Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 13 Mei 2012

diposting pada tanggal 11 Mei 2012 12.29 oleh Essy Eisen   [ diperbarui11 Mei 2012 12.34 ]
“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku..”

Kisah Para Rasul 10:44-48, Mazmur 98, 1 Yohanes 5:1-6, Yohanes 15:9-17

Orang tidak akan kerasan menjalani aktivitas sehari-hari saat hatinya dipenuhi kebencian. Mengapa? Karena setiap orang dibesarkan dengan cinta kasih. Memang ada juga yang pernah kekurangan kasih dalam hidupnya, tetap toh dalam lubuk hatinya ia tetap merindukan agar dapat menemukan bahkan menghadirkan kasih. Tidak akan ada orang di dunia ini yang dengan tenang memelihara kebencian sampai kematian menjemputnya.

Tetapi kadang kita sulit mengasihi. Apa-apa yang berbau kasih kadang indah jika dinyanyikan, mengaggumkan dan mendebarkan jika dipikirkan, tetapi acapkali berat dilakukan. Adakalanya kita sudah mengasihi. Namun kasih yang kita berikan malah acap dibalas dengan kebencian. Air susu dibalas dengan air tuba. Kitapun kecewa. Lalu kemudian balas membenci, lagi.

Orang yang mengenal dan telah berjumpa dengan Kristus, hidupnya mengalami pembaruan. Ada “nyanyian baru” yang mengalahkan “nyanyian lama” yang dipenuhi dengan kebencian (Mzm. 98). Sebab ia menyadari bahwa melalui Kristus, Allah berkarya, datang menjumpai dirinya yang sedang kekurangan dan merindukan kasih (Yoh. 15:16).

Seluruh kehidupan dan karya Yesus di bumi adalah kasih yang nyata. Jika kita ingin mendefinsikan apa itu kasih, lihatlah Yesus! Kita yang percaya kepada-Nya bukan sekadar percaya saja, tetapi juga menuruti perintah-Nya, dan lama kelamaan menjadi kerasan untuk tinggal dalam kasih-Nya. Seperti seorang sahabat, pengenalan yang berkualitas kepada Kristus akan menjadikan kita bersukacita dalam mengashi. Tidak ada beban dalam mengasihi. Mengapa begitu? Karena Kristuslah yang memberikan kepada kita kapasitas untuk mengasihi. Jiwa kita dimenangkan-Nya. Allah di dalam Yesus Kristus telah memilih kita untuk membuka “katup” kasih dalam kehidupan kita. Gambar dan rupa Allah yang dahulu coreng-moreng dan kotor karena dosa pementingan diri, telah dibasuh oleh Kristus di Golgota. Kini yang tersisa ialah gambar dan rupa Allah yang semakin hari semakin jelas dan terang dalam diri setiap pribadi yang mau dijadikan “sahabat” oleh Kristus (Yoh.15:9-17).

Sahabat yang sejati selalu mengingat siapa dan apa yang sudah dilakukan oleh sahabatnya. Persahabatan dengan Kristus akan memampukan kita mengingat perintah-Nya. Bahkan bukan saja mengingat, tetapi karena kasih yang besar di dalam hati dan pikiran kita, maka kita akan melakukan apa yang sudah diajarkan-Nya. Memang ada banyak pilihan cara hidup yang harus kita pilih di dalam dunia ini, tetapi sahabat Kristus akan selalu memikirkan dan memilih cara-Nya ketimbang cara yang lain atau cara hidup yang lama. (1 Yoh. 5:1-6).

Roh Kudus akan menolong kita untuk senantiasa mengingat, mengaggumi dan mengikuti Kristus. Seluruh hidup kita menjadi pujian bagi-Nya. Dahulu kala, karena Roh Kudus, Kornelius dan keluarga mengenal Kristus dan hidup di dalam kasih Kristus. Petrus yang menyaksikannya belajar, bahwa sahabat Kristus tidak boleh membatasi kasih Allah, yang terbuka kepada semua bangsa (Kis. 10:44-48. Hanya kasih yang dapat mengubah dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Tempat di mana suasana Allah memerintah dengan Firman-Nya menjadi semakin kentara. Kini Allah mengajak kita juga dalam karya-Nya. Setiap anak-anak-Nya diajak untuk menuruti Firman-Nya dan tinggal di dalam kasih-Nya. Apa jawaban kita terhadap pemilihan dan panggilan-Nya itu?

Pertanyaan Aplikasi:
  • Apa yang membuat orang tidak kerasan untuk tinggal di dalam kasih Kristus? Apa sebabnya?
  • Apa ada kaitan antara “menuruti perintah Kristus” dan “mengasihi Kristus”?
  • Apa bukti dari kasih Kristus bagi kehidupan Saudara? Bagaimana Saudara menanggapinya?

(Pdt. Essy Eisen)

Comments