Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 16 Nopember 2014

diposkan pada tanggal 14 Nov 2014 09.47 oleh Admin Situs
Bila Tuhan Mengutus

(Hakim-Hakim 4:1-7 ; Mazmur 123 ; I Tesalonika 5:1-11 ; Matius 25:14-30)

"Tuhan, utus aku kemana saja, hanya sertailah aku. Letakkan beban apa saja atasku, hanya topanglah aku. Putuskan ikatan apa saja dari padaku, kecuali ikatan yang mengikatku kepada pelayanan-Mu dan kepada hati-Mu."
Ini adalah sepenggal dari untaian doa yang dipanjatkan oleh David Livingstone. Ia adalah seorang misionaris yang melayani Tuhan begitu luar biasa di Afrika. Sejak masa kecilnya, ayahnya sering membacakan kisah-kisah keteladanan iman dari Alkitab. Ketika dewasa, saat dia mengambil kuliah, David tertarik untuk mengambil kedokteran. Dia memiliki kerinduan untuk dapat pergi ke China untuk menjadi dokter di sana, tetapi kesempatan itu tidak terwujud. Lalu David Livingstone mendapat mimpi. Dia melihat benua Afrika dan dia melihat ada asap yang mengepul dari setiap desa di benua Afrika tersebut. Dan, David mendengar seperti ada suara, " Siapa yang mau Kuutus kesana?" David pun tahu bahwa kesanalah Allah telah memanggilnya. Lalu David mulai berangkat kesana, memasuki dan menerobos setiap hutan Afrika yang lebat. Berbagi ilmu pengobatan di setiap desa, membagikan kasih Kristus dan memberitakan Injil Kristus. David bersaksi bahwa yang menguatkan dan menghiburnya dalam semua pelayanan dan penderitaan yang dialaminya adalah janji dari sang Juruselamat: "….Ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20).

Pada dasarnya setiap orang percaya dipanggil dan diutus Tuhan untuk menjadi saksiNya dalam dunia ini. Walaupun tidak harus menuju ke pedalaman Afrika seperti David. Tetapi dimanapun kita berada di sanalah kita menjadi utusan Tuhan di dunia ini. Tuhan menawarkan begitu banyak tempat pengutusan akan tetapi banyak orang yang masih memiliki keraguan untuk menerima pengutusan tersebut. Padahal setiap Tuhan mengutus Ia pasti memperlengkapi hamba-Nya.

Hakim-Hakim 4:1-7 adalah salah satu contoh penyertaan Tuhan terhadap utusan-Nya. dikisahkan bahwa Ehud menolong dan memulihkan kehidupan banga Israel yang menyimpang dari Tuhan. selama 80 tahun Israel hidup dengan takut akan Tuhan, akan tetapi setelah Ehud meninggal, Israel kembali melakukan yang jahat di mata Tuhan.

Karenanya Tuhan menghukum Israel lewat tangan Yabin raja Kanaan (ayat 2). Israel berseru kepada Tuhan dan Ia bertindak menolong umat-Nya, dengan memakai seorang perempuan bernama Debora (ayat 4). Pemilihan Allah atas Debora hendak menunjukkan bahwa Allah mampu memakai siapa saja untuk menjadi utusannya dan memperlengkapi sang utusan dengan kuat kuasa-Nya. Dalam tradisi Israel, perempuan adalah warga kelas dua dan dipandang sebagai kaum lemah. Akan tetapi ketika Tuhan memanggil (ayat 6) Ia melengkapi dengan segala sesuatu yang diperlukan. Tuhan membuka mata bangsa Israel (sekaligus mata kita), meski Debora seorang perempuan dengan segala keterbatasan dan juga statusnya, Tuhan memakainya (ayat 9). Dan kuasa Allah serta penyertaanNya akan memperlengkapi, menguatkan setiap orang yang diutusNya.

Saat ini kita masing-masingpun diutus oleh Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya kasih-Nya di dunia. Kita diminta untuk taat mengerjakan pengutusan itu. Dalam konteks pekerjaan; Ia mengutus kita agar menjadi pekerja yang menginspirasi orang lain, menunjukkan nilai-nilai kristiani dalam melakukan tugas dan karya. Dalam konteks bermasyarakat, kita diutus untuk menunjukkan kasih Kristus melalui tutur kata dan perbuatan sehari-hari. Dalam konteks keluarga, kita diutus untuk menghadirkan kasih yang hangat bagi seluruh anggota keluarga. Dalam konteks gereja, kita dipanggil untuk terlibat dalam pelayanan gerejawi (menjadi penatua, liturgos, lektor, penyambut umat, pemandu pujian dsb). Ketika Tuhan memanggil dan mengutus kita, Ia pasti memperlengkapi dengan segala yang perlu, sehingga kita dimampukan untuk melaksanakan tugas pengutusan itu. Tapi pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan adalah : “Apakah kita mendengarkan panggilan-Nya?” dan kemudian berani menjawab “Ya Tuhan ini aku, utuslah aku.”

IA memanggil banyak pekerja untuk ladang-Nya, apakah anda salah satu yang dipanggil-Nya? 

(Bpk. Noerman Sasono, S.Si.(Teol.))
Comments