Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 15 April 2012

diposkan pada tanggal 14 Apr 2012 08.46 oleh Essy Eisen   [ diperbarui14 Apr 2012 08.47 ]
"Damai sejahtera bagi kamu!"

Kisah Para Rasul 4:32-35, Mazmur 133, 1 Yohanes 1:1-2:2, Yohanes 20:19-31

“Privasi” dan “menutup diri” adalah dua hal yang memiliki perbedaan yang tipis. Semua orang butuh “privasi” atau dengan kata lain “waktu pribadi” di mana ia dapat mengisinya dengan hal-hal yang menenangkan diri, lepas dari kepenatan dalam aktivitas keseharian hidup. Namun “menutup diri” adalah tindakan yang berbeda dan cenderung tidak menyehatkan. Manusia pada hakikatnya selalu butuh bersosialisasi. Manusia tidak dapat hidup seorang sendiri. Allah yang baik itu, mengaruniakan kepada setiap orang untuk dapat memberikan “kemampuan dan kelebihannya” kepada orang lain, dan juga pada gilirannya menerima apa-apa yang dapat melengkapi “kekurangan”nya dari orang lain. Sepandai-pandainya orang “menutup diri”, Allah jauh lebih berkuasa, dan pada saat-Nya, Ia akan datang untuk merengkuh kita keluar agar mengalami pembaruan hidup yang disediakan-Nya.

Gereja Tuhan Yesus Kristus ialah kumpulan orang yang bersehati dan sejiwa karena kasih Allah yang melimpahi setiap pribadi yang ada di dalamnya. Kasih Allah itu memberikan damai sejahtera kepada setiap anggota untuk melanjutkan kasih persaudaraan di antara sesamanya. Dalam kehangatan persekutuan dengan Allah, setiap anggota gereja dimampukan untuk memelihara kehangatan kasih dengan yang lainnya (Kis. 4:32-35). Melalui kesaksian Kitab Suci kita memahami bahwa Allah sungguh berkenan dan akan memerintahkan berkat kepada setiap kumpulan orang yang menghidupi damai sejahtera-Nya (Mzm. 133).

Tuhan Yesus Kristus yang bangkit menghadirkan damai sejahtera dalam kehidupan para pengikut-Nya. Sungguh nyata bahwa kasih Allah tidak mampu dihalangi oleh batu kubur yang berat, atau pintu yang dikunci dari dalam karena ketakutan. Melalui kasih karunia-Nya yang berlimpah, Allah memampukan umat-Nya untuk dapat mengenali hikmat kebenaran Kitab Suci tentang kebangkitan Kristus. Ia senantiasa berkenan menunjukkan kuasa-Nya yang melenyapkan ketakutan manusia, sebagaimana yang pernah ditunjukkan-Nya kepada murid-murid Kristus.

Kehadiran Kristus yang bangkit menjadi titik balik dalam kehidupan pengikut Kristus. Mereka menerima karunia Roh Kudus yang memampukan mereka untuk melanjutkan karya kasih Kristus bagi dunia. Karena damai sejahtera Allah, mereka menerima tugas perutusan dari Yesus untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya dan juga bangkit dalam semangat baru di tengah kehidupan dengan tidak lagi menutup diri karena ketakutan dan ketidaktahuan. Mereka percaya bahwa dosa-dosa mereka sudah diampuni dan kini mereka sudah hidup dalam perdamaian dengan Allah (1 Yoh. 1:1-2:2). Kepada para pengikut-Nya Kristus memberikan kuasa untuk merengkuh jiwa-jiwa yang hilang karena terpengaruh kuasa dosa. Ia memberitakan rahmat Allah yang berlimpah yang sudah terjadi karena karya-Nya (Yoh. 20:19-23).

Memang tidak semua orang dengan cepat mampu mengenali rahmat Allah yang membarui hidup itu. Di antara murid-murid Yesus sendiri ada sosok Tomas, yang tidak mudah begitu saja percaya. Tetapi sikap kritis Tomas bukanlah hal yang jelek. Sebagai murid Kristus, imannya adalah iman yang mau bertumbuh dewasa. Kristus tidak menolak sikap Tomas itu. Sebagaimana Kristus memberikan damai sejahtera bagi murid-murid-Nya yang lain, Tomas pada akhirnya mendapat kesempatan untuk menyaksikan sendiri kuasa pembaruan Allah melalui kebangkitan Tuhan-Nya dan menjadi percaya (Yoh. 20:24-31).

Saat ini Gereja Tuhan Yesus Kristus di seluruh dunia dapat disebut sebagai orang-orang yang berbahagia. Sebab dalam iman, pengharapan dan kasih, walaupun kita tidak melihat penampakan Yesus yang dibangkitkan secara langsung, tetapi karena hikmat dan pertolongan Roh Kudus kita menjadi percaya. Kini kita tidak lagi menjadi orang-orang yang “menutup diri” karena ketakutan akan kuasa dosa. Tetapi karena kuasa kebangkitan, kita menjadi orang-orang yang dibebaskan. Kristus sanggup menembus “pintu hati” kita yang terkunci karena kekuatiran. Bukankah dengan iman kita mengenali suara-Nya yang lembut berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Oleh sebab itu, baiklah kita tetap aktif dalam persekutuan dengan saudara seiman dan dalam kehangatan dinamika persaudaraan yang saling memberi dan menerima. Dengan iman kita percaya bahwa setiap hari, Kristus datang lewat Roh Kudus dan melalui Firman-Nya untuk memberikan damai sejahtera-Nya yang melenyapkan segala ketakutan kita. (Pdt. Essy Eisen)
Comments