Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 15 September 2013

diposting pada tanggal 17 Sep 2013 23.30 oleh Essy Eisen
Yang hilang, yang dicari, yang dikasihi

Ketika memiliki sebuah barang kesayangan, lalu barang yang kita sayangi tersebut hilang, pastilah kita akan dengan sepenuh hati mencari barang tersebut hingga akhirnya ditemukan. Gadget misalnya, saya pernah lupa menaruh gadget saya yang baru saja dibeli beberapa bulan, lalu semua orangpun heboh membantu mencari gadget tersebut hingga akhirnya ditemukan. Ketika sebuah barang hilang, mungkin yang dipertimbangkan adalah harga, ataupun makna dari barang tersebut. Sering kali saya menemukan Alkitab yang tertinggal digereja tapi jarang sekali yang mencari Alkitab tersebut. Adapun satu orang yang akhirnya menelepon gereja dan menanyakan Alkitabnya adalah seorang bapak yang ternyata Alkitabnya adalah jenis Alkitab yang langka ataupun mahal. Sayapun menjadi bertanya-tanya apakah gadget / barang lain yang lebih mahal harganya kini lebih memiliki arti bagi seseorang dibandingkan Alkitabnya?

Perumpamaan tentang domba yang hilang sering kali difavoritkan untuk menjadi salah satu landasan bahwa Tuhan selalu mencari orang-orang yang terhilang, Ia mencarinya hingga akhirnya ditemukan. Mengapa? Karena Ia mengasihi umat-Nya. Dalam perumpamaan tersebut sang Gembala tidak peduli berapa usia domba tersebut, berapakah beratnya? Jenis kelaminnya? Ataukah domba tersebut akan menguntungkan atau merugikannya. Yang menjadi fokus sang Gembala adalah Ia mengenal domba-Nya, Ia mengasihi domba-Nya dan Ia takut kehilangan domba-Nya.

Dari empat bacaan kita hari ini, terlihat bahwa dalam hal ini ada timbal balik bahwa ketika Tuhan memberikan pengampunan bagi manusia harus disertai dengan mengakui dosa dan pertobatan yang sungguh-sungguh. Mazmur yang kita baca adalah curahan hati Daud yang menyatakan penyesalannya setelah nabi Natan menegur atas dosa yang ia lakukan dengan merebut Betsyeba dari Uria suaminya, sekaligus pengampunan dosa dari Tuhan. Bagitupun dalam Timotius yang berisi kesadaran Paulus akan dosanya di masa lalu namun kemudian Ia bertobat. Paulus adalah salah satu contoh konkrit mengenai domba yang tersesat namun dicari oleh sang Gembala sehingga akhirnya beroleh anugerah keselamatan.

Sebuah pengalaman berharga, datang ketika banjir melanda Jakarta diawal tahun ini. Seorang penjahat yang beragama non Kristen dari sebuah daerah melarikan diri ke Jakarta, lalu hidup luntang-lantung di keramaian Jakarta hingga akhirnya banjir melanda dan sebuah gereja membukakan gedungnya untuk menjadi sebuah pengungsian. Pria tersebutpun menjadi salah satu pengungsi di gereja tersebut. Lalu dia melihat betapa para relawan yang rata-rata orang Kristen melayani para pengungsi dengan sepenuh hati mereka tanpa mempedulikan kesehatan mereka sendiri, ia melihat bagaimana gereja dengan tangan terbuka melayani para pengungsi yang berjumlah ribuan tersebut tanpa pandang bulu, dan ia merasakan kasih Tuhan selama berada di gereja yang berubah fungsi menjadi tempat pengungsian tersebut. Hingga pada akhirnya hatinya terketuk untuk bertobat dan memeluk agama Kristen. Tidak banyak orang yang menyadari hal tersebut, hanya beberapa orang dari relawan tersebut yang mengetahui kisah ini. Namun dari sini kita melihat bahwa gereja adalah perpanjangan tangan sang Gembala untuk mencari domba-domba yang terhilang. Tanpa disadari atau tidak, perilaku kita sebagai jemaat Tuhan bisa menjadi batu sandungan ataupun menjadi berkat bagi orang lain. Bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam meraih domba-domba yang hilang atau malah membuat domba-domba tersebut makin menjauh.

Refleksi:
  1. Apakah kita sudah mencintai sesama kita melebihi rasa kasih kita terhadap barang kesayangan, sehingga ketika ia terhilang maka kita mencarinya dengan sepenuh hati kita?
  2. Apakah kita sebagai jemaat Tuhan mampu melepaskan diri dari zona nyaman kita dan pergi ke tempat-tempat dimana para domba yang hilang tersesat?

(Merry C. Takasowa, S.Si. (Teol.))
Comments