Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 18 Agustus 2013

diposkan pada tanggal 17 Sep 2013 22.59 oleh Essy Eisen
Mata yang tertuju kepada Yesus

Yeremia 23:23-29; Mazmur 82; Ibrani 11:29-12:2; Lukas 12:49-56

"Sudahkah yang terbaik kuberikan kepada Yesus Tuhanku, besar pengorbananNya di Kalvari, diharap-Nya yang terbaik dariku, berapa yang terhilang tlah kucari dan kubebaskan yang terbelenggu, sudahkah yang terbaik kuberikan kepada Yesus Tuhanku"

Lagu tersebut membawa kita kepada suatu instropeksi diri dalam melakukan pelayanan yang telah kita lakukan. Benarkah kita sudah memberikan pelayanan yang terbaik bagi-Nya? Ataukah pelayanan hanya sekadar pelayanan?

Tanpa kita sadari terkadang pelayanan yang kita lakukan tidak lagi tertuju kepada Tuhan, dengan memberikan waktu sisa kita untuk melayani. Ketika kita memiliki waktu luang, maka kita akan pelayanan tetapi ketika banyak tugas dikantor/sekolah/kampus kita memilih untuk mengorbankan waktu pelayanan kita untuk tugas-tugas tersebut; Dengan tidak memiliki tujuan dalam melakukan pelayanan; Dengan tidak mau mengorbankan ego, harga diri apapun demi mengutamakan pelayanan sehingga pelayanan yang dilakukan tidak lagi antusias terarah kepada Tuhan. Karena bukankah inti dari pelayanan adalah memberikan sepenuh diri kita kepada pelayanan yang berarti rela mengorbankan kepentingan pribadi untuk pelayanan?

Pelayanan adalah salah satu bentuk ungkapan syukur kita kepada Tuhan, dengan begitu kita mempergunakan berkat dan talenta untuk melakukan pelayanan terhadap sesama. Maka ketika pelayanan yang kita lakukan menjadi kering, bukankah kemudian menjadi beban bagi diri kita sendiri? Dalam melakukan pelayanan terkadang apa yang kita lakukan masih tertuju pada pandangan manusia sehingga kita tidak melakukan pelayanan dengan hati yang tulus, kita lupa bahwa Tuhan menilai apa yang kita lakukan, apakah memang berkenan dihadapan Allah?

Dalam kehidupan sehari-hari ketika kita memperlakukan sesama juga, kita sedang melakukan pelayanan. dan sering kali kita tidak menyadari hal tersebut. Mazmur 82 mengingatkan kita untuk dapat mengingat kaum lemah yang ada disekitar kita dan melayani mereka. Pelayanan tidak hanya sebatas kegiatan gerejawi, tetapi juga melingkupi bagaimana kita dapat memberikan kasih kepada kaum lemah. Doa dan ucapan syukur merupakan salah satu cara agar pelayanan yang kita lakukan tidak menjadi kering dan hampa. ketika kita menyadari bahwa kita melayani sebagai bentuk ungkapan syukur atas anugerah yang sudah diberikan kepada kita, maka kita akan dapat merasakan bahwa pelayanan kita tertuju kepada Tuhan, bukan hanya sekedar pelayanan, dan melakukan pelayanan bukan sekedar sebagai rutinitas atau pelengkap hidup, tetapi pelayanan yang antusias, yang mendamaikan yang mengarah kepada Tuhan.

Pertanyaan reflektif:
  1. Apakah kendala anda dalam melakukan pelayanan?
  2. Apakah kendala tersebut dapat mengurangi antusinisme pelayanan yang anda lakukan?
  3. Bagaimana caranya agar pelayanan yang antusias tidak pudar?

(Merry C. Takasowa, S.Si. (Teol.))
Comments