Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 14 April 2013

diposting pada tanggal 5 Apr 2013 09.41 oleh Essy Eisen
“Apakah engkau mengasihi Aku?”

Kisah Para Rasul 9:1-6, Mazmur 30:2-13, Wahyu 5:11-14, Yohanes 21:1-19

Setelah Yesus menampakan diri kepada murid-murid yang ada dalam pintu yang terkunci, murid-murid kembali ke Galilea. Sementara mereka menunggu, mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan, jadi mereka melakukan apa yang biasa dilakukan sewaktu dahulu kala, menangkap ikan. Ada tujuh orang murid di sini. Mereka tidak mendapat apa-apa. Bisa jadi mereka lapar, putus asa. Yesus hadir dalam keputusasaan mereka. Mungkin karena jarak jauh, awalnya mereka belum menyadari kehadiran Yesus. Namun setelah mereka mendapatkan tangkapan ikan yang banyak, setelah mendengar arahan dari Yesus, mereka menjadi sadar.

Petrus segera mendatangi Kristus. Sebuah persekutuan yang hangat dan dinamis terjadi. Mereka bersantap bersama. Kita belajar bahwa kala Kristus bertindak, hasilnya adalah pengaruh yang membawa orang kepada damai sejahtera-Nya. Ini adalah kali ketiga Yesus menampakan diri kepada murid-murid-Nya. Dua kali pertama ialah di Yerusalem, di ruangan dalam pintu-pintu terkunci. Apa makna penampakan-Nya? Tentu bukan buat gagah-gagahan. Yesus hendak mengutus mereka! Yesus tidak ingin mereka kembali ke dalam hidup lama mareka! Yesus sudah memanggil mereka untuk menjadi penjala manusia, bukan penjala ikan. (Luk. 5:10). Mereka harus menghidupi diri mereka sebagai kenyataan kehadiran Gereja Tuhan Yesus Kristus (Mat. 16:19). Petrus, diajak Kristus untuk menggembalakan Gereja-Nya. Petrus diutus untuk memberikan makanan spiritual kepada domba-domba Kristus.

Pertanyaan Yesus kepada Petrus dapat ditafsirkan dengan beberapa makna. (1) “Apakah Engkau mengasihi Aku, lebih dari pada orang-orang ini mengasihi Aku?” (2) “Apakah Engkau mengasihi Aku lebih daripada kasihmu kepada orang-orang ini?” (3) “Apakah Engkau mengasihi Aku melebihi barang-barang ini?” (yakni perahu nelayan, jala, dan perlengkapannya). Dari tiga tafsiran itu, yang pertama lebih cocok. Karena Petrus pernah membual tentang kasih-Nya kepada Yesus. (Mat. 26:33; Mrk. 14:29; Yoh 13:37). Kali ini jawaban Petrus sungguh-sungguh. Petrus sangat mengasihi Kristus.

Dulu kala, Petrus menyangkali Yesus tiga kali, kini Petrus menegaskan kasihnya kepada Yesus sebanyak tiga kali. Kasih Petrus kepada Yesus kelak ditunjukkannya dengan setia, pada saatnya Petrus memberikan nyawanya bagi Kristus (2 Ptr. 1:14). Berdasarkan catatan sejarah, Petrus di salib di Roma di bawah pemerintahan Nero sekitar tahun 65-67. Saat Kristus berkata kepada Petrus “Ikutlah Aku”, pengampunan Kristus yang penuh jelas terlihat. Petrus kembali ditegaskan sebagai murid Kristus. Petrus siap melanjutkan karya Kristus sebagaimana Kristus ingin ia melakukannya, bukan semata-mata apa yang ia inginkan sendiri.

Dalam hidup ini pun kita dipercaya oleh Tuhan untuk menjadi pemimpin. Pertama sekali kita memimpin diri sendiri dan juga memimpin orang-orang yang ada di sekitar hidup kita. Dalam pendampingan Firman Allah dan Roh Kudus, kita percaya bahwa Kristus hadir memampukan kita untuk memberikan apa yang baik bagi orang-orang yang mengikuti kepemimpinan kita. Kasih akan terlihat jelas bukan hanya dengan indahnya kata-kata, tetapi melalui tindakan yang nyata. Kita semua dalam segi-segi tertentu adalah para gembala juga. Para suami dan ayah, menjadi gembala bagi isteri dan anak-anak serta saudara-saudara, begitu juga para isteri dan ibu. Di tengah pekerjaan, kita menjadi gembala bagi sesama rekan kerja atau bawahan kita. Di tengah pelayanan, saat mendayagunakan talenta, kita pun menjalankan tugas penggembalaan kita, memberikan makanan spiritual kepada sesama anggota Gereja Tuhan Yesus Kristus.

Saudara-saudara terkasih, saat Anda sedang susah hati, kemanakah Anda pergi untuk mencari keteduhan jiwa? Apakah Allah menjumpai Anda di sana? Kapan terakhir kali Anda mendapat berkat yang berkelimpahan? Apakah pikiran dan hati Anda telah terarah kepada Kristus karena menerima berkat-berkat itu? Jika dalam sebuah kesempatan di tengah hidup Anda, Kristus bertanya kepada “Apakah engkau mengasihi Aku?” apakah yang menjadi jawaban Anda?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments