Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 16 Oktober 2011

diposting pada tanggal 17 Okt 2011 12.03 oleh Essy Eisen
Menjalankan Peran dari Tuhan dengan Baik dan Benar

Yesaya 45:1-7, Mazmur 96, 2 Tesalonika 1:1-10, Matius 22:15-22


Ada orang berseloroh begini: “Banyak orang berjabatan Jenderal, tetapi sedikit yang benar-benar adalah seorang Jendral”. Selorohan ini mengungkapkan betapa penting status yang diemban dijalankan dengan peran kinerja yang sungguh-sungguh juga. Sebagai pengikut Kristus, kita memiliki status sebagai orang yang sudah menerima kebaikan Allah dalam wujud keselamatan dan hidup baru. Peran sebagai pengikut Kristus, pada giliriannya harus dijalankan juga dengan baik, supaya status dan fungsi berjalan beriringan dengan indah dan sempurna.

Dalam pembacaan kita hari ini, kita menjumpai orang-orang yang bukan saja mendapatkan status, tetapi juga dengan serius menjalankan peran mereka, yaitu: Koresy, seorang Raja yang bukan saja memperhatikan karya politik, dengan memulangkan bangsa Israel ke tanah leluhur dan mengizinkan mereka membangun ulang kota Yerusalem, tetapi juga menyadari perlunya umat untuk memiliki spiritualitas yang sehat. Dengan teguh ia mengingatkan bahwa Allah adalah Raja dan Hakim yang adil. Lalu jemaat Tesalonika yang walaupun dalam tekanan tantangan zaman dan penderitaan, tetap mampu menjaga iman, tabah dalam kesukaran dan saling menopang satu sama lain di antara sesama saudara seiman.

Untuk menjalankan peran dengan baik, seseorang perlu memiliki hikmat dari Tuhan melengkapi segala kemampuan mereka. Kata-kata Tuhan Yesus: “berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” adalah sebuah tindakan bijaksana dalam keseimbangan yang sempurna bahwa setiap orang percaya harus memiliki ketaatan total kepada Allah dan kasih yang mutlak dan dewasa kepada sesama manusia.

Menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai pengikut Kristus memang tidak mudah, sebab dalam kehidupan baru, pengikut Kristus senantiasa berjuang melawan tatanan kehidupan lama yang dikuasai pementingan diri sendiri dan godaan hawa nafsu yang jahat. Tetapi kepada setiap orang yang dengan setia menjalankan perannya, Allah memberikan perlengkapan yang diperlukan. Keberpihakan Allah tertuju kepada setiap orang yang mau berjuang di jalan-Nya.

Buah dari ketaatan di dalam menjalankan peran tidak serta merta muncul dengan segera, tetapi dengan peran yang dijalankan secara serius konsisten dengan penuh komitmen, orang itu akan memberikan pengaruh mulai dari lingkup kecil di mana ia berada meluas ke dalam lingkaran pengaruh yang lebih besar lagi. Dengan kesadaran bahwa peran yang dijalankan asalnya dari Tuhan, maka “amanah” itu dihayati dengan kesadaran saat peran dilakukan dengan baik, mereka secara tidak langsung sedang berbakti kepada Tuhan. Peran yang dijalankan dengan penghayatan yang seperti ini akan menghasilkan daya kuasa yang tidak sama dengan peran yang dijalankan dengan terpaksa atau ritme kebiasaan saja.

Dalam setiap peran yang dipercayakan dan diberikan Allah kepada kita, apakah kita sungguh-sungguh bersyukur dan menjalankannya dengan penuh hormat dan takut kepada Allah? Apakah dengan peran yang kita jalankan kita sudah menghasilkan dampak yang membangun kepada setiap orang yang ada dalam lingkup pengaruh kehadiran kita? Apakah kita mau terus berproses menembus segala tantangan yang ada, karena percaya bahwa dalam segala proses itu Allah turut bekerja bersama dengan kita? Selamat menjalankan peran yang dipercayakan Allah. Nantikan buah dari ketaatan kita dengan kesabaran dan kerendahan hati, pada waktu-Nya.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments