Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 14 Juli 2013

diposkan pada tanggal 17 Sep 2013 22.35 oleh Essy Eisen   [ diperbarui17 Sep 2013 22.36 ]
Firman dalam kehidupan

Ulangan 30:9-14, Mazmur 25:1-10, Kolose 1:1-14, Lukas 10:25-37.


Kita semua tentu mengenal lampu pengatur lalu lintas, yang lebih dikenal dengan nama lampu merah. Kalau lampu merah menyala, semua kendaraan yang akan melintasi arah itu harus berhenti. Kalau lampu hijau menyala, semua kendaraan searah lampu dipersilahkan berjalan maju. Lampu merah merupakan salah satu aturan di antara banyak rambu-rambu lalu lintas, seperti tanda dilarang berhenti, dilarang belok, dsb. Tujuan semua rambu itu dibuat adalah untuk mengatur tata tertib selama berkendara di jalan raya agar semua pengguna jalan dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman, serta sebagai petunjuk agar seseorang tidak tersesat.

Selain itu kita juga mengenal banyak hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia sebagai bagian dari masyarakat, bangsa, dan dunia. Mengapa dan untuk apa hukum itu dibuat? Aturan dibuat berdasarkan fakta bahwa sekelompok manusia hidup bersama di sebuah tempat dan waktu tertentu. Agar manusia dapat menjalankan kehidupan bersama dengan nyaman dan aman, maka dibuatlah tata tertib yang mengatur bagaimana interaksi antar manusia itu harus dilakukan. Jadi, inti terdalam dari peraturan yang ada di masyarakat adalah adanya kesadaran “hidup bersama yang lain”, dan penghargaan terhadap setiap anggota masyarakat.

Namun, meskipun aturan dibuat untuk kebaikan masyarakat, tidak semua orang bersedia menaatinya. Sebagian orang tidak mau taat karena mungkin tidak tahu bahwa tujuan hukum dibuat untuk kebaikan mereka. Sebagian lagi sengaja melanggar karena tidak mau hidup tunduk di bawah hukum. Sebagian lagi mungkin karena tidak mau direpotkan oleh berbagai aturan.

Hal yang sama terjadi dengan peraturan yang Tuhan berikan kepada manusia. Tuhan memberi hukum dan tuntunan kepada manusia untuk membimbing manusia menjalani kehidupannya secara benar dalam relasinya dengan Tuhan dan sesama. Dalam Ulangan 30: 9-10 dikatakan bahwa dengan hidup sesuai dengan aturan dan perintah Tuhan, maka manusia akan dilimpahi kebaikan dalam segala pekerjaan, dalam buah kandungan, dalam hasil ternak dan dalam hasil buminya. Tuhan memberi hukum kepada manusia agar tidak sesat (Maz.25:8).

Tapi, apakah mengetahui hukum-hukum Tuhan sama dengan mempraktekkan tuntunan Tuhan?

Dalam Lukas 10:25-37 dikisahkan ada seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang cara memperoleh hidup yang kekal. Ini agak mengherankan. Kita semua tahu bahwa seorang ahli Taurat adalah orang yang tahu tentang hukum-hukum dan peraturan yang Allah berikan (ay.27). Kalau begitu, mengapa masih harus bertanya? Pada ayat 25 dijelaskan bahwa tujuannya bertanya adalah untuk mencobai Yesus. Lalu Yesus menjawab dengan sebuah cerita tentang seseorang dari Yerusalem yang dirampok dan dianiaya lalu dibiarkan tergeletak tak berdaya di tepi jalan. Seorang imam lewat dari tempatnya, tapi tak berhenti untuk menolongnya (ay.31). Demikian juga seorang Lewi, yang memilih melewati orang itu dari seberang jalan (ay.32).

Imam dan orang Lewi adalah orang-orang yang tahu tentang hukum-hukum Allah. Mereka bahkan orang-orang yang sangat ketat melaksanakan ibadah-ibadah demi menaati hukum-hukum Tuhan tersebut. Tapi mengapa mereka tidak menolong si korban perampokan? Nampaknya bagi imam dan orang Lewi hukum-hukum Tuhan itu hanya berkaitan dengan ibadah (ritual). Mereka mengira bahwa menaati Tuhan adalah dengan cara menghafal hukum-hukum Tuhan dan rajin menjalankan ibadah formal. Mereka tidak memahami intisari terdalam dari hukum-hukum tersebut, yaitu kasih Allah dalam wujud tindakan nyata. Untuk itulah Yesus lalu memberi contoh yang benar melalui tindakan seorang Samaria. Kita tahu bahwa orang Israel menganggap orang Samaria sebagai bangsa yang tidak mengenal Allah. Tapi dalam cerita-Nya, Yesus justru memperlihatkan bagaimana seorang Samaria yang tidak tahu hukum-hukum Allah justru melakukan apa yang menjadi isi dari hukum-hukum Allah tersebut (ay.33-35). Cerita yang Yesus sampaikan menekankan bahwa yang paling penting bukanlah seberapa banyak pengetahuan seseorang tentang firman Tuhan, bukanlah seberapa rajin seseorang beribadah (walaupun itu juga penting), melainkan bagaimana seseorang tersebut mempraktekkan isi firman Tuhan itu dalam kehidupan praktis sehari-hari (ay.37).

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments