Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 13 Juli 2014

diposting pada tanggal 31 Jul 2014 22.44 oleh Admin Situs
Tuhan dan Persaingan

Kejadian 25:19-34; Mazmur 119:105-112; Roma 8:1-11; Matius 13:1-9, 18-23

Banyak hal yang membuat takjub di jaman modern ini. Salah satunya adalah pencapaian teknologi yang membuat manusia di seluruh dunia dapat saling terhubung dalam satu ketika. Dengan adanya satelit, telepon dan berbagai hasil teknologi lain kita dapat melihat dan berbicara dengan orang-orang yang ada di belahan lain bumi. Kita dapat mengirim dan menerima pesan, baik dalam bentuk suara maupun gambar, kepada dan dari berbagai orang di seluruh dunia. Idealnya, semua itu membuat kita sadar adanya keterhubungan umat manusia sejagad dan saling ketergantungan satu dengan yang lain. Dan kesadaran itu selayaknya juga mendorong setiap orang untuk hidup dalam semangat kerjasama atau solidaritas.

Tapi fakta yang sering kita saksikan dan rasakan sangatlah berbeda. Meskipun manusia sadar adanya “keterhubungan semesta”, yang kita saksikan terjadi bukanlah solidaritas melainkan persaingan antar manusia atau antar kelompok manusia. Sehari-hari kita dapat menyaksikan semangat saling-mengalahkan itu dilakukan, baik di televisi, di sekolah, bahkan dalam dunia agama. Kita bisa melihat bagaimana agama yang satu berusaha “menghabisi” agama lain untuk membuktikan keunggulannya. Bahkan persaingan itu juga terjadi dalam satu rumpun agama, dimana gereja yang satu menganggap dirinya lebih unggul dibanding gereja lain. Dan tak jarang persaingan itu mengatasnamakan Tuhan. Keadaan ini seperti membenarkan pendapat Plautus(195 SM):lupus est homo homini. Menurut Plautus, manusia adalah serigalanya manusia sebab manusia sering menikam sesama manusia lainnya.

Lalu, apakah manusia tidak boleh bersaing? Apakah persaingan memang terlarang dilakukan?

Dalam Kejadian 25:19-34 dikisahkan tentang persaingan Esau dan Yakub. Sekilas, persaingan ini seolah berasal dari Allah sendiri. Di ayat 23 dikatakan: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda."Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dalam kisah ini:
  1. Kita perlu mencatat bahwa kisah ini terjadi setelah peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3). Keadaan berdosa ini membuat manusia tidak mampu lagi bertindak sebagaimana yang Allah kehendaki. Manusia kehilangan solidaritas terhadap sesamanya, manusia kehilangan “ikatan kesemestaan” 

  2. Esau dan Yakub dibesarkan dalam lingkungan yang serba pilih kasih. Ishak mengasihi Esau, sedangkan Ribka menyayangi Yakub. Keadaan pilih kasih ini mendorong kedua anak tersebut untuk bersaing. Semangat persaingan itu sampai ke tingkat saling mengalahkan, bahkan membinasakan (Kejadian 27:41), sehingga melupakan kenyataan bahwa mereka berdua sebenarnya tumbuh dalam rahim yang sama. 
Bila kita simak lebih seksama, sumber persaingan dalam kisah Esau dan Yakub adalah manusia sendiri. Persaingan yang mengarah kepada permusuhan itu bersumber dari kedua orangtua mereka sendiri, yang bila ditelusuri lebih jauh disebabkan karena keberdosaan manusia. Keberdosaan manusia itu tidak saja membuat manusia melawan sesamanya, tapi juga melawan Allah. Itulah sebabnya kisah Esau dan Yakub ini dapat kita pahami sebagai kisah persaingan manusia yang hidup dalam keinginan daging (Roma 8:6-7). Persaingan yang didasari keinginan daging semata-mata hanya mengejar kemenangan dan kepuasan diri. Kemenangan itu diperoleh dengan menghalalkan segala cara, bahkan dengan menghancurkan saingannya.

Kalau begitu, apakah orang Kristen boleh bersaing? Tentu saja boleh, dengan minimal dua syarat:
  1. Persaingan itu merupakan sarana pendorong tiap orang mengeluarkan potensi yang Tuhan anugerahkan kepadanya 
  2. Persaingan itu dilandasi semangat kesetiakawanan dan kerjasama, sehingga semua pihak ––baik yang lebih unggul maupun yang diungguli––menyumbangkan potensinya untuk kebaikan bersama. Hal ini selaras dengan perkataan Paulus dalam Roma 8: 6 “...keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” 
(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.)
Comments