Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 14 Oktober 2012

diposkan pada tanggal 13 Okt 2012 13.52 oleh Essy Eisen
Ingat Kristus, Lupakan Kepahitan! 

(Kolose 3:12-17)

“Dia yang memulai kok! Saya sudah kurang apa selama ini. Saya sudah banyak berkorban. Saya sudah capek. Kesabaran saya sudah habis! Bukan sekali ini saja saya menerima perlakuan yang seperti ini” demikianlah ungkapan kesal seorang isteri melihat tingkah polah suaminya.

“Dia tidak mengerti pikiran saya. Harusnya dia memahami bahwa pekerjaan saya memang banyak. Kalau saya agak kurang memberikan perhatian kepadanya, ya memang saya tidak bisa berbuat banyak. Masa saya harus minta maaf?” Demikian tanggapan si suami menimpali kekesalan isterinya.

Keduanya memendam kepahitan satu sama lain. Tidak ada sukacita lagi. Kasih jauh mengawang-awang entah di mana. Keduanya saling mengutuk dan mendendam. 

Kepahitan dalam hidup yang disimpan begitu lama akan melahirkan dendam. Kebencian begitu menguasai diri sehingga segala sesuatu dilihat begitu kelam dan menyedihkan tanpa ada lagi pengharapan. Memang, arahan untuk mengampuni acapkali terdengar, tetapi begitu tiba pada pelaksanaan rasanya sulit dan berat. Sebab trauma akan kesalahan yang diterima tidak kunjung hilang. Walaupun berhasrat untuk mengampuni, tetapi luka-luka kepedihan rasanya masih tetap bercokol di hati.

Apakah ada jalan keluar saat ini melanda kehidupan kita? Ada! Jalan keluar selalu ada. Jalan keluar itu disediakan Kristus yang sudah meneladankan apa arti kasih sesungguhnya. Melalui karya Kristus menjadi jelas bahwa sejatinya, kasih itu terwujud dalam pengampunan. Kita manusia yang berdosa, telah menerima pendamaian karena Allah bersedia untuk membuka lembaran baru bagi hidup kita. Dosa yang lalu tidak diingat lagi oleh-Nya, dan kini relasi yang baru tersedia dengan penyertaan Roh-Nya. 

Pengampunan bukanlah karya kita. Sebagai manusia kita memiliki keterbatasan. Pengampunan adalah anugerah Allah bagi kita. Oleh sebab itu, jika kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, itu adalah karya ilahi, karya Tuhan yang terjadi melalui diri kita. Bagi manusia ini mustahil, bagi Allah tidak ada yang mustahil. Mujizat hidup baru tersedia bagi mereka yang percaya akan kekuatan kuasa kasih-Nya! Kita hanya perlu membuka diri, pikiran dan hati kita dikuasai oleh kasih-Nya. Kita mengundang-Nya hadir dalam segenap hidup kita, sehingga hidup kita dimampukan untuk meneladani kasih Kristus yang mengampuni. 

Jadi, bagaimana melupakan kepahitan dalam hidup? 
  1. Percaya bahwa Kristus sudah mencabut akar kepahitan yang diakibatkan karena ikatan kuasa dosa yang melanda dunia. 
  2. Menerima pengampunan-Nya dan mengampuni kesalahan orang lain. 
  3. Menyatakan kasih untuk mengedepankan kesatuan dan berproses dalam kesempurnaan. 
  4. Memilih damai sejahtera ketimbang kutuk dan kebencian di hati. 
  5. Bersyukur atas segala keadaan karena Roh Kudus menyertai senantiasa. 
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. (Kol 3:13-15)

(Pdt. Essy Eisen)
Comments