Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 19 Januari 2014

diposting pada tanggal 16 Jan 2014 09.10 oleh Admin Situs
Tujuan Hidup Orang Percaya

Yesaya 49:1-7; Mazmur 40:1-11; I Korintus 1:1-9; Yohanes 1:29-42

Salah satu pertanyaan terbesar dalam diri manusia adalah berkaitan dengan makna dan tujuan hidupnya di dunia ini. Setiap orang pasti akan sampai pada pertanyaan “apa arti dan tujuan hidup saya di dunia ini”? Orang yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas di dunia ini sama seperti seseorang yang berjalan tetapi tidak mengetahui secara pasti kemana langkah kaki ini mengarah. Banyak orang beranggapan bahwa mereka mempunyai tujuan hidup, namun kebanyakan meletakkannya pada sasaran yang tidak tepat. Pada umumnya orang berjuang keras dan berusaha sekuat tenaga untuk mengejar kekayaan, kekuasaan, atau harga diri. Orang-orang yang memfokuskan dirinya untuk untuk mengejar hal-hal demikian pada akhirnya akan mengalami kebuntuan dan ketidak-puasan pada makna dan tujuan hidupnya. Pertanyaannya adalah apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup manusia di dunia ini dan apakah tujuan utama hidup orang Kristen di dunia ini?

Rick Warren dalam bukunya “The Purpose Driven Life”, menjelaskan bahwa tujuan hidup orang Kristen jauh lebih besar dari pada prestasi pribadi, karir, ambisi, ketenangan pikiran, bahkan lebih besar dari sekadar tujuan keluarga. Lebih lanjut ia mengatakan “jika Anda ingin tahu mengapa Anda ditempatkan di planet ini, Anda harus memulainya dengan Allah, Anda dilahirkan oleh tujuan-Nya dan untuk tujuan-Nya”. Jadi, tujuan hidup orang percaya tidak dapat dilepaskan dari pemaknaan kita tentang Allah. Karena Ia adalah Tuhan yang menjadi sumber kekuatan, pengharapan juga keselamatan kita.

Mazmur 40:1-11, memberikan gambaran kepada kita tentang pemaknaan hidup Daud. Dia melihat bahwa Tuhan adalah sumber pertolongan yang membuatnya mampu berjalan dengan tegap dan menyanyikan nyanyian baru dari dalam mulutnya. Ay 5-6, pemazmur menyampaikan bahwa apa yang dialaminya juga dapat dialami oleh orang lain yang menaruh harapannya pada Tuhan. Selanjutnya pemazmur juga mengajak umat untuk melakukan kehendak-Nya. Melakukan kehendak Tuhan adalah tindakan yang jauh lebih baik dibandingkan menaikkan korban sembelihan (ay 7-9).

Pemazmur menyadari bahwa manusia itu makhluk lemah yang senantiasa membutuhkan pertolongan Tuhan. Kesadaran ini membawanya pada sebuah pengakuan “Engkau, Tuhan, janganlah menahan rahmat-Mu dari padaku, kasih-Mu dan kebenaran-Mu kiranya menjaga aku selalu” (ay 12). Daud sadar bahwa penguasa hidupnya adalah Tuhan, sehingga Tuhanlah yang menjadi fokus hidupnya.

Belajar dari pengalaman Daud, mari kita juga mengingat karya Allah dalam kehidupan yang telah dan sedang kita jalani ini. Dengan mengingat setiap perbuatan Allah dalam hidup ini, maka kita akan merasakan kasih karunia Allah yang luar biasa. Karya dan kasih karunia-Nya itu masih berlangsung dan akan tetap berlangsung. Jika Daud saja tidak ragu untuk menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidupnya, masih ragukah kita untuk menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup kita?

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments