Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 13 November 2011

diposting pada tanggal 11 Nov 2011 04.54 oleh Essy Eisen   [ diperbarui11 Nov 2011 06.52 ]
Meningkatkan Kehidupan Spiritualitas

Zefanya 1:7, 12-18; Mazmur 90:1-12; 1 Tesalonika 5:1-11; Matius 25:14-30

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Mat 25:21, 23).


Demikianlah ungkapan sang tuan yang merasa puas melihat karya hamba-hambanya yang mau berupaya dalam menggunakan talenta yang dipercayakan kepada mereka. Melalui perumpamaan tentang pengelolaan talenta ini Tuhan Yesus mengajak kita untuk menyadari segala kemampuan kita yang harus digunakan dan dikelola untuk kebaikan bagi sesama manusia. Orang yang mendayagunakan kemampuannya untuk melayani sesama akan mendapatkan manfaat bagi dirinya juga, saat kemampuan yang digunakan itu berkembang kala digunakan. Seperti pisau, kemampuan itu menjadi semakin tajam saat diasah, demikian juga kemampuan yang digunakan, semakin meningkat karena hal-hal baru yang ditemukan akan mendorong orang itu untuk semakin mahir di bidangnya. Perkara besar tidak lagi menjadi momok, tetapi menjadi tantangan yang berujung pada damai sejahtera yang dikaruniakan Tuhan pada waktu-Nya. Sebaliknya orang yang malas dan pelit untuk menggunakan kemampuannya hanya akan merugikan dirinya sendiri.

Mereka tidak dapat diselamatkan oleh perak atau emas mereka pada hari kegemasan TUHAN, dan seluruh bumi akan dimakan habis oleh api cemburu-Nya; sebab kebinasaan, malah kebinasaan dahsyat diadakan-Nya terhadap segenap penduduk bumi. (Zef 1:18).

Pemberitaan nabi Zefanya ini merupakan peringatan kepada kita bahwa manusia tidak dapat hanya berpegang pada sesuatu yang tidak kokoh sifatnya. Perak atau Emas, melambangkan kepemilikan manusia, tidak pernah dapat membeli kedamaian dan kesejahteraan batin. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mzm 90:12). Hati yang bijaksana adalah hal penting yang harus dimiliki selain kepemilikan harta. Dengan hati yang bijaksana, apa yang dipercayakan oleh Tuhan dapat dikelola bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga demi kebaikan bagi sesama manusia.

Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. (1 Tes 5:8-10).

Demikianlah nasihat Paulus yang mengajak orang Kristen, atau “orang-orang siang” artinya yang sadar, dan memiliki hikmat Tuhan, untuk menghadapi godaan jahat dengan menggunakan iman dan kasih serta pengharapan akan kebaikan Tuhan. Sedari awal Allah merencanakan yang baik untuk setiap orang. Di dalam Yesus Kristus, setiap orang yang percaya dan mengikuti jalan-Nya tidak akan berahkir kepada murka Allah, tetapi kepada suasana yang abadi dalam kedamaian dengan Kristus.

Orang yang mau meningkatkan kehidupan spritualitas adalah orang yang:
  • Menggunakan kemampuan yang Tuhan percayakan kepadanya untuk kebaikan bagi sesama.
  • Akan menikmati kebahagiaan yang disediakan Tuhan pada waktu-Nya.
  • Tidak menjadikan kepemilikan sebagai sandaran, tetapi sebagai alat yang digunakan dan dikelola dengan bijaksana.
  • Menunjukkan imannya dengan perbuatan kasih sebagai orang yang sudah diselamatkan oleh Kristus.
Refleksi:
  • Selama ini apakah kemampuan Anda telah membuat orang yang kesusahan menjadi tertolong?
  • Bagaimana Anda mengelola dan menggunakan kepemilikan Anda yang merupakan karunia Allah?
  • Perbuatan kasih apa yang akan Anda lakukan pada minggu ini?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments