Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 18 Maret 2012

diposkan pada tanggal 16 Mar 2012 23.53 oleh Essy Eisen
Sabar, Sadar, Kabar

Bilangan 21:4-9; Mazmur 107:1-3, 17-22; Efesus 2:1-10; Yohanes 3:14-21

Mengambil pilihan untuk tidak sabar adalah kecerobohan. Sebab dalam ketidaksabaran kita sedang memotong sebuah proses yang mungkin baru “setengah jalan”. Ibarat menonton sebuah film, bisa jadi kita masih ada dalam pertengahan cerita, belum selesai. Orang yang tidak sabar biasanya adalah orang yang tidak sadar akan kemungkinan-kemungkinan itu. Biasanya mereka baru sadar setelah mendapatkan akibat yang tidak menyenangkan dari ketidaksabaran itu. Orang yang tidak sabar dan tidak sadar sedang memberitakan kabar buruk bagi dunia ini. Kita dapat mencermati bahwa banyak kejahatan bermula dari keangkuhan pilihan sikap hidup semacam itu.

Perjalanan panjang umat Isarel pulang kembali ke Kanaan membuat mereka tidak mampu menahan hati di tengah jalan (Bil. 21:4). Rupanya Mesir masih ada dalam hati mereka. Mereka lupa akan pertolongan dan penyertaan yang telah diberikan Allah selama ini. Makanan dari “manna” dan “air dari bukit batu” tidak cukup (Kel. 16:35, Bil. 11:7-9, Bil 20:8). Mereka ingin lebih. Dengan cepat mereka menyimpulkan bahwa kehidupan lama sebagai budak di Mesir adalah lebih baik! (Bil 21:5). Mereka memilih melawan Allah dan mengabaikan kepemimpinan Musa.

Rupanya Allah mendengarkan “doa” karena ketidaksabaran mereka itu. Sekumpulan ular tedung yang berbisa memagut banyak orang dan menimbulkan banyak kematian. Menurut para ahli, bisa ular tedung yang masuk ke tubuh akan menimbulkan rasa kehausan yang luar biasa. “Mati”, “haus” dan keadaan “muak” dikelilingi ular tedung mereka dapatkan! Allah sepertinya telah mendidik mereka dengan keras dan tegas.

Umat yang tidak sabar dan tidak sadar itu akhirnya belajar. Mereka menyesal. Mereka mau kembali kepada pemeliharaan Allah. Kasih anugerah Allah setia. Sebagai pembelajaran tentang makna beriman, Allah memerintahkan Musa membuat replika ular tedung dari tembaga yang diletakan pada tiang. Mereka yang menyesal, ingat kepada Allah dan memandang replika ular itu tetap hidup. Sebenarnya bukan replika ular yang menyelamatkan, tetapi iman kepada pertolongan Allah itulah yang membuat mereka hidup. Oleh sebab itu kelak replika itu dihancurkan saat diberhalakan (2 Raj. 18:4).

Saat menanggapi keingintahuan lebih lanjut Nikodemus tentang karya Allah dalam diri-Nya, Yesus menyinggung tentang replika ular yang ditinggikan itu dan juga karya kemuliaan-Nya dalam salib, kebangkitan dan kenaikan-Nya. Orang yang mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus yang diutus-Nya, sedang mengalami hidup yang kekal (Yoh. 17:3). Hidup kekal adalah hidup yang berkualitas, hidup dalam persekutan dengan kasih Allah. Hidup yang sadar bahwa tanpa Allah ia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Kepada orang yang karena dosanya mengalami kesusahan dan derita, Allah peduli. Kala orang sadar akan kesalahannya dan mau berbalik kepada Allah, Ia memberikan pertolongan. Yesus Kristus yang ditinggikan melalui kayu salib, kebangkitan dan kenaikan-Nya adalah bukti pertolongan Allah yang kasih-Nya setia. Sedari awal dan sampai selama-lamanya hidup yang berkualitas dan sejati tidak pernah dapat diraih sendiri oleh manusia, karena pada hakikatnya merupakan pemberian Allah. Kabar baik akan tersedianya pemberian Allah yang berlimpah melalui Yesus Kristus itu tidak boleh disimpan sendiri, tetapi harus dikabarkan kepada banyak orang.

Karena karya Kristus, orang diperbarui, “diciptakan baru”. Tidak lagi kini ia hidup dalam dosa, sebab karena anugerah Allah ia dimampukan untuk melakukan pekerjaan baik seturut dengan apa yang sudah diajarkan dan diteladanan Kristus (Ef. 2:10). Hidupnya menjadi kabar yang baik bagi sesamanya dan lingkungannya. Karena pengenalannya kepada Allah dalam kasih Kristus, kualitas-kualitas baik yang sudah diterimanya akan disalurkan kepada yang lain. Orang itu sedang datang kepada”terang” dan perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah (Yoh. 3:21).

Pertanyaan Aplikasi:
  • Apa yang menyebakan umat Israel tidak dapat “menahan hati” di tengah jalan (Bil. 21:4)?
  • Alasan apa yang dikemukakan dalam Mazmur 107:1-3, 17-22 sehingga umat patut bersyukur?
  • Menurut anda apakah “hidup yang kekal” itu? (Bandingkan dengan Yoh. 17:3)
  • Apa yang harus dilakukan oleh orang yang sudah menerima anugerah Allah? (Ef. 2:10)
  • Bagaimana tanggapan anda akan sebuah kenyataan, bahwa Allah itu sabar? Apa tanda yang nyata dari orang yang sadar akan kasih Allah? Bagaimana agar hidup anda menjadi kabar baik bagi dunia?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments