Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 13 Maret 2011

diposkan pada tanggal 9 Mar 2011 15.03 oleh Essy Eisen
Makna, Proses dan Tujuan

Kejadian 2:15-17; 3:1-7, Mazmur 32, Roma 5:12-17, Matius 4:1-11


Kecenderungan manusia ialah suka berubah pendirian. Jika perubahan itu mengarah ke arah yang baik tentu harus disyukuri. Tetapi jika perubahan mengarah kepada kemunduran kualitas hidup? Sungguh menyedihkan. Kemajuan zaman acap kali membuat manusia “ingin lebih”. Entah menjadi lebih amankah, lebih cepatkah atau mungkin lebih nyaman. Namun dalam proses “ingin lebih” itu terkadang dan bisa jadi manusia melupakan tujuan hidup yang benar dan mulia. Akibatnya, manusia hanya peduli untuk memenuhi kebutuhan kehidupan tetapi melupakan makna hidup. Seringkali proses belajar diabaikan dan melulu apa yang dikejar adalah apa yang menghasilkan kesenangan belaka. Jika ini benar terjadi dan dialami, tidakkah ia tengah mundur kembali kepada awal kejatuhan manusia, kepada kejatuhan Sang Adam dan Hawa?

Yesus ada di padang gurun (Matius 4:1-11). Ia berpuasa untuk mengelola hawa nafsu. Ini menjadi bukti keterlibatan-Nya yang nyata untuk turut merasakan, dengan berada pada titik lemah kemanusiaan. Prinsip pembaruan kehidupan bagi manusia yang dihadirkan Allah melalui Anak-Nya sungguh teruji. Yesus menghadapi cobaan demi cobaan. Si jahat rupanya menyerang Yesus dalam segi-segi inti kehidupan. Mulai dari segi pemaknaan hidup (ajakan mengubah batu menjadi roti), segi proses hidup (ajakan melakukan mujizat spektakular menjatuhkan diri) dan segi tujuan hidup (ajakan untuk mengkhianati Allah). Yesus dengan tegas menolak ajakan yang menjatuhkan itu! Yesus pada akhirnya menang atas pencobaan-pencobaan itu. Kemenangan-Nya diraih karena Ia bukan sekedar mengetahui Firman Allah tetapi juga percaya bahwa Firman Allah senantiasa memberi kekuatan baru, dan Ia juga mau memberlakukan Firman itu pada saat Ia berada dalam titik kelemahan keadaan manusiawi-Nya. Firman Allah bukan sekedar diketahui dan dirasakan tetapi juga diberlakukan! Dihidupi-Nya!

Paulus menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah bukti kasih karunia Allah yang menyelamatkan bagi dunia ini. Jika karena Adam pertama (Kej 2:15-17; 3:1-7) manusia terjebak dalam kuasa ikatan dosa, maka melalui Yesus Kristus, yang disebut Paulus sebagai “Adam kedua”, manusia ditolong Allah untuk terbebas dari ikatan kelicikan hawa nafsu keinginan dosa untuk kemudian mengalami hidup yang didamaikan dengan dan oleh Allah. Tentu, segala upaya pembaruan itu terbuka bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus dan pengorbanan-Nya. Allah selalu berkenan memberikan lembaran baru bagi setiap orang yang mau taat seperti Kristus sehingga orang yang percaya dan taat itu mengalami kemenangan atas godaan dosa.

Menjadi seorang “Kristen” berarti tahu siapa Kristus itu. Karena Kristus, seorang Kristen mengimani pendamaian dan pembaruan yang dikaruniakan Allah. Tetapi bukan sekedar tahu saja. Pengikut Kristus, juga mengetahui nilai-nilai yang dihidupi Kristus yaitu nilai-nilai dari Allah yang digunakan untuk melawan godaan dosa. Pada akhirnya dalam keseharian hidup, seorang Kristen menjadi orang yang memberitakan Kristus. Dalam tindakan kasih yang berbela rasa dan yang memberi, hidupnya menjadi kenyataan kasih bagi yang lain dan bukan bagi hawa nafsu jahat yang merusak.

Setiap orang yang taat dan berada dalam persekutan dengan Kristus akan dimampukan Allah untuk mengelola hawa nafsunya. Orang itu akan menyadari, bahwa hidup bukan karena dan sekedar untuk roti saja, tetapi hidup berlangsung karena Firman yang keluar dari mulut Allah. Orang itu juga dimampukan untuk menanti janji Allah, mau menempuh proses kehidupan dan tidak dilumpuhkan oleh budaya instan yang justru acapkali melumpuhkan iman. Dan pada akhirnya, orang itu dimampukan untuk tetap berpaut pada Allah, hanya menyembah Allah saja, itulah yang menjadi tujuan utama kehidupannya.

Sebagai seorang Kristen, pengikut Kristus, bagaimana kita memaknakan kehidupan kita? Seberapa jauh proses kehidupan kita jalani dalam ketaatan kepada Allah? Sungguhkah Allah telah menjadi tujuan akhir kehidupan kita?

Pdt. Essy Eisen
Gambar dari: http://www.mscperu.org/grafic/graficoslit/cuaresma_pascua/01_cua_a.htm

Comments