Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 19 Agustus 2012

diposting pada tanggal 17 Agt 2012 20.11 oleh Essy Eisen
Kita tinggal di dalam Kristus & Kristus tinggal di dalam Kita

Amsal 9:1-6, Mazmur 34:9-14, Efesus 5:15-20, Yohanes 6:51-58

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh. 6:54-56). Demikianlah kata-kata Kristus yang dicatat oleh penginjil Yohanes.

Kalau orang salah sangka, bisa-bisa orang Kristen itu diduga “kanibal” dan “drakula”. Tentu sangkaan yang seperti itu salah kaprah. Yang dimaksud “makan daging Kristus dan minum darah Kristus” adalah membuka diri seutuhnya supaya Kristus tinggal dalam kehidupan kita. Pengajaran-Nya, keteladanan-Nya, kuasa pembaruan-Nya, mempengaruhi hidup kita, sehingga akal pikiran dan hati kita dilengkapi dengan hikmat-Nya! Hikmat kebenaran dari Allah yang mendatangkan makna hidup yang sehat. Makna hidup yang terjadi karena relasi yang sudah didamaikan dengan Bapa.

Sebagaimana gaya penulisan dari penulis Amsal yang menggunakan bahasa kiasan kaya simbol dan pemaknaan spiritual yang dalam (Ams. 9:1-6), Kristus berupaya mengajak orang banyak untuk menjalin relasi yang begitu dekat, melekat, akrab dengan-Nya, untuk “saling tinggal” dan mendapatkan pengaruh yang baik dari-Nya. Kristus menawarkan jalan pengertian yang menghindarkan kita dari kebodohan spiritual. Kristus mengajarkan kita apa artinya takut akan Allah dan mengerti kehendak-Nya. Karena karya Kristus, maka Firman dan Roh Allah akan memampukan kita untuk tetap mengucap syukur atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan (Ef. 5:15-20).

Kepada setiap orang yang mau “memakan daging Kristus” dan “minum darah-Nya” Kristus berjanji. Ia akan mengaruniakan hidup abadi. Artinya hidup yang bukan sekedar nafas belaka, tetapi hidup yang sungguh bermakna, berkualitas karena kuasa anugerah-Nya. Hidup seperti itu menimbulkan kesan yang mendalam, tidak lekang oleh waktu dan kondisi. Di dalamnya pengharapan tetap ada. Kasih terus bergulir. Sungguh hidup yang luar biasa.

Jadi, setiap orang yang mau membuka pintu hatinya supaya Kristus tinggal di dalamnya, tidak akan menjalankan hidup yang sia-sia. Sebab kasih Kristus terus memperbarui pola pikir, kata-kata dan tindakan-tindakannya. Saat harus menentukan pilihan-pilihan yang terpampang dalam hidup, Kristus menolong orang itu untuk memilih dengan baik, bukan lagi dengan kebodohan, tetapi dengan motif yang baru, yaitu sebagai orang yang sudah dikasihi Kristus dan didamaikan oleh Bapa.

“Daging dan Darah Kristus” mengingatkan kita akan kenyataan bahwa di dalam Kristus, Allah berkenan hadir di antara manusia, yang memiliki daging dan darah. Ia turut merasakan pergumulan manusia. “Daging dan Darah Kristus” juga mengingatkan kita akan pemberian hidup dan nyawa Kristus dalam kesetian kasih-Nya yang berujung pada kebaruan hidup manusia lewat peristiwa Golgota. “Daging dan Darah Kristus” mengingatkan kita akan sakramen Perjamuan Kudus yang melaluinya kita akan terus diingatkan akan karya-karya agung Kristus itu untuk kemudian diperbarui oleh kehadiran-Nya yang menyatu dengan kehidupan kita melalui Firman dan Roh-Nya.

Kristus berkenan tinggal di dalam kita! Lalu kalau kita mau tinggal dalam Kristus:
  1. Apakah kita mau hidup sebagai orang yang sadar bahwa hidup kita sudah ditebus oleh Allah? (Gal. 2:20) 
  2. Apakah kita mau hidup sebagai orang yang diperbarui oleh Kristus dan meninggalkan hidup yang lama? (2 Kor. 5:17) 
  3. Apakah kita mau hidup dalam kasih satu sama lain dengan menerima perbedaan, saling pengertian dan menyadari bahwa kita selalu membutuhkan kehadiran yang lain? (Rm. 12:5) 
  4. Apakah kita mau berjuang dengan rendah hati dan serius semakin hari semakin mantap untuk meninggalkan hawa nafsu jahat kita? (Gal. 5:24) 
(Pdt. Essy Eisen)
Comments