Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 23 Juni 2013

diposkan pada tanggal 18 Jun 2013 21.36 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.47 oleh Admin Situs ]
Mana Suara Kenabianmu?

(Yes 65:1-9, Mzm 22:19-28, Gal 3:23-29, Luk 8:26-39) 

Menyerukan suara kenabian merupakan perintah Tuhan. Setiap orang yang telah menerima pertolongan-Nya harus berani menyerukan suara kenabian. Dalam konteks sejarah kehidupan umat percaya suara kenabian telah digemakan oleh para nabi dan para rasul. Dalam konteks Indonesia, suara kenabian masih sangat dibutuhkan. Bangsa ini sedang sakit, tatkala kejujuran justru dihujat, dan kebenaran menjadi tontonan yang unik. Masih lekat dalam ingatan kita kisah tentang Siami, seorang ibu yang melaporkan kecurangan pelaksanaan ujian yang terjadi di sekolah anaknya di kota Surabaya. Siami dihujat, dituduh sok suci bahkan ia pun dimusuhi. Ada lagi kasus Prita yang berurusan dengan penegak hukum, karena keluhannya di media sosial tentang pelayanan sebuah rumah sakit internasional yang buruk. Sekarang adalah jaman yang tidak mudah bagi seseorang untuk berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Justru di jaman yang seperti inilah suara kenabian sangat perlu diperdengarkan!

Pria dari Gerasa yang dipulihkan dan diselamatkan oleh Yesus menjalankan fungsinya untuk memberitakan suara kenabian. Pria Gerasa tersebut memohon agar dia diperkenankan untuk menjadi murid Kristus. Namun Tuhan Yesus justru memberi pria Gerasa tersebut suatu peran yang lebih jauh dari pada sekedar seorang murid. Tuhan Yesus memberi pria Gerasa tersebut suatu peran
sebagai seorang utusan. Di Luk. 8:39, Tuhan Yesus berkata: “Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu". Modal utama tugas pengutusan pria Gerasa adalah pengalamannya yang begitu lama dikuasai dan diperbudak oleh roh najis, tetapi dalam waktu yang sangat singkat telah dipulihkan oleh Tuhan Yesus. Sehingga pria Gerasa itu dapat melihat betapa besar dan nyatanya kuasa Allah di dalam diri Kristus. Setan-setan yang selama ini tidak dapat ditundukkan atau dikalahkan oleh siapapun, tetapi akhirnya dapat dengan mudah dikalahkan oleh kuasa Kristus. Jadi, apabila pria Gerasa tersebut mengajukan permohonan untuk mengikuti Kristus sebenarnya hasil dari suatu kesadaran yang nyata bahwa dia ingin melayani Anak Allah yang maha-tinggi. Namun apabila Kristus menyuruh pria Gerasa untuk menjadi utusanNya yaitu untuk menyampaikan karya keselamatan Allah yang telah terjadi, sesungguhnya merupakan suatu hal yang sangat membanggakan, yaitu dia diperkenankan untuk menjadi utusan dari Anak Allah yang maha-tinggi.

Kita sering enggan untuk melayani dan menjadi utusan Kristus karena kita tidak menyadari bahwa kita diperkenankan untuk melayani Kristus selaku Anak Allah yang maha-tinggi. Itu sebabnya tugas pelayanan dan pengutusan sering kita lakukan secara asal-asalan atau sambil lalu karena tergantung situasi hati kita. Apabila hati kita sedang bersukacita, maka kita akan lakukan; tetapi apabila kita sedang kecewa dan tidak terpenuhi berbagai harapan, maka kita akan mengabaikan dan tidak peduli dengan tanggungjawab yang telah dipercayakan Allah kepada kita. Penyebabnya karena kita belum membuka diri untuk dipulihkan dan dibebaskan sepenuhnya dari belenggu para roh yang najis. Kehidupan kita masih dikuasai oleh “para legion” yaitu kuasa-kuasa dunia ini. Bukankah ketika kita masih dikuasai oleh “legion nafsu serakah”, “legion nafsu amarah”, “legion nafsu keras kepala”, “legion kesombongan”, dan berbagai “legion lainnya” maka kita tidak mungkin mampu menjadi pengikut dan utusan Kristus?. Dengan berbagai belenggu kuasa duniawi tersebut, kita tidak mungkin mampu mempermuliakan Allah dan mengasihi Kristus dalam kehidupan kita. Sebab yang kita permuliakan adalah diri kita sendiri dan berbagai kepentingan pribadi kita. 

Oleh karena itu marilah kita setiap hari membuka hati terhadap suara Tuhan sehingga IA akan melepaskan legion-legion yang masih menaungi kita. Setelah kita disembuhkan, mari perdengarkan suara kenabian kita kepada bangsa ini!

Noerman Sasono, S.Si. (Teol.)
Comments