Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 14 September 2014

diposting pada tanggal 12 Sep 2014 07.14 oleh Admin Situs
Menang Tanpa Berperang

Keluaran 14:19-31; Mazmur 114; Roma 14:1-12; Matius 18:21-35

“Lebih dari pemenang, dalam s’gala perkara. Iblis t’lah dikalahkan, oleh kuasa darah-Nya. Jika Allah di pihak kita, siapa dapat melawan? Kita lebih dari pemenang. Haleluya…, kibarkanlah panji-Nya. Yesus Raja segala raja. Haleluya…, bangkitlah gereja-Nya. Kita lebih dari pemenang.”

Mendengar syair lagu di atas kita dapat merasakan suasana peperangan. Gereja seolah sedang berperang melawan musuh-musuhnya. Dan karena Allah ada di pihak gereja, maka tak ada lawan yang mampu bertahan. Gereja dalam lagu tersebut digambarkan sebagai pihak yang selalu berhasil mengalahkan musuh, selalu (dan akan selalu) menang. Benarkah gereja selalu menang?

Kita tidak tahu persis latar belakang penciptaan lagu tersebut. Mungkin penulisnya terilhami kisah-kisah tertentu dalam Alkitab, seperti kisah dalam Keluaran 14:19-31, misalnya. Dalam bacaan kita ini digambarkan bagaimana umat Israel sedang dikejar oleh musuhnya, yaitu orang Mesir. Orang Israel sudah hampir tersusul oleh musuh, sementara di hadapan mereka terbentang laut Teberau. Dalam situasi terjepit tersebut Allah turun tangan menolong. Allah membuat tiang awan sebagai penjaga jarak antara orang Israel dengan orang Mesir. Lalu Allah membelah laut Teberau agar semua umat Israel dapat menyeberang. Pada saat pasukan Mesir berhasil mengejar sampai di tengah laut yang tersibak, sementara orang Israel telah mencapai daratan di depannya, Allah membuat air laut melanda para pengejar itu. Seluruh pasukan Mesir tenggelam!

Untuk mengenangkan peristiwa ajaib tersebut Musa dan orang Israel membuat pujian. Syairnya menggambarkan kedahsyatan Allah: “Baiklah aku menyanyi bagi Tuhan, sebab ia tinggi luhur: kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut…. TUHAN itu pahlawan perang….” (Kel 15:1-3).

Jika kita cermati lagu pujian Musa ini, maka jelas digambarkan bahwa yang “berperang” adalah Allah, bukan orang Israel. Pada Kel.15:7 dikatakan: “Dengan keluhuran-Mu yang besar Engkau meruntuhkan siapa yang bangkit menentang Engkau….”Kemenangan itu bukan kemenangan orang Israel, melainkan kemenangan Allah. Israel sebagai umat hanya ikut gembira karena kemenangan Allah itu juga membuat mereka selamat. Kemenangan Allah dalam kisah ini menggambarkan bagaimana Allah selalu berhasil menyatakan dan mewujudkan kehendak-Nya dalam kehidupan umat-Nya.

Belajar dari kisah Laut Teberau ini, kita sebagai umat dapat juga mengalami bagaimana Allah menyatakan dan mewujudkan kehendak-Nya dalam kehidupan kita. Sebagai umat (gereja), kita dapat berpatisipasi dalam mewujudkan kehendak Allah itu dengan cara mematuhi perintah Allah. Melalui ketaatan kepada Allah, maka kita akan melihat bagaimana Allah bekerja dalam hidup kita dan orang-orang di sekitar kita. Tapi, kita semua tahu, bahwa tidaklah mudah untuk taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Kesulitan terbesar dalam mematuhi kehendak Allah agaknya adalah kerelaan membiarkan Allah bekerja melalui cara yang diinginkan-Nya. Padahal, umumnya kita berharap bahwa Allah bekerja melalui apa yang kita sukai dan nyaman bagi kita.

Ada sebuah contoh yang sangat bagus dalam Matius 18:21-35. Dikisahkan ada seorang (si A) yang berhutang kepada raja sebesar sepuluh ribu talenta (sebuah jumlah yang tidak mungkin terbayar oleh si A). Karena tidak sanggup membayar, raja memerintahkan si A dan keluarganya dijual sebagai pembayar hutang. Si A memohon agar raja memberi waktu untuk membayar hutangnya. Sang raja tergerak oleh belas kasihan dan membebaskan si A dari semua hutangnya. Tak lama si A bertemu si B yang berhutang kepadanya sebesar seratus dinar (kira-kira upah seratus hari kerja). Si B belum mampu membayar dan memohon belas kasihan si A. Tapi si A menjebloskan si B ke dalam penjara. Teman-teman si B mengadukan persoalan itu kepada raja, dan lalu raja menyerahkan si A kepada algojo-algojo sampai ia melunasi hutangnya.

Biasanya kita selalu tertarik kepada tokoh A dan mengaitkannya dengan pengampunan: karena kita adalah orang yang sudah diampuni dosanya, maka kita juga selayaknya mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita. Kita mungkin jarang, atau bahkan tidak pernah, meneliti tokoh B. Jika tokoh B adalah kita, apa yang kita harapkan dari si A? Secara umum mungkin jawabannya adalah: Si A harus mengampuni kita juga sebab ia telah terlebih dahulu diampuni! Dengan kata lain, kita menuntut pengampunan itu diberikan oleh si A. Tapi, menariknya, dalam Matius 18:21-35 tak satupun kata yang menggambarkan bahwa si B menuntut si A untuk mengampuninya. Di sana hanya dikatakan bahwa teman-teman si A mengadu kepada raja. Penggambaran Matius ini seolah ingin mengatakan bahwa ketaatan kepada Allah itu dapat juga berbentuk kesediaan untuk mengalami hal-hal yang tidak kita kehendaki. Lewat ketaatan seperti itulah di ayat 31-35 ditegaskan Allah menyatakan kekuasan dan kehendak-Nya. Menang tanpa berperang dapat berarti kesediaan bersama Allah berjuang menegakkan keadilan dan sekaligus bersedia menanggung resiko ketidakadilan, sebagaimana sikap orang yang berhutang seratus dinar.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments