Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 12 Mei 2013

diposkan pada tanggal 17 Mei 2013 08.37 oleh Essy Eisen   [ diperbarui17 Mei 2013 08.42 ]
Bekerja Bagi Kebaikan Bersama

Kisah Para Rasul 16: 16-34; Mazmur 97; Wahyu 22: 12-14, 16-17, 20-21; Yohanes 17: 20-26.

Kita baru saja dikejutkan oleh berita perbudakan yang terjadi di jaman modern ini. Puluhan pekerja di sebuah pabrik panci di Tangerang dipekerjakan secara tidak manusiawi. Mereka harus bekerja 16 jam dan makan 2 kali sehari dengan menu tidak layak. Mereka tidak diijinkan keluar atau berkomunikasi dengan tetangga. Selain itu, puluhan pekerja itu juga harus tidur berdesak-desakan dan buang air besar di satu ruangan yang sama berukuran 15 meter persegi. Yang lebih tragis, mereka bekerja tanpa mendapat upah sama sekali.

Kalau kita bertanya kepada para korban ini tentang makna kerja bagi mereka, maka hampir bisa dipastikan bagi mereka bekerja dirasakan sebagai hukuman tanpa sukacita di dalamnya. Dan pengalaman menyakitkan itu dapat membuat mereka takut untuk bekerja kembali. “Kerja” telah menjadi sesuatu yang menakutkan bagi mereka.

Memang, ada banyak pandangan terhadap kerja. Ada orang yang memandang kerja sebagai “beban” yang, kalau bisa, harus dihindari. Ada juga yang memandang kerja semata-mata sebagai kodrat bawaan lahir: sebagaimana ayam harus bertelur, manusia juga harus bekerja (disini kerja dilihat sebagai tindakan mekanisitis, seperti mesin atau robot, seperti ayam yang bertelur dengan cara yang sama sepanjang masa). Dan, ada juga yang melihat kerja sebagai “kutuk” yang dijatuhkan ke atas manusia akibat dosa-dosanya (pandangan ini mendasari pendapatnya dengan mengacu pada kitab Kejadian 3: 17-19).

Pandangan seseorang tentang kerja akan menentukan bagaimana dia bekerja. Dengan kata lain, sikap seseorang dalam menetapkan tujuan kerja dan melaksanakan pekerjaan ditentukan oleh bagaimana orang tersebut memaknai kerja. Orang yang melihat pekerjaan hanya sebagai kodrat akan melakukan pekerjaan seperti robot, tanpa keinginan melakukan perbaikan atau mencoba berkreasi. Orang yang memandang kerja sebagai kutukan akan melakukan pekerjaannya dengan hati muram sepanjang hari.

Bagaimana kita selaku gereja selayaknya memahami kerja?

Doa Yesus dalam Yohanes 17:20-26 memperlihatkan kedatangan Yesus telah memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Hal ini mempunyai dampak yang luar biasa bagi setiap orang yang percaya. Persekutuan setiap orang percaya sekaligus mempersekutukan mereka dengan Allah (ay.20). Dan setiap orang yang telah pulih hubungannya dengan Allah, dipulihkan juga hubungannya dengan sesama manusia. Kasih Allah yang telah diterima oleh setiap orang percaya tidak boleh disimpan hanya untuk diri sendiri, melainkan dibagikan kepada orang lain juga.

Dengan demikian bagi umat Allah bekerja berarti mewujudkan pengakuan bahwa Allah telah mengampuni dan mengasihi kita semua tanpa kecuali. Bagaimana caranya?

Salah satunya bekerja dengan tujuan untuk kebaikan bersama, bertindak dengan tidak membuat orang lain mendapat celaka, seperti yang dilakukan Rasul Paulus (Kis.2:1-21), yang walaupun bisa saja melarikan diri namun tetap diam di penjara agar kepala penjara tidak mendapat celaka. Melalui tindakan Rasul Paulus itu sang kepala penjara mengalami kasih Allah.

Singkatnya, umat Tuhan memahami kerja bukan sebagai hukuman atau kodrat semata. Melalui bekerja setiap umat Tuhan dipanggil membagikan kasih yang telah ia terima dari Allah dalam Yesus Kristus (Yoh.17:26). Kerja merupakan pelayanan terhadap sesama manusia dan Allah. Dengan bekerja manusia memberi pelayanan (kegunaan) kepada masyarakat dalam suatu sistem interdepensi (saling ketergantungan, timbal-balik).

Selain itu, lewat kerja Allah dimuliakan. Artinya, lewat pekerjaan seseorang, orang-orang lain dapat melihat dan merasakan pekerjaan (pemeliharaan, penciptaan) Allah sendiri.

Refleksi

  1. Bagaimana anda memahami kerja? Hanya mencari keuntungan? Sekedar bertahan hidup? Sebuah rutinitas?
  2. Apakah penebusan oleh Yesus Kristus yang anda alami memberi pengaruh dlam menentukan tujuan kerja dan cara anda bekerja?
(Mathyas Simanungkalit, S.Si Teol)
Comments