Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 18 Nopember 2012

diposkan pada tanggal 24 Nov 2012 08.54 oleh Essy Eisen   [ diperbarui24 Nov 2012 08.55 ]
"Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!” 

Daniel 12:1-3, Mazmur 16, Ibrani 10:11-14, 19-25, Markus 13:1-8

Bagaimana cara membuat orang tertipu? Mudah! Tentu tipuannya harus disiapkan terlebih dahulu, lalu diikuti langkah-langkah berikut: Pertama, orang yang akan ditipu itu harus memiliki rasa ingin tahu. Keingintahuannya harus besar dan kalau ia menjadi semakin gelisah karena ingin tahu dan ingin segera mendapatkan tipuan yang sudah disiapkan, lebih bagus lagi. Kedua, orang itu haruslah orang yang tidak punya pendirian teguh, yang mudah digoyah pendiriannya oleh hal-hal yang belum diketahuinya. Ketiga, orang itu harus dibanjiri oleh berita-berita yang seolah-olah akan membuat ia susah kalau ia tidak mengambil tipuan yang sudah disiapkan itu. Keempat, hapuslah kegelisihannya yang sudah menjadi-jadi itu dan manfaatkan kegoyahan pendiriannya dengan tipuan-tipuan yang sudah disiapkan. 

Langkah-langkah di atas dijelaskan oleh seorang penipu yang berhasil menipu banyak orang. Menurut dia orang-orang yang berhasil ditipunya itu kelihatan kokoh dan hebat di luar saja, tetapi di dalam dirinya begitu lemah dan rentan. Tentu penipu itu kini sudah bertobat, dan langkah-langkah yang ia jelaskan itu dibagikan supaya orang menjadi waspada supaya tidak mudah ditipu dan disesatkan oleh orang lain. Ingat, jangan gunakan langkah-langkah itu untuk menipu orang lain! 

Bagaimana dengan kehidupan spiritual kita? Apakah kita bisa tertipu dalam menjalani kehidupan spiritual kita? Minggu ini kita mendapatkan kabar baik dari Kristus. Sebab Kristus mengajak murid-Nya waspada, supaya jangan disesatkan. Jangan mau tertipu. Apa-apa saja yang harus diwaspadai oleh pengikut Kristus? 
  1. Kemegahan, kehebatan, kemolekan fisik yang memanjakan mata dan rasa tetapi tanpa makna hidup yang benar dan mulia. (Mrk. 13:2)
  2. Kepemimpinan dari orang atau sekelompok orang yang mengajak mereka menjauhi Kristus dan pengajaran-Nya. (Mrk. 13:5-6) 
  3. Terlalu cepat menyimpulkan akan karya Allah yang dianggap sudah final saat mengalami kesusahan dan bencana dalam hidup. (Mrk. 13:7-8) 
Saat melihat area di sekitar bait Yerusalem, murid-murid terkagum-kagum dengan kekokohan batu dan kemegahan gedung-gedungnya. Namun ternyata Yesus mengajak mereka untuk tidak semata-mata berpijak pada apa yang dapat musnah. Persekutuan kasih yang akrab dengan Allah dan sesama jauh lebih penting ketimbang apa yang artifisial buatan manusia.

Yesus juga mengingatkan murid-murid untuk waspada supaya jangan mengikuti pengajaran-pengajaran yang mengagungkan manusia, dan dengan begitu secara tidak langsung sedang menggantikan Kristus. Akan ada orang yang dengan tinggi hati “memposisikan diri seperti Kristus”, dan berupaya mengalihkan perhatian dan kesetiaan dari murid-murid. Kristus mengharapkan agar jangan sampai mereka tertipu dan disesatkan. 

Memang dalam perjalanan sebagai murid Kristus, mereka akan menghadapi hambatan, kesusahan dan penderitaan. Kristus mengingatkan bahwa kegenapan suasana di mana Allah memerintah itu bukanlah jalan yang mudah. Acapkali mereka harus mengalami sengsara seperti perempuan yang sedang sakit bersalin. Tetapi yang Kristus harapkan ialah jangan sampai mereka kehilangan iman lalu cepat-cepat menyimpulkan keadaan dalam masa susah itu, dengan menganggap Allah tidak berbuat apa-apa. Allah pada saat-Nya akan bertindak. Allah setia. Murid-murid diajak untuk teguh berpegang teguh pada pengharapan kepada janji penyertaan-Nya.

Pertanyaan Aplikasi:
  1. Di balik kesementaraan dan kefanaan hidup ini bagaimanakah Anda menjaga persekutuan kasih dengan Allah dan sesama tetap bertahan kekal abadi? 
  2. Apakah ada orang yang Anda kagumi dan agungkan di dunia ini selain Kristus? Jika ada mengapa? Jika tidak mengapa? 
  3. Bagaimana Anda menghayati penyertaan Allah saat mengalami kesusahan hidup? Bagaimana Anda memelihara iman yang setia pada masa-masa seperti itu?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments