Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 12 Agustus 2012

diposkan pada tanggal 10 Agt 2012 01.23 oleh Essy Eisen
Putus Asa?

1 Raja-Raja 19:4-8, Mazmur 34:2-9, Efesus 4:25-5:2, Yohanes 6:35, 41-51

Saat kegagalan dalam hidup dianggap sebagai akhir dari segala-galanya dan kegagalan itu terjadi berulang kali, orang dapat menjadi putus asa. Dalam keputusasaan, semangat hidup menjadi lemah. Pikiran menjadi tidak jernih lagi. Kosong dan tidak bisa fokus dalam kegiatan keseharian hidup. Emosi dipenuhi suasana negatif. Cepat tersinggung dan marah berlarut-larut. Kalaupun ada saran dan nasihat, hati lebih memilih untuk menjadi pesimis, dipenuhi hal-hal buruk yang disimpulkan sendiri. Keadaan ini sungguh tidak memberikan damai sejahtera.

Elia, nabi Allah, ingin mati. Seolah-olah upayanya untuk memperjuangkan apa yang baik dan benar seturut dengan kehendak Allah pada zamannya sia-sia. Elia menarik diri. Di bawah pohon arar, jauh dari wilayah kekuasaan Ahab dan Izebel, ia berbaring, tidur, lelah, capek hati. Allah mengerti dan peduli. Ia mengutus malaikat-Nya kepada Elia. Malaikat itu menyuruh Elia makan dan jalan (1 Raj. 19:4-8). Ke mana? Elia menuju Horeb, tempat berbakti untuk mengingat kehadiran Allah dalam kehidupan. Dari sana Elia melanjutkan karya hidupnya. Allah memberikan kekuatan baru kepada Elia. Kita ingat apa yang dikatakan Pemazmur: “Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.” (Mzm. 34:7).

Kasih Allah yang memelihara kehidupan dan memberikan kekuatan yang baru saat mengalami putus asa, nampak jelas dalam Kristus. Janji-Nya, ialah bahwa setiap orang yang mau datang kepada Kristus akan kenyang dan yang percaya tidak haus lagi. Tentu bukan sekedar pemahaman fisik belaka, tetapi terhubung dengan makna hidup. Di dalam dan melalui Kristus, kita mendapatkan apa yang kita butuhkan untuk mengalami hidup yang bermakna penuh damai sejahtera.

Orang-orang yang berada di sekitar Yesus pada waktu itu memilih untuk mengabaikan Kristus. Arogansi dan cepat menyimpulkan keadaan tidak mampu membuat mata hati mereka jernih dalam melihat keilahian Yesus. Bukan hanya itu, argumen demi argumen membuat mereka kehilangan fakta yang jelas akan pembaruan hidup yang jelas-jelas disediakan Kristus dengan banyak bukti. Telinga mereka digunakan untuk menjelekkan, berdebat, mengabaikan kebenaran. Apa yang baik mereka tolak mentah-mentah. Sungguh sebuah tindakan menarik diri dari kebaikan Allah yang hanya akan berakhir dalam kesusahan dan putus asa (Yoh. 6:41-42).

Kita belajar untuk tidak mengulangi sikap orang-orang yang tidak percaya seperti itu. Kita telah ditarik oleh Bapa, mendengar pengajaran-Nya dan dengan sukacita datang kepada Kristus. Arah tujuan kita adalah hidup yang kekal, maksudnya hidup yang bermakna. Kasih Kristus kini hidup dalam hati kita. Teladan kemanusiaan Kristus dalam relasi antar sesama manusia kita ikuti dan terus lanjutkan. Demikianlah cara hidup yang penuh damai sejahtera.

Surat Efesus 4:25-5:2, kaya dengan nasihat yang akan menolong kita untuk menjadikan Kristus Sang Roti Hidup, tinggal dalam hidup kita. Kita mengasihi karena sudah dikasihi Kristus. Kita mengampuni karena sudah diampuni Kristus. Kita menjadi anak yang penurut, yang kata-katanya benar, yang kalau marah tetap bijak dan cerdas, yang kata-katanya membangun dan senantiasa mengupayakan keramah-tamahan kepada setiap orang.

Jadi, hindarilah kebodohan-kebodohan berikut yang akan membuat kita cepat putus asa:
  1. Arogan dan cepat menyimpulkan keadaan: tertipu dengan keadaan sehingga kita menutup jalan bagi kemungkinan-kemungkinan baru yang Allah anugerahkan bagi kita pada waktu-Nya. 
  2. Banyak argumen tetapi menghindari fakta: cari-cari alasan sehingga kita kehilangan mata rohani untuk mensyukuri berkat-berkat Allah yang ada dalam banyak segi kehidupan. 
  3. Cara mendengar yang jelek: menjelekkan, berdebat, mengabaikan: tutup telinga dan hati bagi kebenaran-kebenaran hidup yang ada dalam Firman Tuhan dan pengajaran Kristus.
(Pdt. Essy Eisen)
Comments