Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 17 Juli 2011

diposting pada tanggal 16 Jul 2011 21.47 oleh Essy Eisen
Menunggu Waktu-Nya

Yesaya 44:6-8, Mazmur 86:11-17, Roma 8:12-25, Matius 13:24-30, 36-43

Tidak semua orang bersedia untuk menunggu. Apalagi jika dalam menunggu itu ia memiliki kemampuan untuk mengabaikan apa yang ditunggu. Belum lagi godaan-godaan yang acapkali datang. Semua itu dapat saja dengan segera mengalihkan perhatian dan kesetiaan menunggu itu kepada hal-hal lain yang lebih mudah, lebih menyenangkan dan lebih menjanjikan dalam sekejap pandangan.

Umat Allah yang ada dalam pembuangan di Babel harus menunggu. Mata mereka melihat dewa-dewi Babel. Oh, betapa digdayanya mereka. Kultur budaya dan agama yang berbeda melingkupi mereka dan dapat saja dengan segera menghilangkan ingatan mereka akan Allah yang hidup dan memelihara mereka. Mereka diperhadapkan kepada pilihan entah takut kepada Allah, atau takut kepada kesusahan hidup yang jelas-jelas dialami. Namun, janji Allah setia. Ia seperti Gunung Batu yang kokoh. Kuasa-Nya tidak sebanding dengan kekuatiran dan ketakutan umat (Yes 44:6-8). Dalam kesusahan, Allah ada bersama mereka! Doa pemazmur (Mzm 86:11-17) menjadi doa yang benar bagi umat, pada saat mengalami himpitan kesusahan kehidupan. Mengucap syukur, memohon dengan kerendahan hati pertolongan Allah, ialah tindakan-tindakan yang benar dan bijaksana ketimbang curiga kepada Allah dan berpaling kepada kekuatan diri sendiri atau kekuatan lain yang melawan Allah.

Tuhan Yesus mengungkapkan kenyataan kehidupan beriman yang tidak dibuat-buat. Ilalang dan Gandum tumbuh bersama. Anak-anak kerajaan dan anak-anak iblis hidup berdampingan (Mat 13:24-30, 36-43). Apa artinya? Kehidupan beriman memang tidak akan lepas dari masalah. Rongrongan dan godaan untuk memuaskan hawa nafsu yang jahat waktu demi waktu akan dialami. Tetapi akan tiba waktu-Nya, yaitu waktu yang diperkenan Allah, saat Ia menyatakan kuasa-Nya. Saat itu terjadi, akan terlihat dan terasakan jelas mana sukacita yang asli dan yang palsu, mana damai yang murni dan yang semu. Kehidupan bersama Kristus adalah kehidupan dengan cara pandang baru. Kehidupan yang dimampukan Allah untuk melihat sudut-sudut lain yang tidak ditandai dengan ketakutan, tetapi dengan hormat kepada Allah yang dengan setia menyertai layaknya seorang Bapa kepada anak-anak-Nya. Dalam iman itu, ajakan untuk menunggu waktu-Nya, tidak lagi ditandai dengan kegelisahan, tetapi dengan penuh pengharapan dan ketekunan (Rm 8:12-25).

Rencana Allah selalu baik. Waktu Allah selalu tepat. Allah memahami apa yang paling dibutuhkan oleh umat yang mengasihi-Nya. Dalam kesengsaraan dan tantangan iman yang dihadapi umat-Nya, Allah terus menyimak dengan seksama dan tentu pada saat-Nya akan menampakkan kuasa yang membebaskan bagi setiap orang yang menantikan-Nya dengan tekun. Bersediakah kita menunggu waktu-Nya? (Pdt. Essy Eisen)

(Pdt. Essy Eisen)
Comments