Atau malah kita yang menyisihkan?

Merry C. Takasowa, S.Si. (Teol.)
Comments