Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 12 Juni 2011

diposkan pada tanggal 7 Jul 2011 11.17 oleh Essy Eisen
Pentakosta: Makna dan Tantangannya bagi Gereja

Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21

Kapankah hari ulang tahun gereja? Sebagai organisasi, Sinode GKI merayakan ulang tahunnya di Bulan Agustus dan GKI Sinode Wilayah Jawa Barat merayakannya setiap Bulan Maret. Namun, Gereja universal merayakan ulang tahun gereja pada Minggu ini, pada Minggu Pentakosta. Pada hari itu, orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus untuk pertama kalinya tampil di depan umum dengan seruan Yesus adalah Tuhan dan Kristus (Kis 2:36). Itu semua terjadi karena Roh Kudus turun ke murid-murid yang berkumpul di Yerusalam, memberikan kepada mereka kesanggupan untuk berbicara dalam berbagai bahasa manusia dan keberanian untuk tampil ke hadapan umum dengan berita Injil. Dua peristiwa inilah yang kita peringati hari ini: bahwa Roh Kudus sebagai Roh Yesus Kristus hadir secara nyata dan bahwa kehadiran-Nya itu dilihat dalam kumpulan orang-orang percaya, yaitu Gereja.

Kehadiran Roh Kudus dan Gereja itu membawa dua dampak besar. Pertama, kita lihat para Rasul menjadi berani. Mereka yang berhari-hari lamanya menyembunyikan diri dan takut berhadapan dengan masyarakat Yahudi tiba-tiba muncul ke hadapan umum dengan berita yang berani pula, bahwa Yesus yang telah disalibkan itu tidak tetap mati, melainkan bangkit. Dia adalah Tuhan dan Mesias yang dijanjikan. Pernyataan seperti itu dengan mudah akan dicap sebagai hujatan oleh para pemimpin Agama Yahudi. Allah yang disaksikan dalam Taurat dan Perjanjian Lama sekarang diidentikkan dengan sesosok manusia, dan manusia itu adalah Yesus, yang amat dibenci para pemimpin agama.

Kedua, kita lihat para rasul diberikan kemampuan sesaat untuk berbicara dalam berbagai bahasa manusia yang tidak mereka kuasai sebelumnya. Dalam peristiwa Menara Babel di Kejadian 11, dicatat bahwa Tuhan Allah tidak senang menghadapi manusia yang tidak mentaati perintah Allah untuk memenuhi bumi ini. Tuhan Allah kemudian mengacaukan bahasa mereka agar tidak dapat berkomunikasi untuk memencarkan mereka ke seluruh muka bumi. Di peristiwa Pentakosta kita jumpai Allah menjungkirbalikan peristiwa Babel . Ia ingin kembali menyatukan komunikasi manusia yang terpecah-pecah dalam gereja yang didirikan pada hari itu. Ia ingin kita dipersatukan dalam Kristus untuk menjadi saksi-saksi-Nya.

Ketika kita berkumpul di gereja hari ini, kita diingatkan untuk menjadi berani menyaksikan Kristus Yesus, Tuhan kita. Dia adalah pusat pemberitaan gereja dan pusat kehidupan iman kita. Di dalam diri-Nya kita melihat kepenuhan kehadiran Allah dan kita terus dipanggil untuk menyaksikan Dia dalam segala segi kehidupan kita sebagai gereja. Kita juga dipanggil untuk menjadi gereja yang berupaya semakin mengesa. Gereja-gereja masa kini perlu belajar dari peristiwa Pentakosta untuk mengupayakan terwujudnya suatu gereja yang esa, yang tidak dikotak-kotakkan oleh perbedaan-perbedaan buatan manusia seperti organisasi gereja, perbedaan-perbedaan penafsiran yang sering kali sangat remeh sifatnya, dan keegoisan untuk mendapatkan atau mempertahakan jabatan gerejawi. Kita perlu belajar dari Roh Kudus sendiri yang meruntuhkan tembok bahasa yang menyekat manusia sejak peristiwa Babel melalui Pentakosta. Jika Allah sendiri bersedia meruntuhkan tembok penghalang yang dibuat-Nya, mengapa kita tidak bersedia meruntuhkan tembok penghalang yang kita (baca: gereja) buat sendiri?

Sambil mensyukuri pimpinan Allah yang menyatukan GKI Jabar, GKI Jateng dan GKI Jatim menjadi satu Sinode, kita perlu bersama-sama mengupayakan penyatuan gereja yang lebih luas lagi. Tidakkah kita merasa ada yang aneh jika jumlah sinode anggota PGI dari tahun ke tahun terus bertambah, padahal PGI bertujuan membentuk Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia? Pertambahan sinode itu tidak terjadi karena jumlah umat Kristen yang membengkak. Itu terjadi karena perpecahan tanpa henti dari gereja-gereja kita. Upaya penyatuan ini tidak selalu dimulai dari pimpinan sinode. Itu bisa kita mulai sendiri sebagai anggota jemaat. Sudahkah kita menjalin persahabatan dengan orang-orang dari gereja lain di sekitar kita dan berhenti menjelek-jelekkan denominasi lain? Kiranya semangat Pentakosta mendorong kita menjadi saksi Kristus yang berani dan kawan seperjalanan bersama seluruh umat Kristiani.

(Agustian N. Sutrisno)
Comments