Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 13 Januari 2013

diposting pada tanggal 12 Jan 2013 08.04 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.53 oleh Admin Situs ]
Solidaritas Ilahi 

Yesaya 43:1-7, Mazmur 29, Kisah Para Rasul 8:14-17, Lukas 3:15-17, 21-22

Ada sesuatu yang beda kala seorang kepala daerah rela hati dan tulus untuk memahami apa yang menjadi pergumulan rakyatnya dengan melakukan aksi turun ke bawah, solider. Pemimpin itu mendapakan kemuliaannya bukan melalui apa yang ia ingin dapatkan, tetapi apa yang dapat ia berikan bagi rakyatnya. Solidaritas memang indah. Dengan menyatakan solidaritas, seseorang sadar bahwa ia tidak dapat hidup tanpa kehadiran orang lain dan segenap kemampuannya dikelola bukan hanya untuk keuntungan bagi dirinya sendiri saja, tetapi untuk orang lain juga.

Tuhan tidak ingin anak-anak-Nya berada dalam cengkeraman kebodohan karena dosa. Ia menolong anak-anak-Nya lepas dari kebodohan itu. Tuhan mengenal setiap pribadi yang bagi-Nya amat berharga. Sebagai kepunyaan-Nya setiap pribadi dibentuk untuk mengalami apa yang baik sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya.

Dalam proses pembaruan itu, Ia memulihkan apa yang rusak, memperdamaikan yang berselisih, dan memurnikan setiap orang untuk memiliki motivasi yang benar dan bermakna dalam hidupnya. Jika dosa menghasilkan situasi kacau balau, maka kasih Allah menjadikan kekelaman hidup untuk berubah menjadi ketertiban yang mendatangkan damai sejahtera. Allah merengkuh hati dan pikiran manusia untuk mengalami kembali kesejatian hidup sebagaiamana manusia dulu diciptakan sebelum jatuh ke dalam ikatan kuasa dosa.

Dalam peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes, kita menjumpai Sang Anak yang menunjukkan pola sikap dan tindakan yang konsisten dengan apa yang sudah diperbuat Bapa-Nya sejak semula. Kristus yang tidak dikuasai oleh cengkeraman dosa, berkenan untuk terlibat dalam pergumulan orang-orang berdosa. Ia mau dibaptiskan oleh Yohanes sebagai wujud solidaritas tindakan kasih ilahi Sang Bapa bagi manusia. Roh Kudus mengukuhkan ketaatan Sang Anak dalam mengawali tugas pelayanan-Nya menebus dosa dunia.

Dalam pelayanan-Nya kemudian, melalui Injil-Injil, kita menjumpai bahwa Kristus menunjukkan karya hidup yang berkenan kepada Sang Bapa. Kehadiran-Nya yang hangat, kuasa kasih-Nya yang mengubahkan kehidupan, sungguh-sungguh menjadikan-Nya Pribadi yang berpengaruh bukan saja bagi komunitas di mana Ia berkarya tetapi juga bagi dunia yang tengah dikuasai oleh egosentrisme dan disintegrasi karena kebencian.

Kelak para pengikut Kristus meneladani sikap ketaatan-Nya. Dengan menerima pembaptisan di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, para pengikut-Nya telah memutuskan untuk menanggalkan kehidupan lama dan masuk ke dalam kehidupan yang baru karena karya Kristus dan Roh Kudus. Dalam menjalankan hidup yang terus menerus diperbarui itu Bapa dimuliakan, dan para pengikut-Nya lepas dari cengkeraman kebodohan karena dosa dan terus mawas diri untuk tidak kembali kepada masa-masa kebodohan mereka.

Bukan hanya itu saja, solidaritas Kristus memampukan para pengikut-Nya untuk melanjutkan sikap solidaritas ilahi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Berangkat dari kasih yang tulus dan syukur atas keselamatan yang sudah diberikan Allah, pengikut Kristus memahami bahwa hidup mereka bukan lagi didasarkan oleh pementingan diri sendiri, tetapi oleh kasih sayang Allah yang memampukannya berbagi dan memberi hidup bagi yang lain. Dengan identitas yang baru, makna diri yang utuh kembali, Roh Kudus menolong mereka berjalan mengikuti Kristus, meniti langkah menuju Rumah Bapa dengan iman, pengharapan dan kasih. Melalui pertolongan-Nya, semakin hari kehadiran mereka menjadi kehadiran yang dijwai oleh solidaritas ilahi yang membuahkan damai sejahtera bagi dunia.

Pertanyaan Aplikasi
  • Apakah Saudara sudah mengalami tindakan Allah yang menunjukkan solidaritas-Nya bagi Saudara? Dalam bentuk apa sajakah itu? 
  • Apa makna baptisan bagi Saudara? Apa yang tampak dalam diri orang yang sudah menerima baptisan dan yang belum? Mengapa? 
  • Apa yang akan Saudara lakukan untuk menunjukkan bahwa solidaritas ilahi karena karya Kristus hadir dalam diri Saudara pada hari-hari ke depan?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments