Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 18 Desember 2011

diposting pada tanggal 23 Des 2011 20.03 oleh Essy Eisen
Yesus Segala-galanya
Yesaya 61 : 1-4, 8 -11, Mazmur 126, I Tesalonika 5 : 16 -24, Yohanes 1 : 6-8, 19-28

Roh Tuhan Allah akan mengurapi orang untuk mampu memberitakan kabar baik dari Allah kepada orang lain (Yes 61:1,9). Orang yang diurapi Allah membuat orang lain menyadari kehadiran Allah melalui tindakan-tindakan yang diperbuat oleh orang itu (Mzm 126, 2-3). Mereka menjadi saksi-saksi kebaikan Allah bagi orang lain. Hidup mereka menjadi hidup yang terarah kepada Allah dan juga mengarahkan orang lain kepada Allah.

Namun dapat terjadi, urapan Roh Tuhan Allah yang baik itu padam. Saat seseorang enggan untuk mengenali karya Allah yang melintasi ruang dan waktu. Saat seseorang mudah lupa akan penyertaan Allah pada masa silam dan janji penyertaan-Nya pada masa mendatang. Oleh sebab itu Paulus menasihatkan, agar orang Kristen jangan memadamkan Roh atau menganggap rendah apa-apa yang sudah dituliskan dalam Kitab Suci. Paulus mendorong orang Kristen untuk belajar kebenaran-kebenaran yang dari Allah agar hikmat Allah digunakan dalam menelaah dan mengambil keputusan-keputusan hidup (1 Tes 5:19-20).

Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat Dunia. Dialah Sumber Kebenaran dan Hidup, yang diurapi Allah. Dialah Mesias/Kristus. Di dalam Dia nyata kebaikan Allah. Melalui Dia orang dimampukan untuk mengenali dan memberlakukan kebaikan Allah dalam kehidupan, menjadi orang yang diberkati. Tetapi bukan berhenti sampai disitu saja. Kristus, Terang Dunia, membuat orang bersukacita untuk melanjutkan kebaikan Allah bagi orang lain dengan setia.

Lukas menceritakan, selagi dalam kandunganpun, Yesus sudah memberikan sukacita bagi orang lain. Yohanes pembaptis yang ada dalam kandungan Elisabet melonjak dan Elisabet dipenuhi sukacita karena penghiburan Roh Kudus. (Luk 1:39-43). Setelah dewasa, karya Allah melalui kehidupan-Nya bertambah jelas dan nyata, memberikan pembaruan hidup kepada banyak orang. Itulah sebabnya menjadi perkara yang amat sangat penting agar orang dapat menemukan, mengenali dan percaya kepada Yesus Kristus agar hidupnya mengalami pembaruan. Hidup dalam jalan yang sungguh menyelamatkan.

Yohanes Pembaptis melakukan tugas itu dengan baik. Yohanes, walaupun seorang pengkotbah yang besar pada zamannya dan memiliki pengikut-pengikut yang setia, dengan tegas mengakui bahwa posisinya lebih rendah ketimbang Yesus. Tugasnya ialah menunjukan Yesus kepada orang banyak. Kerinduannya adalah supaya orang mendapatkan Yesus sebagai yang menerangi jalan hidup manusia (Yoh 1:6-8). Yohanes menjadi “orang yang berseru-seru di padang gurun”, mengajak orang bertobat dan memulai lembaran baru kehidupan mereka sebagai langkah awal menerima Kristus Sang Terang Hidup (Yoh 1:19-28).

Minggu ini adalah Adven terakhir. Seminggu lagi, kita merayakan Natal. Persiapan-persiapan kita lakukan. Tentu persiapan hati tidak boleh terlewatkan. Bahkan yang paling penting malah. Sikap Yohanes Pembaptis boleh menjadi contoh bagi kita dalam mempersiapkan hati. Kita terpanggil untuk menyadari bahwa Yesus-lah yang segala-galanya dan bukan kita. Kehadiran kita seharusnya menunjukkan kepada orang lain akan kenyataan kasih Kristus di dunia.

Pada hari Natal selepas pulang kebaktian, seorang anak mendapatkan hadiah Natal dari orang tuanya. Hatinya sungguh senang, dan ia memeluk orangtuanya dengan senyum yang lebar. Beberapa waktu berselang, orang tuanya heran. Sebab hadiah Natal dari mereka, sepasang sepatu baru tidak dikenakannya. Lalu orang tuanya bertanya kepadanya. Anak itu menjawab “Papa Mama… yang ulang tahun kan Tuhan Yesus, masa saya yang dapat hadiah?” seraya tersenyum lalu melanjutkan, “Saya senang Papa Mama memberikan hadiah itu, tetapi hadiah itu saya sudah berikan kepada teman sekolah minggu saya, sebab sepatu saya masih bagus, masih bisa dipakai. Sedangkan teman saya itu, sepatunya sudah robek ujungnya. Jadi saya kasih hadiah itu untuk dia. Dia senang sekali! Tuhan Yesus sudah menunjukkan kebaikan-Nya melalui Papa Mama, dan di Natal ini, saya melanjutkan kasih Tuhan Yesus itu kepada teman saya. Di sekolah minggu diajarkan bahwa Tuhan Yesus mengasihi anak-anak. Pasti Tuhan Yesus senang, kalau sepatu itu saya berikan untuk teman saya. Bukankah Dia yang seharusnya paling senang di pesta ulang tahun-Nya ini?” Orang tuanya tersenyum bangga, lalu memeluknya dengan erat sambil berkata, “Benar nak, Tuhan Yesus pasti senang”.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments