Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 18 Mei 2014

diposting pada tanggal 22 Mei 2014 08.35 oleh Admin Situs
Setia berarti taat dan tidak berpaling dari misi-Nya

Kisah Para Rasul 7:55-60; Mazmur 31:1-5, 15-16; I Petrus 2:2-10; Yohanes 14:1-14

Di stasiun Shibuya, Tokyo terdapat patung perunggu berbentuk seekor anjing. Patung itu dibuat karena terinspirasi oleh kisah nyata kesetiaan seekor anjing terhadap tuannya. Anjing bernama Hachiko dengan setia menunggu kepulangan tuannya yang bernama Dr. Eisaburo Ueno di stasiun Shibuya. Hachiko tidak tahu jika tuannya yang adalah seorang dosen di Universitas Tokyo telah meninggal dunia pada bulan Mei 1925, Hachiko terus menunggu di stasiun Shibuya selama 9 tahun hingga akhirnya mati tahun 1935. Patung Hachiko dibuat untuk mengenang Hachiko yang begitu setia terhadap tuannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “setia” berarti berpegang teguh pada janji atau pendirian. Setia kepada Yesus berarti berpegang teguh pada janji-Nya. Setia kepada misi yang Tuhan percayakan kepada kita bukanlah perkara yang mudah. Sebab, ketika kita sedang berbicara tentang kesetiaan, maka di sana kita sedang berbicara tentang upaya tanpa putus asa untuk menghadapi dan mengatasi persoalan hidup yang besar dan sulit. Dalam kondisi seperti inilah, kesetiaan terhadap misi Tuhan yang dipercayakan atas kita dipertaruhkan. Itu pula yang terjadi dalam diri Stefanus (Kis. 7:17-60).

Sebagai murid Kristus yang setia, Stefanus tahu resiko apa yang harus ia tanggung saat berhadapan dengan Mahkamah Agama, dalam upayanya memberikan pembelaan terhadap tuduhan palsu yang dialamatkan kepadanya. Ia menjawab tuduhan itu dengan cara yang jitu. Alih-alih melontarkan tuduhan lain, Stefanus justru menunjukkan fakta yang tidak bisa dibantah oleh Mahkamah Agama. Ini adalah salah satu cerminan dari sikap orang yang memelihara iman percayanya, berbicara atas dasar fakta dan bukan sembarangan melontarkan tuduhan palsu. Stefanus memiliki sikap pengendalian diri yang baik.

Sikap Stefanus berbeda dengan sikap anggota Mahkamah Agama, mereka tidak bisa mengendalikan diri, justru malah dikuasai emosi (ayat 57-58). Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin lembaga keagamaan, seharusnya anggota Mahkamah Agama mampu mengendalikan diri dan bukannya malah dikendalikan oleh emosi yang meluap-luap.

Sikap anggota Mahkamah Agama mengakibatkan kematian Stefanus. Orang-orang yang dipercaya untuk berada dalam lembaga keagamaan guna membimbing, menjaga dan memampukan umat untuk menjalani kehidupan religius yang lebih baik, justru malah melakukan pembunuhan. Untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan diri, anggota Mahkamah Agama justru melakukan hal yang tercela. Mereka mempertahankan keamanan dan kenyamanan diri dengan menghalalkan segala cara. Termasuk menghilangkan nyawa orang lain.

Kematian Stefanus ternyata tidak menyurutkan langkah apalagi menghilangkan benih kepercayaan yang sudah ditabur. Kematian Stefanus bukan kematian yang sia-sia, ia justru menjadi martir. Dari kematian itu, kepercayaan orang-orang Kristen pada jemaat perdana justru semakin tumbuh. Sikap Stefanus yang terus dengan setia memelihara iman percayanya kepada Tuhan, sekalipun kehilangan nyawanya, justru menjadi inspirasi bagi banyak orang percaya sampai hari ini. Stefanus memberikan teladan bagi kita mengenai sikap orang yang menjadi utusan Tuhan. Meskipun mendapat perlakuan yang tidak simpatik, Stefanus tetap mengerjakan misi yang dipercayakan Tuhan atas dirinya dengan setia.

Kisah Stefanus seharusnya menjadi inspirasi bagi kita dalam mengikut jalan Tuhan di tengah- tengah negara Indonesia yang majemuk. Saat ini Indonesia berada dalam sebuah kondisi dimana sikap toleransi mulai luntur, ibadah mulai diwarnai intimidasi, juga kekerasan dengan jubah agama yang semakin merebak, membuat kehidupan bersama menjadi tidak lagi nyaman. Pada saat seperti inilah keteguhan atas apa yang kita percayai diuji, apakah saat situasi sulit mulai menekan, kita tetap mengandalkan Yesus? Atau justru menukar Yesus dengan kenyamanan duniawi? Saat iman percaya kepada Yesus digoyahkan dengan berbagai macam intimidasi, beranikah kita tetap setia? Selamat berefleksi.

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments