Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 18 September 2011

diposting pada tanggal 15 Sep 2011 20.30 oleh Essy Eisen
“Aku Bersyukur!”

Rut 1: 7-17, Mazmur 105: 1-11, Kolose 3: 5-17, Lukas 18: 1-8

Perkataan dan perbuatan pengikut Kristus senantiasa harus dilandasi dengan ucapan syukur. (Kol 3:17). Apa artinya? Artinya orang Kristen adalah orang yang sudah diubahkan oleh Kristus dari kecenderungan hidup sebagai hamba dosa, menjadi hidup yang terarah kepada damai sejahtera sebagai hamba bahkan sahabat Allah. Dalam tindakan syukur senantiasa ada kesadaran bahwa pada dasarnya kita adalah orang yang sudah menerima hal-hal yang baik dan banyak dari Allah. Sebagai kelanjutan dari pemberian Allah itu, pada akhirnya kita dimampukan Roh Kudus untuk hidup dalam cara pandang Allah juga dalam berperilaku dan berkata-kata kepada orang lain. Cara pandang yang selalu ingin memberikan apa yang terbaik kepada orang lain.

Bagaimana jika keadaan hidup menekan dan masalah melanda? Tuhan Yesus menasihatkan agar dalam keadaan yang seperti itu, kita harus tetap memiliki iman bahwa Allah tidak pernah mengulur-ulur waktu-Nya. Dalam kesetiaan iman dan doa, orang yang berpegang pada janji Allah akan dikuatkan (Luk 18:7-8, Mzm 105:4-11). Contohnya kehidupan Naomi. Kehidupannya adalah kehidupan yang dilanda banyak kepahitan. Masalah datang bertubi-tubi (Rut 1:1-15). Namun dalam kesusahannya itu, Naomi rupanya tidak sendirian. Rut, menantunya, sungguh menunjukkan pengharapan yang besar untuk tetap bersama dengan ibu mertuanya menghadapi masa depan yang akan dijalani mereka bersama dengan Allah! (Rut 1:16). Naomi dan Rut seperti memulai segala sesuatunya dari nol. Mereka bekerja keras sambil tetap berpengharapan. Pada akhirnya mereka menemukan solusi yang disediakan Allah. Keluarga Rut, kelak menjadi keluarga yang melahirkan Raja Daud (Rut 4:16-17). Sungguh, keluarga yang mau berdaya juang bersama dengan Allah menjadi keluarga yang menjadi berkat dan melahirkan pemimpin-pemimpin besar.

Ujian yang nyata dari rasa syukur kita kepada Allah tidaklah terjadi melalui pengalaman menyenangkan. Sangat mudah orang bersyukur saat segala sesuatu berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Tetapi ujian yang nyata terjadi pada saat-saat terberat kehidupan. Apakah saat ini keluarga kita sedang mengalami masalah baik dalam komunikasi, pengelolaan keuangan, kesehatan, atau apapun juga? Ataukah kita tengah mengalami kehilangan-kehilangan sebagaimana yang dialami oleh keluarga Naomi? Saat itu terjadi Firman-Nya menguatkan kita. Kita harus tetap bersyukur! Mengapa? Karena kita tidak pernah sendirian menghadapi itu semua. Roh Kudus mempermurni hati nurani kita untuk tetap berhikmat. Tuhan Yesus Kristus mengajar kita dengan Firman-Nya untuk tetap setia dalam iman. Dan juga Allah, Bapa yang baik itu, berkenan memakai orang lain sebagai “Rut” yang mendampingi dan memberikan semangat. Atau bahkan kita pun akan dipakai sebagai “Rut” di tengah-tengah keluarga kita, untuk terus melangkah dengan syukur menatap janji-Nya. Sungguh tepatlah dengan demikian untuk terus mengatakan: “Aku bersyukur!” bersama-sama dengan keluarga yang Tuhan karuniakan kepada kita.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments