Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 12 Oktober 2014

diposting pada tanggal 11 Okt 2014 08.21 oleh Admin Situs   [ diperbarui11 Okt 2014 09.20 ]
Aku juga salah!

Yakobus 5:16

Ada sebuah keluarga dengan tiga orang anak: dua laki-laki dan yang bungsu perempuan. Sang ayah sangat menyayangi si sulung, sementara si ibu, menyayangi si bungsu. Si ayah tidak pernah melarang atau marah kepada si sulung, sebagaimana si ibu tidak pernah melarang atau marah kepada si bungsu. Sebagai orangtua, ayah dan ibu tentu saja selalu memberi saran-saran yang baik dan menerapkan aturan di rumah. Sayangnya penerapan aturan itu tidak disertai konsistensi. Bila yang melanggar aturan adalah si sulung, maka si ibu akan memarahi, tapi si ayah segera membela. Bila yang melanggar si bungsu, maka si ayah akan marah, tapi pada saat itu juga si ibu langsung membela. Lain persoalan bila si tengah yang bersalah, maka dia akan menerima kemarahan ayah dan ibu tanpa ada yang membela.

Demikianlah tahun demi tahun berlalu, anak-anak mereka bertambah besar. Si sulung sudah kuliah, sementara dua adiknya di SMA. Mereka bertiga tumbuh menjadi anak-anak yang sulit diatur, mau menang sendiri dan hampir selalu bermasalah. Mereka bertiga tidak pernah akur di rumah, selalu berkelahi soal apa saja: mulai dari rebutan remote TV sampai adu keras menyetel musik. Keributan itu bertambah parah bila kebetulan kedua orangtua mereka pulang dari kantor dengan membawa masalah ke rumah.

Keadaan rumah yang tak nyaman membuat masing-masing anggota keluarga berusaha mencari “ketenangan” di luar rumah. Singkat cerita, si sulung akhirnya terlibat kasus narkotika, si tengah masuk penjara karena kasus perkelahian, sementara si bungsu tidak naik kelas karena jarang masuk sekolah. Kedua orangtua mereka kalut setengah mati, lalu mulai saling menyalahkan. Ibu menuduh ayah terlalu otoriter dan sekaligus gagal memberi teladan yang baik lewat tingkah laku, sementara ayah menuding ibu terlalu serba membolehkan sehingga anak-anak tidak bisa diatur.

Mereka berdua terus bertengkar dan tidak mau mengakui sebagai pihak yang menyebabkan semua peristiwa yang menimpa anak mereka. Karena tak menemui jalan keluar, mereka sepakat minta pendapat pendeta.

Setelah percakapan yang cukup panjang dengan pak pendeta, akhirnya suami istri itu mulai bisa melihat persoalan dengan lebih jernih. Sebagai orangtua, mereka hanya pintar menasehati, tapi tidak konsisten menjalankan aturan serta gagal memberi teladan melalui perbuatan. Di satu sisi mereka mengatakan bahwa anak-anak harus rajin ke gereja dan saling mengasihi, tapi di sisi lain ayah ibu ternyata pilih kasih. Anak-anak diperintahkan untuk hidup jujur, tapi betapa sering mereka menyaksikan kedua orang tua mereka saling membohongi. Anak-anak diajar untuk menghargai sesama anggota keluarga, tapi ayah ibu hampir selalu bertindak mau menang sendiri. Akibatnya anak-anak bingung menetapkan nilai-nilai mana yang seharusnya dianut. Tidak heran bila kemudia anak-anak hidup tanpa pegangan nilai-nilai yang benar. Ketiadaan nilai itulah yang membuat mereka terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk.

Ayah ibu akhirnya menyadari bahwa semua itu diakibatkan kesalahan mereka berdua. Kini mereka tidak lagi saling menyalahkan, melainkan saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan.

Di akhir pertemuan dengan pendeta, mereka bersama-sama membaca Yakobus 5:16 : “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”

Setelah berdoa, mereka berdua pulang dengan komitmen akan memulai hidup dengan menjadikan kebenaran Firman Tuhan sebagai ukuran dan arah keluarga. Mereka bertekad tidak lagi menjadikan keinginan dan kebenaran pribadi sebagai penentu arah keluarga. Mereka percaya, sebagaimana tertulis dalam Yakobus 5:16, Tuhan mau dan mampu memulihkan keluarga mereka. Selamat menjalani bulan keluarga.

(Mathyas Simanungkalit)
Comments